Pencarian populer

Analisis: Sederet Masalah yang Diperlihatkan Timnas Italia

Pemain Italia berdiskusi pada laga versus Swedia. (Foto: Kai Pfaffenbach/REUTERS)

Sesaat setelah babak pertama Tim Nasional (Timnas) Swedia vs Italia, Sabtu (11/11/2017) dini hari WIB, usai, Opta mencuitkan sebuah informasi.

Isinya kira-kira begini: Italia hanya melepaskan satu percobaan pada 45 menit ketika menghadapi Swedia. Catatan terburuk mereka pada 45 menit pertama sebelumnya adalah 0, percobaan ketika menghadapi Spanyol pada kualifikasi Piala Dunia 2018 di bulan Oktober 2016.

Melihat penampilan Italia pada leg I play-off Piala Dunia 2018 zona Eropa itu, angka yang dicatat Opta memang tidak aneh. Meski begitu, angka tersebut adalah isyarat yang buruk bagi Italia, negara yang empat kali memenangkan Piala Dunia.

Apa yang ditampilkan Italia memang jauh dari "standar“ Italia. Alih-alih memainkan pertahanan kokoh seperti yang mereka tunjukkan biasanya, pertahanan mereka justru berlubang. Pun demikian dengan lini depan yang tak berkontribusi banyak.

Pelatih Italia, Gian Piero Ventura, sendiri tak mengubah pakem utamanya. Formasi 3-5-2 tetap menjadi pilihan eks pelatih Torino tersebut. Ia kembali memainkan Gianluigi Buffon, Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini di belakang.

Di tengah, ia memainkan Marco Parolo, Daniele De Rossi, dan Marco Verratti. Dua sisi lapangan Italia diisi oleh Antonio Candreva dan Matteo Darmian. Sedangkan di lini depan, Ventura memainkan Andrea Belotti dan Ciro Immobile.

Melihat susunan pemain yang diturunkan, Ventura sebenarnya tidak memiliki kesalahan. Tetapi, melihat rekam jejak pemain-pemain yang ia mainkan dalam starting line up dalam beberapa laga terakhir dan gaya bermain Swedia, Italia memang pantas kalah.

Evaluasi pertama pantas dilakukan untuk lini belakang. Dari tiga pemain yang dimainkan sebagai bek, Bonucci dan Chiellini layak untuk dikritisi. Bonucci, yang memulai debut sejak 2010, beberapa kali menunjukkan bahwa kemampuannya sudah begitu menurun.

Masalah Bonucci pada pertandingan ini terletak pada keputusannya yang jauh menurun. Pada beberapa momen, ia kerap meninggalkan dua rekannya yang lain, Barzagli dan Chiellini, untuk berduel dengan penyerang lawan, yang jauh lebih cepat.

Persoalan lini belakang Italia tidak hanya terletak pada Bonucci. Rekan Bonucci di sektor bek tengah, Chiellini, juga tak lepas dari beberapa masalah. Kecepatan dan indisplinernya Chiellini di sektor bek tengah sebelah kiri bahkan menjadi masalah terbesar Italia.

Tingginya atribut Chiellini untuk menyerang membuatnya kerap bertabrakan dengan Matteo Darmian yang cenderung statis di posisinya. Oleh karena itu, tak heran jika sisi kanan penyerangan Swedia menjadi daerah yang paling banyak mendulang angka untuk percobaan serangan melalui umpan silang dengan total lima umpan silang.

Di sektor tengah, masalah ada pada trio Italia yang tak bekerja sebagaimana mestinya. Hal pertama yang patut dikritisi adalah keberadaan De Rossi. Bermain sebagai gelandang perebut bola, De Rossi hanya sekali memenangkan duel udara.

Dua pemain tengah lain, Verratti dan Parolo juga bermain sama tak apiknya. Parolo, yang dimainkan sebagai box to box midfielder, begitu minim berada di dalam kotak penalti Swedia. Begitupun Verratti yang tampak tak nyaman bermain di posisinya.

Masalah Verratti sebenarnya bisa jadi pelik. Pasalnya, selain hanya mencatatkan dua umpan kunci, Verratti juga minim mendapatkan ruang gerak lantaran selalu diisolasi oleh Albin Ekdal ketika memasuki daerah permainan Swedia.

Buruknya penampilan Italia semakin tergambar dari penampilan lini depan yang diisi oleh Belotti dan Immobile. Tampil bersama selama 65 menit, Belotti dan Immobile gagal menunjukkan kombinasi yang diharapkan.

Selama 65 menit bersama, kombinasi Immobile dan Belotti begitu buruk. Selain kerap salah membaca posisi satu sama lain, pilihan Ventura untuk mengirim banyak umpan silang ke kotak penalti Swedia membuat kedua pemain itu gagal mendapatkan peluang untuk mencetak gol karena kalah postur dibanding dua bek tengah Swedia.

Dengan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh Italia, Swedia hanya butuh waktu untuk mencetak gol. Tanpa sebuah skema yang benar-benar cermat, pemain Italia dengan sendirinya melakukan kesalahan untuk membantu Swedia mencetak gol.

Meski demikian, dari 11 pemain yang dimainkan oleh Jan Olof Andersson, bukan berarti semuanya bermain biasa saja. Ada beberapa pemain yang layak mendapat kredit, seperti Emil Forsberg dan Ludwig Augustinsson.

Forsberg, yang dimainkan sebagai gelandang sayap kiri, berperan besar atas terciptanya serangan-serangan Swedia. Ia tak hanya berkontribusi atas kocar-kacirnya lini belakang Italia, tetapi juga atas peluang yang didapatkan rekan-rekannya.

Di sisi lain, Augustinsson berperan besar atas buruknya sisi kanan Italia dalam penyerangan. Augustinsson tak hanya sabar dalam menunggu pergerakan Antonio Candreva, tetapi juga pandai membaca aliran bola yang dilepaskan oleh pemain lain dari daerah permainannya.

Kemenangan ini memang bukan penegasan bahwa Swedia berhasil mengungguli taktik Italia, karena secara taktik mereka tak benar-benar istimewa. Kemenangan ini sendiri menjadi pembelajaran bagi Italia bahwa perubahan perlu dilakukan oleh Ventura.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: