Pencarian populer
USER STORY
22 Juli 2018 14:58 WIB
10
1

Berat Divonis, Dimanjakan di Lapas

Kalapas Sukamiskin Wahid Husen resmi ditahan KPK.

Kamus hukum Black’s Law Dictionary mendefinisikan suap (bribery) sebagai “tindakan menawarkan, memberikan, menerima, atau meminta nilai dari suatu barang untuk mempengaruhi tindakan pegawai lembaga atau sejenisnya yang bertanggung jawab atas kebijakan umum atau peraturan hukum.”

Suap dalam UU No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap diatur dalam Pasal 2 (pemberi) dan Pasal 3 (penerima) yang pada intinya menerangkan bahwa suap merupakan tindakan "memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum".

Juga "menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum".

Catatan akhir tahun 2017 yang dirilis KPK menyebut kasus suap tetap mendominasi perkara korupsi yang ditangani. Sebanyak 93 perkara suap yang ditangani KPK di 2017, meningkat dibanding tahun 2016 dengan 79 perkara.

Suap, Perilaku Berulang

Kasus OTT KPK terhadap Kalapas Sukamiskin Bandung, Wahid Husen, bersama beberapa orang pada Sabtu (21/07) menunjukan praktik suap masih marak terjadi. Kasus ini mengingatkan kita pada kasus kamar mewah Artalyta Suryani di Rutan Pondok Bambu, Bandar Narkoba Freddy Budiman di LP Cipinang, dan terpidana kasus korupsi Pajak Gayus Tambunan.

Mereka menikmati kamar tahanan dengan fasilitas mewah akibat kongkalikong dengan petinggi Lapas/Rutan, bertentangan dengan semangat efek jera pemidanaan.

Miris dan menggelikan ketika membaca berita yang menyebut bahwa Wahid Husen tertawa-tawa saat diperiksa KPK, seolah praktik itu biasa dilakukan, tidak ada rasa malu sedikitpun ditunjukan.

- -

Dari sikapnya, publik bisa menduga, jika sebagai Kalapas, Wahid Husen telah terbiasa menjalankan praktik ini sejak lama. Padahal ia adalah pimpinan sebuah Lembaga Pemasyarakatan paling populer di seantero negeri karena menjadi tempat berkumpulnya maling kelas kakap (koruptor).

Pengawasan Lemah

Kita patut heran dan kecewa dengan berita penangkapan ini. Pihak yang paling kecewa adalah KPK. Mereka berkeringat dan berdarah-darah menangkap koruptor, setelah itu menuntut menggunakan pasal maksimal dengan semangat pemidanaan berat, tapi pejabat Lapas seperti Wahid Husen ini melecehkan semangat itu dengan memanjakan mereka, bak raja dan ratu. Lantas apa yang salah?

Pertama, kelemahan undang-undang. UU Suap bertentangan dengan semangat pemidanaan bagi pelaku suap. Pasal 3 UU Suap (penerima) hanya memberi hukuman maksmal 3 (tiga) tahun penjara kepada penerima suap yang adalah penyelenggara Negara.

Meskipun KPK lebih mengacu pada Pasal 12 UU Tipikor yang memuat ancaman maksimal 20 tahun penjara kepada penerima suap. Mestinya UU Suap dicabut saja agar tidak menimbulkan dualisme hukum dalam delik suap.

Delik suap dalam UU Suap dan UU Tipikor juga tidak mengatur pemberatan sanksi pidana bagi penegak hukum dan penyelenggara negara yang dibagi berdasarkan berat-ringan tanggungjawabnya. Dalam arti, pidana bagi Wahid Husen sama beratnya dengan seorang PNS biasa yang menerima suap, padahal tanggungjawabnya berbeda.

Wahid Husen bukan PNS biasa, ia adalah seorang Kalapas yang bertanggungjawab terhadap berhasil tidaknya penerapan sanksi pidana terhadap seorang narapidana.

- -

Kedua, lemahnya pengawasan. Kasus Wahid Husen kembali mencoreng wajah Kemenkumham, seperti kasus Artalyta, Freedy dan Gayus. Kita patut mempertanyakan model pengawasan yang diterapkan di Lapas Sukamiskin dan Lapas lainnya.

Pertanyaan besarnya adalah, di Sukamiskin saja bisa kecolongan, bagaimana dengan Lapas-lapas lainnya di seluruh Indonesia? Bisa jadi kasus seperti ini banyak, namun kurang terekspos, sehingga pengawasan menjadi lemah.

Persoalan lemahnya pengawasan di Rutan/Lapas adalah persoalan klasik yang tidak pernah selesai. Bagi Kemenkumham, ini adalah peer terberat bagaimana merumuskan model pengawasan melekat yang efektif dan maksimal.

Semangatnya bertumpu bukan pada siapa yang hendak di mata-matai, tetapi bagaimana sistem tersebut mencegah terjadinya praktik kongkalikong antara pejabat Lapas dengan narapidana berduit.

Di sini integritas seorang pejabat Lapas/Rutan menjadi kata kuncinya. Berarti proses seleksi seorang pejabat Lapas/Rutan menjadi sangat penting. Seorang Kalapas/Karutan yang melihat korupsi sebagai musuh kemanusiaan, bukan sebagai teman yang harus dimanjakan.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.22