News
·
19 Oktober 2020 16:39

Saat Komunisme Menjadi Kambing Hitam atas Kerusuhan Antar Ras

Konten ini diproduksi oleh Absal Bachtiar
Saat Komunisme Menjadi Kambing Hitam atas Kerusuhan Antar Ras (138063)
Orang-orang kulit putih mengerumuni korban kulit hitam yang dibakar dalam kerusuhan di AS pada 1919 | Wikimedia Commons
Pada 27 Juli 1919, seorang pria kulit putih melemparkan batu ke arah Eugene Williams yang berusia 17 tahun. Williams ialah seorang anak laki-laki kulit hitam yang hanyut di Pantai Chicago, Amerika Serikat. Williams sedang terapung di atas rakit, saat lemparan itu menyebabkannya tergelincir, tenggelam, dan tewas.
ADVERTISEMENT
Ketika polisi menolak untuk melakukan penangkapan, kemarahan komunitas kulit hitam tak terbendung. Sikap penegak hukum memancing protes dan kerusuhan selama seminggu. Orang-orang kulit putih di Kota Chicago pun menanggapi serangan dari kulit hitam dengan balasan kekerasan.
Selama beberapa hari berikutnya, kerusuhan pecah antara geng kulit hitam dan kulit putih. Terutama di kawasan South Side yang menjadi titik kerusuhan paling brutal. Pada saat kekerasan berakhir tanggal 3 Agustus 1919, 15 orang kulit putih dan 23 orang kulit hitam telah terbunuh dan lebih dari 500 orang terluka. Sekitar 1.000 keluarga kulit hitam juga kehilangan rumah mereka ketika rumah mereka dibakar oleh para perusuh.

Propaganda nyata

Bagaimanapun, meski kasus rasialisme amat kentara sebagai biang kerusuhan, media sekelas The New York Times mengklaim bahwa penyebab sebenarnya dari kerusuhan itu adalah "pengaruh Rusia". Oleh sebab dugaan ini, peristiwa kerusuhan di Chicago tahun 1919 dikenal sebagai bagian dari “Red Summer”, sampai sekarang pun.
ADVERTISEMENT
Apa yang diutarakan oleh The New York Times sebetulnya adalah teori konspirasi yang umum ditemukan pada banyak surat kabar selama Red Summer, periode sekitar April sampai November 1919. Selama masa ini, "kerusuhan ras" pecah di 18 negara bagian.
Massa kulit putih sibuk melakukan propaganda untuk menyerang komunisme. Orang kulit hitam, yang baru saja mengabdi untuk AS dalam Perang Dunia I, merasa jengah dengan hak kewarganegaraan yang tidak setara. Sedangkan Rusia, yang sebetulnya tidak ada urusan dalam semua kerusuhan di AS kala itu, menjadi kambing hitam.

Mengapa Rusia?

Saat Komunisme Menjadi Kambing Hitam atas Kerusuhan Antar Ras (138064)
Wikimedia Commons
Dua tahun sebelumnya, pemimpin Partai Bolshevik, Vladimir Lenin, memimpin kudeta terhadap Kekaisaran Rusia, untuk mendirikan pemerintahan komunis di Rusia. Sementara di AS, serikat pekerja, seperti Industrial Workers of the World (IWW), memperjuangkan hak-hak pekerja dengan memimpin pemogokan di seluruh negeri.
ADVERTISEMENT
Pada bulan Maret 1919, Komunis Internasional atau "Komintern" dibentuk dengan tujuan untuk menyebarkan komunisme ke seluruh dunia. Dan selama dua bulan berikutnya, kaum anarkis mulai mengirimkan bom surat ke tokoh-tokoh terkemuka, seperti ke Jaksa Agung AS, Mitchell Palmer.
Dari ketakutan atas kerusuhan antar ras, beberapa orang kulit putih di AS, yang juga resah akan eksistensi komunisme, mulai berasumsi bahwa Rusia adalah dalangnya. Istilah “Red Summer” semakin dikencangkan, dengan prasangka Rusia sedang mencoba menggulingkan Amerika Serikat.
James F. Byrnes, misalnya, seorang perwakilan dan dewan dari South Carolina, mencurigai IWW mendanai majalah The Messenger untuk menyebarkan pesan anti-Amerika. Ia pun mendesak pemerintah AS agar menuntut majalah tersebut berdasarkan Undang-Undang Penghasutan 1918. Byrnes ialah contoh nyata bahwa orang kulit putih AS saat itu benar-benar tidak sadar (atau sengaja berpaling dari fakta) bahwa kerusuhan terjadi karena kemarahan orang kulit hitam yang muak selalu didiskriminasi.
ADVERTISEMENT
Mark Ellis, seorang dosen senior sejarah di University of Strathclyde, di Gasgow, dengan tegas menyatakan:
Tidak pernah ada bukti bahwa komunis atau radikal politik lainnya memengaruhi publikasi kulit hitam, atau meyakinkan orang kulit hitam Amerika, untuk melakukan kerusuhan.
Teori tersebut tidak memerlukan bukti untuk lebih lanjut. Teori konspirasi ini mirip dengan teori-teori AS sebelumnya, yang senantiasa melibatkan ketakutan terhadap mata-mata asing dalam masalah internal. Sebelum Rusia, AS selalu menyalahkan Jerman atas setiap kekacauan. Ketika AS memasuki perang pada tahun 1917, banyak orang kulit putih justru melihat kampanye aktivis dan tentara kulit hitam (dalam memperjuangkan persamaan hak) sebagai bukti pengaruh Jerman untuk menggulingkan AS.
Cameron McWhirter, penulis Red Summer: The Summer of 1919 and the Awakening of Black America, pun berkata: "Saya pikir selalu ada kekhawatiran dalam sejarah kulit putih Amerika bahwa orang Afrika-Amerika berencana melawan mereka," kata McWhirter. “Kebangkitan Bolshevik dan runtuhnya Rusia, kebangkitan anarkisme dengan meletakan bom di depan pintu orang-orang pada tahun 1919, benar-benar memicu konspirasi ini bahwa Red Summer berkaitan dengan gerakan radikal ini.”
ADVERTISEMENT
Referensi: