Konten dari Pengguna

Perlawanan Perempuan Di Tengah Tekanan Diskriminasi Kesetaraan Gender

A Jovan Syahputra
Seorang Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman. Dan seorang yang peduli akan isu Kesetaraan Gender.
24 November 2025 21:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perlawanan Perempuan Di Tengah Tekanan Diskriminasi Kesetaraan Gender
Kepedulian akan isu Kesetaraan Gender. Terutama bagi perempaun
A Jovan Syahputra
Tulisan dari A Jovan Syahputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://dpppa.manadokota.go.id/asset/foto_berita/kesetaraan_gender.jpg
zoom-in-whitePerbesar
https://dpppa.manadokota.go.id/asset/foto_berita/kesetaraan_gender.jpg
ADVERTISEMENT
Perjuangan perempuan dalam menggapai kesetaraan gender telah berlangsung lama dan penuh tantangan. Meski kemajuan berbagai regulasi dan kesadaran sosial mulai terlihat, diskriminasi terhadap perempuan masih tersebar luas dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kekerasan dan pelecehan, stereotip sosial yang melemahkan peran perempuan, hingga ketimpangan dalam dunia politik serta pengambilan keputusan global. Sebagai seorang laki-laki yang ingin memperjuangkan kesetaraan gender, penting untuk memahami konteks perjuangan ini secara mendalam agar solidaritas dapat dibangun secara efektif.
ADVERTISEMENT
Latar belakang perjuangan perempuan tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang diskriminasi gender yang mengakar kuat dalam budaya dan struktur sosial di banyak negara. Secara yuridis, berbagai instrumen hukum nasional dan internasional telah berusaha menegaskan hak-hak perempuan. Misalnya, Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) yang diratifikasi oleh banyak negara, termasuk Indonesia, menjadi tonggak penting bagi perlindungan hak-hak perempuan. Di tingkat nasional, berbagai undang-undang pengakuan kesetaraan gender mulai diberlakukan, namun implementasinya seringkali menghadapi hambatan, baik dari aspek budaya maupun birokrasi.
Situasi ekstrem yang menimpa perempuan dalam zona konflik menunjukkan betapa gentingnya posisi mereka dalam konteks kekerasan dan diskriminasi. Di Gaza dan Sudan, misalnya, perempuan tidak hanya menjadi korban konflik bersenjata, tetapi juga mengalami penindasan struktural yang berlapis, mulai dari kekerasan seksual sampai pembatasan kebebasan bergerak dan berpendapat. Kisah mereka bukan hanya sebuah gambaran penderitaan, tetapi juga seruan mendesak bagi komunitas global untuk menguatkan perlindungan hak-hak perempuan di wilayah konflik yang sering terabaikan.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks sosial yang lebih dekat, insiden seperti pernyataan kontroversial Direktur Nasional Miss Universe Thailand yang merendahkan perempuan dari Miss Universe Meksiko membuka mata kita tentang betapa masih kuatnya stereotip dan chauvinisme di berbagai level masyarakat, termasuk di ajang yang seharusnya merayakan keberanian dan keberagaman perempuan. Tidak kalah penting, kasus pelecehan seksual yang marak terjadi di Indonesia menunjukkan betapa wajah diskriminasi gender masih merajalela di ranah privat maupun publik. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk menghapuskan stereotip perempuan sebagai pihak yang lemah dan harus dilindungi secara paternalistis.
Stereotip perempuan yang lemah dan pasif merupakan salah satu akar utama ketidaksetaraan gender. Pandangan ini tidak hanya membatasi perempuan secara sosial, tetapi juga mempersempit ruang geraknya dalam politik dan ekonomi. Justru dengan menghapus stereotip tersebut, perempuan dapat berperan aktif dan sejajar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pemerintahan dan pengambilan kebijakan global. Laki-laki memiliki peran penting untuk mengambil sikap proaktif mendukung perubahan ini dengan menentang sikap dan perilaku diskriminatif, sekaligus menjadi sekutu aktif dalam mencapai kesetaraan.
ADVERTISEMENT
Peran perempuan dalam dunia perpolitikan global kini semakin diakui sebagai kunci pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Contoh nyata dapat dilihat dari negara-negara yang mengusung kebijakan berbasis gender, serta kader perempuan yang menduduki posisi strategis di pemerintahan maupun organisasi internasional. Namun, meskipun kemajuan sudah ada, tantangan semakin kompleks karena perbedaan interpretasi kesetaraan gender antar negara. Di beberapa budaya dan sistem politik, kesetaraan gender masih dipandang secara tradisional atau bahkan dianggap mengancam tatanan sosial. Oleh karena itu, dialog antarbangsa yang menghargai keberagaman budaya sembari menegakkan prinsip-prinsip hak asasi manusia sangat penting untuk mengharmonisasi pemahaman dan praktik kesetaraan gender.
Melihat berbagai tantangan tersebut, apa yang harus dilakukan oleh perempuan dan seluruh elemen masyarakat ke depan? Pertama, perempuan harus terus memperkuat posisi mereka dengan pendidikan, pelatihan, dan jaringan solidaritas yang luas, termasuk dukungan dari laki-laki sebagai sekutu. Kedua, pengarusutamaan gender dalam kebijakan publik harus tegas ditegakkan, diiringi dengan sistem hukum yang mampu melindungi dan menegakkan hak-hak perempuan secara efektif. Ketiga, perlawanan terhadap diskriminasi harus dikembangkan melalui kampanye yang menggugah kesadaran publik dan mendorong perubahan budaya yang lebih progresif.
ADVERTISEMENT

Peran Laki-Laki

Peran laki-laki dalam menyuarakan kesetaraan gender juga harus semakin intensif dan terorganisir. Laki-laki perlu mendobrak tradisi patriarki dengan menjadi bagian dari solusi. Hal ini termasuk mengkritisi sistem sosial yang menempatkan perempuan pada posisi lemah, serta mendukung peran perempuan dalam leadership dan pengambilan keputusan. Solidaritas gender harus menjadi gerakan bersama yang memadukan suara laki-laki dan perempuan, tidak hanya demi keadilan, tetapi juga demi kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
Indonesia dan negara-negara lain menghadapi tugas berat untuk menyelaraskan aspirasi ini dengan realitas sosial yang kompleks. Namun, dengan semangat perlawanan yang terus menyala, terutama dari perempuan dan para pendukung setianya. Perubahan positif bukanlah hal mustahil dalam membangun masa depan yang inklusif dan adil, kita harus menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam narasi kesetaraan gender. Keberhasilan perlawanan mereka bukan hanya soal mempertahankan hak-hak yang selama ini terabaikan, tetapi juga mengubah struktur sosial yang mendiskriminasi. Laki-laki yang aktif menolak diskriminasi dan bekerja sama dengan perempuan menjadi mitra sejati dalam perjuangan ini. Bersama-sama, mereka dapat menciptakan dunia di mana kekuatan, keberanian, dan aspirasi perempuan mendapatkan tempat yang setara dan dihormati.
ADVERTISEMENT
#Stopnormalisasipatriarki
#Kesetaraangender