Konten dari Pengguna

Ternyata Manusia Purba Mampu Bertahan Hidup dari Letusan Gunung Berapi Raksasa

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Letusan Gunung Api Toba Sekitar 74.000 Tahun yang Lalu.
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Letusan Gunung Api Toba Sekitar 74.000 Tahun yang Lalu.

Sekitar 74.000 tahun yang lalu, ada sebuah letusan super vulkanik yang luar biasa besar. Bahkan, letusannya mampu memicu musim dingin vulkanik yang berlangsung hingga satu dekade, menghasilkan periode terdingin selama ribuan tahun lamanya di Bumi. Keadaan ini tentu memusnahkan hampir seluruh populasi makhluk hidup yang ada pada saat itu.

Letusan raksasa tersebut berasal dari Gunung Api Toba yang meletus pada dua juta tahun yang lalu. Ternyata peristiwa ini tidak sampai memusnahkan seluruh populasi manusia purba yang hidup pada saat itu. Kondisi ekstrim di bumi ini ternyata membuktikan bahwa manusia purba memiliki kemampuan beradaptasi dan menjadi lebih cerdik akibat bencana iklim.

Sebelumnya, ada sebuah teori yang menyebutkan bahwa letusan raksasa berhasil menghancurkan seluruh populasi manusia purba dan memaksa kepunahan secara global. Namun, teori tersebut dipatahkan oleh penemuan spesies manusia purba berjenis Homo Sapiens yang mampu bertahan di Afrika, selama masa krisis tersebut. Apalagi mereka dapat mengembangkan strategi sosial, simbolis, dan ekonomi yang memungkinkan untuk berekspansi kembali ke Asia pada 14.000 tahun setelah letusan. Sedangkan manusia purba yang berada di India, justru hanya bertahan sebentar saja setelah letusan terjadi dan akhirnya mati, tidak lagi berkontribusi pada kumpulan gen modern.

“Catatan arkeologis menunjukkan, bahwa meskipun manusia terkadang menunjukkan tingkat ketahanan yang luar biasa terhadap tantangan, juga jelas bahwa orang tidak selalu makmur dalam jangka panjang,” kata Profesor Michael Petraglia, dari Max Planck Institute.

Foto: Alat-alat Batu yang Digunakan Manusia Purba yang Tinggal di Dhaba.

Teori ini juga diperkuat oleh bukti temuan para arkeolog di sebuah situs kuno di Dhaba, India tengah. Arkeolog kemudian mengambil 13 sampel sedimen yang mencakup catatan stratigrafi selama 80.000 tahun di Lembah Putra Tengah India utara. Mereka juga menemukan koleksi artefak yang telah berumur 55.000 tahun yang lalu di sekitar letusan gunung berapi. Hal ini tentu mewakili jiwa jaman dimana alat tersebut memang berasal yaitu Zaman Batu Tengah Afrika dan Australia. Bukti yang dapat menjelaskan bagaimana pengguna alat Palaeolitik Tengah telah hadir di India sebelum dan setelah letusan, mengisi celah dari kronologi utama dalam catatan manusia.

Analisi sedimen juga menunjukkan bahwa peristiwa pendinginan Bumi setelah letusan Toba mungkin tidak terlalu ekstrem daripada hipotesis sebelumnya, dan mungkin saja tidak menyebabkan periode glasial. Hasil ini kemudian mendukung hipotesis bahwa populasi manusia ada di India 80.000 tahun yang lalu dan kemungkinan selamat dari salah satu letusan gunung berapi terbesar kala itu.

India memang menjadi tempat penelitian yang baik untuk mengungkap teka-teki silang geografis kritis dalam memahami bagaimana Homo Sapiens pada awalnya tersebar keluar dari Afrika, lalu Asia, dan sekitarnya. Bukti fosil yang ada dari penelitian ini menunjukkan bahwa manusia bermigrasi keluar dari Afrika dan berkembang di Eurasia, lalu kawin dengan manusia purba, seperti Neanderthal, sebelum akhir masa pendinginan 60.000 tahun yang lalu.

Sumber: earthsky.org | sciencedaily.com | iflscience.com

Sumber foto: commons.wikimedia.org | twitter.com/Anthropology4U