Pencarian populer
USER STORY
13 Desember 2018 3:56 WIB
0
0
Depot Castaway dan Sejarah Kelam Clipper Route
Banyak kapal mengalami kecelakaan di clipper route dan akhirnya terdampar di depot Castaway.
Foto: commons.wikimedia.org
Sebelum Terusan Suez dan Kanal Panama dibuka, kapal-kapal yang berlayar dari Australia dan Selandia Baru menuju ke Inggris mesti melakukan perjalanan berbahya melalui perairan dingin Samudera Antartika. Menghadapi angin besar, hantaman ombak raksasa, dan melewati gunung es, banyak kapal berusaha mati-matian menaklukkan clipper route alias Rute Pemotong.
Dalam ilustrasi sederhananya, Rute Pemotong mengharuskan kapal dari Inggris pergi ke Cape Horn yang merupakan ujung paling selatan di Chili, Benua Amerika. Dari sana, kemudian melaju Selandia Baru atau Australia dan pulang melalui jalur yang sama.
Jika semua berjalan lancar, kapal-kapal akan muncul kembali tanpa cedera di Inggris. Namun, tidak semuanya bernasib baik sebab banyak kapten yang membabi buta terus melawan tantangan laut tanpa jeda.
Kapal-kapal terkoyak usai menabrak pulau-pulau dan gunung es yang tak diketahui; Grafik yang tidak akurat telah bertanggung jawab atas banyak kecelakaan tersebut.
Sebagai contohnya, pada 1864, dua kapal bernama Grafton dan Invercauld kandas dan awak kapal yang selamat sama-sama terdampar di Pulau Stewart, Selandia Baru. Lalu, dua tahun kemudian, kapal dari Amerika bernama General Grant hancur di pantai barat Kepulauan Auckland (masih di Selandia Baru) dengan hanya 10 yang selamat dari 83 orang.
Maka, ketika pemerintah Selandia Baru mengetahui banyak kru dan penumpang yang terdampar daerah terpencil, dibuatlah depot-depot darurat yang tersebar di Auckland, Campbell, Antipodes dan Kepualaun Bounty. Tempat-tempat penampungan kecil ini, yang disebut depot castaway, diisi dengan makanan kaleng, biskuit, pakaian, selimut, peralatan memancing, obat-obatan, peralatan, senjata dan amunisi.
Beberapa depot dilengkapi dengan perahu untuk memungkinkan orang yang terdampar dapat mencapai depot lainnya jika persedian pangan telah habis. Pemerintah Selandia Baru juga membebaskan hewan-hewan ternak seperti kambing, babi, dan kelinci, untuk hidup liar di pulau-pulau itu agar mudah diburu oleh pengembara.
Selama lima puluh tahun, setiap enam bulan sekali, kapal uap pemerintah akan memeriksa semua depot dan mengisi kembali persediaan. Bila beruntung, mereka yang terdampar akan dapat pulang setelah diselamatkan. Program tersebut akhirnya terhenti pada 1927, ketika kapal-kapal modern telah menemukan banyak rute baru yang lebih aman ketimbang clipper route.
Sumber: theguardian.com | worldatlas.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: