Eksplorasi Wisata Kota Tua: Bahan Pembelajaran (Seri 2: City Tourism)

Belajar tentang Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebijakan Publik
Konten dari Pengguna
6 Juli 2021 12:25
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Aang Afandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Eksplorasi Wisata Kota Tua: Bahan Pembelajaran (Seri 2: City Tourism) (68256)
zoom-in-whitePerbesar
Ragam aktivitas outdoor di Kawasan Kota Lama Semarang, menikmati bangku - bangku taman yang bisa jadi tempat "aso" (istirahat) sejenak, sembari memperhatikan kesibukan kota lama. Pedestrian, tanaman dan bangunan - bangunan cagar budaya layak dicermati dan jadi bahan menarik diskusi bersama. (Foto Aang Afandi)
ADVERTISEMENT
Menemukan sesuatu di kota Tua atau kota lama, apa saja yang dicari dari wisata ini? Pengetahuan dan pengalaman baru atau mungkin kenangan lama yang masih belum hilang. Karena orang tuanya pernah tinggal di kota ini, karena zaman SMA sering bermain di kota tua ini atau mungkin kenangan cinta monyetnya berawal dari kota tua ini. Nostalgia itu yang ingin kembali diputar, bak film masa lalu yang dirilis ulang. Ataupun gambaran cerita sejenis. Jika demikian adanya, ada dua hal yang ingin didapatkan. Pertama, menemukan dan membangun rasa, membangun kembali memori masa lalu dalam realita sekarang. Kedua, memahami dan menggali pengetahuan akan kota tua. Hati dan pikiran dilibatkan, menyirami hati dan mencerahkan pikiran. Poin itulah yang mungkin ingin didapatkan dari keberadaan kota tua, walaupun bisa berkembang lebih luas lagi.
ADVERTISEMENT
Lantas apa saja yang kemungkinan dilakukan? Coba kita ilustrasikan dari Kota Lama Semarang.
Diawali dari Kantor Pos Nol kilometer Semarang, berjalan ke timur, melewati Jembatan Kali brewok. Berhenti sejenak, berfoto dan ngobrol ke sana kemari. Menyeberang, di depan Kantor Bank Mandiri, dengan bangunan tua yang unik, Ketika lewat senja, suasananya tambah hangat dengan penyinaran lampu putih kekuningan yang menambah suasana klasik. Mampu menghasilkan foto – foto yang unik.
Berjalan ke selatan, belok ke arah timur. Sampailah di Gereja Blenduk, setiap sudut area ini memang menarik untuk dilihat, dicermati dan dinikmati. Terkadang kita harus mendekat untuk melihat detilnya terkadang kita harus menjauh untuk mendapatkan visual yang jauh lebih luas dan komplet. Gembok, handle pintu dan jendela yang unik, bahan kayu yang kokoh dan besar dan kaca – kaca yang digunakan, semuanya bisa mencuri waktu kita untuk dipandangi. Begitu mata ini melihat lanskap yang lebih luas, maka kita dibawa pada bangunan – bangunan lama dengan wujud yang kokoh, tembok tebal, garis – garis yang tegas pada setiap sudutnya dan ornamen setengah lingkaran yang mempercantik bangunan.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa bagian tertentu yang menyediakan kursi – kursi taman yang merupakan bagian dari street furniture, memanjakan untuk sejenak istirahat, menyeruput minuman kemasan yang dibawa. Sembari menikmati, melihat pengunjung lainnya yang asyik dengan kesibukannya masing – masing. Ada yang swa-foto, saling foto, ataupun mendokumentasikan sekelilingnya dalam format video. Pedestrian dibuat bukan dari keramik, melainkan kombinasi semen dan kerikil halus tertata apik, unik dan tidak licin, memenuhi fungsi pedestrian. Sementara jalan yang dibuat dengan bahan batu andesit menjadikan lebih unik, menarik menjadi bagian latar foto. Jalan – jalan dipercantik dengan lampu – lampu kota seragam klasik, dikombinasi dengan pembatas jalan dari bahan logam setinggi 90-an cm dengan kombinasi rantai, untuk memisahkan space pejalan kaki dan kendaraan bermotor.
ADVERTISEMENT
Sementara beberapa pohon keras sudah ditanam. Jika di Malioboro ditanami pohon Asem, maka di Kota Tua semarang ini mencobanya dengan Pohon Pule (Alstonia scholaris) yang biasa ditanam di daerah Jawa dan sumatera. Suasana lingkungan yang semakin hijau dan asri menjadikan kita lebih betah.
