Pencarian populer
Food & Travel

Rusto Tempeh, Pahlawan Indonesia di Jepang (Part 1)

Di tempat eksotik ini, nantinya setiap 10 hari akan diproduksi 50 ribu tempe (Foto: istimewa)

Rustono, bukan orang sembarangan. Meskipun “hanya” memproduksi dan menjual tempe, ia telah menerobos sebuah tembok budaya Jepang yang super ketat. Dari tangannya, tempe kini dapat bersanding dengan semua aneka masakan Jepang. Ia layak mendapat “bintang”.

Bertandang ke calon pabrik tempe milik Rustono di pinggiran, 86 km dari kota Kyoto, Jepang, membuat pengunjung berdecak kagum. Posisinya sekitar 50 meter di bawah jalan raya, persis di mata kaki dari dua bukit penuh pohon pinus yang tak henti melambai. Pabrik yang luasnya 5.000 meter ini berada di wilayah Shiga-ken Otsu-shi Aza Kampu.

Dua puluhan meter di bawah pabriknya nanti, mengalir sebuah sungai berkelok dengan airnya yang super jernih. Angin bertiup dari ujung lembah ke ujung yang lain membuat suasana seakan berada di pinggiran surga.

Tatkala musim dingin tiba, inilah tempat yang super eksotik karena akan berwarna putih akibat salju yang jarang berhenti turun dari langit. Sekop dan garam harus beraksi kalau ingin mencapai pabrik tempe tersebut.

Rusto dan tempeh hasil olahannya (Foto: istimewa)

“Daun-daun pinus dipastikan akan menjadi pemandangan yang menakjubkan sehingga berslfie ria haram untuk diabaikan,” ujar seorang kawan.

Tidak heran, Rustono sengaja membangun sebuah panggung 5 kali 6 meter dengan dua latar belakang: lereng bukit dan pabriknya yang berwarna hijau. Tidak hanya itu, sebuah “podium” sedang dibuat agar mereka yang datang lebih asyik berselfie ria.

Di mata penulis, Rustono memang bukan sekadar pembuat dan pedagang tempe di Jepang, namun juga seorang seniman. Meski jagoan nomor wahid membuat tempe, namun dari mulut pria tersebut selalu nerocos soal-soal budaya hingga filsafat. Duh!

Selain suasana yang begitu magis dan sangat alami itu, yang membuat Rustono kepincut habis membeli lahan di lereng itu adalah air yang mengalir dari perbukitan. Ketika penulis mencoba untuk merasakannya, Rustono malah meminta untuk langsung meminumnya. “Air di sini sangat jernih, bersih dan higienis,” ujarnya sambil menunjukkan alirannya yang tidak pernah henti.

Di musim panas di bulan September lalu, misalnya, suhu perbukitan itu pada kisaran 20 derajat Celcius. Masih terasa sejuk meski di tempat lain relatif panas. Air yang keluar dari pipa-pipa pinggiran bukit terasa seperti air yang keluar dari kulkas saja. Dingin, super bening dan sama sekali tidak berbau.

Calon pabrik tempe terbesar di Jepang (Foto: istimewa)

“Dari sini mas, akan saya tebarkan tempe ke seluruh Jepang. Bukan hanya di kota-kota besar sebagaimana saat ini, namun akan masif ke pojokan Jepang. Saya pengin, orang Jepang akan tidak pernah tidur nyenyak kalau belum makan tempe saya,” katanya sambil terkekeh-kekeh.

Masih menurut Rusto, membuat tempe tidak kalah peliknya dengan membuat keris di zaman Majapahit. Suasana batin harus bersih dari iri dan dengki. Lingkungan nyaris zero dari polusi. Air berkualitas nomor wahid menjadi bahan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Uniknya, Rusto mendesain pabrik tempenya dengan menggunakan kontainer-kontainer bekas. Sepertiga kontainernya dipakai untuk produksi, sepertiga untuk fermentasi, dan sisanya untuk penyimpanan di bawah nol derajat. Dengan semua kondisi tersebut, dijamin tempenya akan sangat berkualitas, menyehatkan, dan sesuai standar warga Jepang

Bagi pria yang dulu pegawai hotel di kota gudeg ini, bergumul dengan tempe sudah menjadi takdirnya. Tempe adalah istri keduanya setelah istri pertama yang berwarganegara Jepang.

Suasana pabrik yang dekat dengan “surga” (Foto: istimewa)

Dari lembah ini, dalam waktu kurang dari satu tahun ke depan, Rustono akan mengepakkan sayap-sayap tempenya. Ia akan membuat lidah warga Jepang menari-nari. Menjadikan orang Jepang jadi kikuk saat menyajikan makanan di atas piring: jika tanpa tempe.

“Dalam setiap 10 hari akan kita produksi minimal 50 ribu tempe. Permintaan di sini sudah semakin besar,” katanya.

Kisah Rustono, yang lebih mengaku asal Jogja ini, adalah kisah perjuangan panjang. Bukan tenar lantaran dapat warisan dari mertua. Rustono yang kini memiliki perusahaan tempe di Korea Selatan, beberapa negara Eropa dan Amerika Latin ini ini, masih terus bermimpi membalikkan impresi “mental tempe” menjadi mental inovasi bangsa Indonesia di luar negeri. ()

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: