Opini & Cerita16 September 2020 20:42

Negara Ini Tidak Gagal

Konten kiriman user
Negara Ini Tidak Gagal (822993)
Bendera merah putih berkibar saat terjadinya Halo Matahari di Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi, Jumat (28/8/2020). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
Komunitas produsen teror di negara manapun berorientasi mendapatkan pengakuan dari publik kalau komunitasnyalah yang berada di jalan kebenaran dan mereka berusaha menunjukkan pada masyarakat atau bangsa-bangsa di dunia, bahwa negara yang berbeda ideologi atau “madzhab” dengannya telah gagal melindungi warganya.
ADVERTISEMENT
Itu artinya melalui teror yang dilakukan para teroris, mereka ini bermaksud menunjukkan pada publik, bahwa negara-negara manapun yang tidak seideologi dengannya adalah negara yang gagal. Mereka membuat term yang praktis dengan pertanyaan bagaimana bisa distigma sebagai negara kuat kalau tidak benar-benar serius dalam memedulikan keselamatan (hak hidup) warganya.
Pemikiran praktis untuk meracuni warga dunia yang disebar para pelaku teror itu, bahwa negara seperti Indonesia ini diposisikan (“diterdakwakan”) sebagai subyek yang gagal serius, karena tidak mampu menghadapi berbagai bentuk kekerasan atau distatuskan sebagai penyebab terdegradasinya atmosfir yang mendamaikan dan menyelamatkan warganya. Ini kemudian yang membuat mereka membuat konklusi dengan kacamata kuda karena memposisikan ideologi Pancasila sebagai “sumber dari segala sumber” tidak akan pernah kuatnya negara ini.
ADVERTISEMENT
Bangsa Indonesia yang harus cerdas membaca “kamata kuda” yang dilempar para teroris. Mereka (penyebar teror) itu memang sangat menginginkan supaya negara ini di mata rakyatnya bukanlah organisasi yang kuat dan dicintainya, tetapi sebagai organisasi yang lemah dan mementingkan dirinya sendiri.
Misi mereka, kalau negara sampai dibenci oleh rakyatnya, maka negara ini tak ubahnya suatu bangunan, meski secara ragawi masih masih menjulang tinggi, namun sebenarnya kropos. Negara ini ditunjukkan oleh para pelaku teror terbatas sebagai organisasi yang eksklusif dan sibuk berburu kepentingan diluar urusan kepentingan asasi rakyat.
Menyikapi paradigma “kacamata kuda” kaum teroris itu, negara dan masyarakat (pemeluk agama) berkewajiban mendesain sikap kooperatif yang serius dalam melawan segala bentuk teror.
ADVERTISEMENT
Sikap kooperatif antara rakyat (pemeluk agama) dengan negara itu akan menjadi benteng yang sangat kuat dalam menghadapi atau mengalahkan setiap pelaku teror yang bermaksud menyebarkan “ideologisnya” secara radikalistik dan eksklusif.
Pelaku teror tidak akan terus bermunculan atau mengembangkan “kreativitasnya” dalam memproduksi dan melanggengkan berbagai terornya, bilamana para pemeluk agama mengembangkan pemahaman tentang kebermaknaan kesetiakawanan (nilai-nilai kooperatif) dalam keragaman dan keragaman dalam kesetiakawanan.
Selain itu, negara juga berkewajiban terus aktif mendampingi dan melindungi aktivitas sosial dan ritualitas yang dijalankan dan dikembangkan oleh masing-masing pemeluk agama. Kalau negara terus melakukan aktivitas demikian, para pelaku teror yang berusaha mengganggunya, niscaya tidak akan meneruskannya.
Negara dan rakyat itu harus paham pesan Cicero yang menyebutkan, bahwa kebaikan bagi orang banyak adalah hukum tertinggi. Siapa saja elemen negara atau pemeluk agama yang berlomba berbuat baik, adalah identik dengan melaksanakan hukum tertinggi di dunia.
ADVERTISEMENT
Ajaran Cicero itu juga mengisyaratkan, bahwa setiap penyayang ideologi negara ini, wajib mencerdaskan dirinya, bahwa berbuat baik kepada orang lain merupakan “ibadah universal” (berketuhanan, berkemanusiaan, berkeadaban, berkadilan, berkebinekaan, dan berkerakyatan) yang bisa menghadirkan keharmonisan dan kebahagiaan dalam keragaman. Tidak boleh terjadi, karena keragaman dan “perbedaan” visi dengan negara atau dimensi teologis dengan pemeluk agama tertentu, lantas teror diberikan kesempatan secara liberal untuk menghancurkan yang lainnya.
Ketika negara melalui Densus 88 terus berupaya memasuki lorong-lorong teroris dan kemudian mematahkan berbagai rencana aksi kekerasannya, maka ini artinya negara tidak gagal. Kaum terorislah yang berusaha membenarkan radikalisme supaya pintu masuk menghancurkan ideologi bangsa-bangsa di muka bumi bisa disambut rakyat.
Itu maknanya kebaikan bagi orang banyak sudah demikian sering disingkirkan atau digilas oleh sebagian kecil orang yang mengklaim diri dan kelompoknya sajalah yang paling benar dan berhak memegang kunci surga. Klaim kebenaran (truth claims) demikian tidak bisa dijadikan sebagai hukum tertinggi. Hukum tertinggi adalah kegigihan menyebarkan kedamaian dan cinta kasih secara universalitas, dan bukan memenangkan (membenarkan) keyakinan atau kebenaran subyektifnya..
ADVERTISEMENT
Supaya kita termasuk sekumpulan orang yang melaksanakan dan mengembangkan hukum tertinggi (kebaikan), maka sekelompok orang yang memproduksi teror, haruslah kita lawan bersama-sama. Kasus “September kelabu” yang pernah menimpa Amerika belasan tahun lalu (11 September 2001), harus kita jadikan refleksi, bahwa kekerasan global yang dilakukannya yang di antara bermisikan istimewa ingin menguasai dunia atau bangsa manapun dengan “ideologisnya”, kalau yang “dijualnya” inilah yang akan menciptakan tata dunia baru yang mengerikan atau menciptakan masa kegelapan global (global dark era).
----------------------------------------------------------------------
Oleh: Abdul Wahid
Pengajar program pascasarjana Unisma Malang, serta Penulis buku dan Pengurus Pusat APHTN-HAN.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white