Berikutnya di taman Srigunting ini seakan menjadi salah satu pusat interaksi di Kota Tua. Terdapat Gedung Marba, dekat dengan Geraja Blenduk, dan Spiegel serta Gedung Odetrap disisi utara taman.
Menikmati kafe menjadi pilihan menarik. Ada Spiegel Bar & Resto di sisi timur taman. Di tengah – tengah terdapat bar dan cake nya, ada ice latte, mojhito dan aneka pilihan minuman lainnya. Menikmati es kopi sembari menikmati keriuhan jalan, dari balik jendela kaca yang luas. Namun masih cukup beragam pilihan tepat nongkrong ada Tekodeko koffiehuis, Hero Kopi Indonesia ataupun lainnya. Bila ingin makanan berat, kita bisa mengunjungi Ikan Bakar Cianjur atau Rumah Makan Pringsewu. Sementara bila ingin dihangatkan dengan live music, maka ada Marabunta yang melegenda.
ADVERTISEMENT
Bila ingin menikmati suasana indoor, daric agar budaya ini maka diluar menikmati cafe atau resto, salah satunya adalah mengunjungi museum atau gallery. Di Kota Lama Semarang terdapat Old City 3D Art, walaupun akhirnya memaknai kota tuanya barangkali justru terabaikan karena konsep yang berbeda.
Bila Kembali pada konsep wisata, what to see? Melihat bangunan tua dengan keberagaman. What to do? Jalan, nongkrong, ngopi atau makan. What to buy? Kopi, makanan, ataupun makan khas. Di Kawasan Kota lama ini terdapat Wingko babat cap Kereta api dan NN Meniko yang melegenda. Where to stay? Kita bisa tinggal di hotel atau sejenisnya di Kawasan kota lama ini, ada bobobox, atau beberapa model B&B. inilah yang barangkali bisa dikembangkan seperti halnya di Kawasan George Town Penang, yang menyediakan hotel kualitas bintang 3 sampai 4 di Kota Tua tersebut.
ADVERTISEMENT
Dari konsepsi itu, barangkali yang kita tangkap adalah sesuatu yang berasal dari cagar budaya yang wujud atau tangible asset. Padahal intangible asset, tentunya tak bisa diabaikan, cagar budaya yang tak Nampak. Apakah tak ada tarian yang berkembang, music tradisional masa lalu, masakan – masakan masa lalu yang melegenda di Semarang. Apakah atraksi memasak ini tidak bisa “diputar ulang kembali” direkonstruksi menjadi sebuah wisata gastronomi yang unik dan menarik. Di Semarang terdapat pabrik gelas yang melegenda, di mana gelas – gelas tersebut menggunakan motif batik, apakah ini tidak menarik untuk diangkat menjadi atraksi menambah pengalaman baru bagi pengunjung.
Bagaimana halnya, masyarakat kebanyakan yang tinggal di area kota lama ini, pasti mereka punya kebiasaan, ada pakaian khas, ada gaya cara berdagang ala kaki lima yang bisa dikemas sedemikian rupa menjadi rangkaian sejarah yang menarik.
ADVERTISEMENT
Menyempurnakan tangible asset dengan intangible asset menjadi PR Bersama, barangkali siklus hidup wisata kota lama ini akan semakin Panjang, orang dalam beberapa tahun ke depan tidak bosan dengan kota tua, karena selalu ada yang baru. Ini memang cerita tentang masa lalu, namun tak lantas mengabaikan inovasi yang berkelanjutan. Menemukan detail masa lalu, lantas merekonstruksi dan menyesuaikan dengan era kini bagian dari inovasi.
Barangkali minggu – minggu ini kita hanya bisa merekonstruksi kenangan Kota Lama Semarang ini melalui channel youtube dan mencari artikel – artikel di media online. Namun tak ada salahnya, bukalah salah satu lapak online, Pesan Wingko Babat Semarang dan Lumpia dalam kemasan vakum. Untuk nostalgia tentang Semarang kali ini dari rumah saja, sembari menikmati legitnya Wingko, gurihnya lumpia hangat dan secangkir kopi tubruk. Semoga kenangan masa lalu bisa terobati, dari rumah saja.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020