Konten dari Pengguna

Studi: Penderita Kanker Menjadi Orang Paling Berisiko Terkena Coronavirus

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Koleksi Free-Photo di pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Koleksi Free-Photo di pixabay.com

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Oncology mengungkapkan penemuan baru tentang orang yang memiliki risiko tertinggi terkena Coronavirus. Penelitian itu berdasarkan catatan dari 1.524 pasien kanker yang telah dirawat di Departemen Radiasi dan Onkologi Medis, Rumah Sakit Zhongnan milik Universitas Wuhan Cina. Dari catatan terungkap betapa tinggi risiko yang harus dihadapi oleh pasien kanker ketika berhadapan dengan virus COVID-19 ini.

Tim peneliti sengaja menghimpun data dari tanggal 30 Desember 2019 hingga 17 Februari 2020 untuk menganalisis risiko yang dihadapi oleh pasien kanker terhadap COVID-19. Ternyata risiko pasien kanker mencapai angka 0,79% dibandingkan dengan 0,37% risiko yang dihadapi seluruh populasi manusia di kota Wuhan. Rata-rata, para pasien kanker yang terinfeksi Corona telah berusia sekitar 66 tahun dan kurang dari setengahnya tengah menjalani perawatan aktif untuk penyakit kanker mereka. Jika dihitung per-orang dari 288 pasien kanker, mereka yang terinfeksi kebanyakan menderita kanker karsinoma paru-paru non-sel kecil (NSCLC).

Mirisnya lagi, kondisi terpaparnya para pasien kanker justru terjadi ketika di rumah sakit, karena mereka rutin datang untuk melakukan perawatan aktif atau kemoterapi. Apalagi kondisi kota Wuhan yang menjadi titik awal pandemi Coronavirus menyebabkan mudahnya virus COVID-19 menempel pada mereka yang rutin datang ke rumah sakit. Ini merupakan bukti bahwa bukan hanya dokter dan paramedis saja yang rentan terinfeksi, tapi pasien yang bukan penderita Coronavirus pun dapat terpapar oleh virus ini.

"Temuan kami menyiratkan bahwa masuk rumah sakit dan kunjungan rumah sakit berulang adalah faktor risiko potensial untuk infeksi SARS-CoV-2. Kami menyadari bahwa mayoritas pasien sebenarnya pergi ke rumah sakit untuk kunjungan pengawasan rutin, dan itu adalah faktor risiko yang sama bagi mereka yang mendapatkan COVID-19. Kami percaya bahwa (penelitian) ini menjadi peringatan agresif agar dapat mengurangi kunjungan ke rumah sakit bagi mereka yang menderita kanker atau pasien lain yang berisiko tinggi." kata Dr. Melvin Chua, ilmuwan klinis di National Cancer Centre Singapore dikutip dalam Newsweek.

Kendati begitu, Chua dan timnya melihat bahwa penemuan ini mampu berkontribusi pada pemahaman kita yang lebih luas tentang Coronavirus. Dimana dokter dan paramedis untuk pertama-tama haruslah dapat membantu menginformasikan langkah yang tepat untuk mengendalikan infeksi dan juga memotivasi langkah terbaik dalam menyesuaikan pengobatan bagi pasien kanker. Selanjutnya para peneliti dapat mencari tau lebih jauh interaksi antara virus COVID-19 dengan terapi anti-kanker, khususnya, terapi target molekul kecil dan imunoterapi (dimana ada pemikiran bahwa pasien dengan terapi semacam itu mungkin memiliki COVID-19 yang lebih buruk). Chuan dan timnya berharap keadaan ini tidak menyurutkan semangat para pasien kanker untuk sembuh walaupun pengobatan mereka terganggu. Dengan tetap menjaga kebersihan diri dan menjalankan langkah pengobatan yang aman bagi mereka.

Sumber: cancerresearchuk.org | healthline.com| newsweek. com