kumparan
News26 Maret 2020 16:20

The Kettle War, Singkat dan Korban Konyol

Konten kiriman user
kettle-569395_1920.jpg
Foto: ilustrasi korban Perang Ketel | oleh jem1406 dari Pixabay
Perang Kettle 1784 termasuk salah satu peperangan yang berlangsung dalam waktu sangat singkat: kurang dari sehari. Dalam peperangan tersebut, hanya ada satu tembakan saja yang berhasil dilepaskan, dan satu-satunya korban adalah sebuah ketel sup.
ADVERTISEMENT
Keadaan yang menyebabkan konflik aneh ini dimulai lebih dari dua ratus tahun yang lalu, pada saat Belanda, Belgia, dan Luksemburg, masih berada di bawah kekuasaan Spanyol yang diawasi oleh House of Habsburgs (yang juga mengendalikan Kekaisaran Romawi Suci). Tepatnya pada 1568, ketika tujuh kelompok dari Belanda, yang menduduki bagian utara wilayah itu, bangkit memberontak dan melawan penguasa Spanyol.
Setelah 80 tahun konflik, Habsburg mengalah dan Belanda memperoleh kemerdekaan untuk membentuk Republik Belanda, yang akhirnya menjadi Belanda modern. Provinsi selatan, yang kemudian menjadi Belgia dan Luksemburg, tetap berada di bawah kekuasaan Spanyol.
Lebih dari seabad berlalu sejak Belanda memperoleh kemerdekaannya, tetapi hubungan antara Belanda dan Spanyol masih tetap tegang. Penyebab permusuhan antara keduanya adalah sungai Scheldt yang di-lockdown oleh Belanda sejak 1585. Sungai itu naik di Prancis utara, mengalir melalui provinsi-provinsi selatan, kemudian masuk ke Republik Belanda sebelum bermuara di Laut Utara.
ADVERTISEMENT
Sebelum Belanda menguasai mulut sungai, provinsi selatan memiliki dua pelabuhan yang berkembang di Scheldt, yaitu Ghent dan Antwerpen. Dengan ditutupnya Scheldt untuk pengiriman, perdagangan pun bergeser dari pelabuhan-pelabuhan di sana ke Amsterdam dan Middelburg, dan secara serius melumpuhkan perdagangan provinsi-provinsi selatan.
Kaisar Romawi Suci, Joseph II tidak senang bahwa kekaisarannya akan mengalami penurunan ekonomi, dan dia menuntut para penghalang untuk dihilangkan dan lagi-lagi Belanda menolak. Pada 1784, Joseph II mengirim tiga kapal dari Antwerpen ke Scheldt untuk memaksa agar sungai dibuka. Sebagai tanggapan, Belanda mengirim satu kapal, Dolfijn, untuk mencegat kapal-kapal Kekaisaran.
Mereka kemudian bertemu pada 9 Oktober 1784, di dekat kota Saeftinghe di barat daya Belanda. Catatan langka tentang apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu mengungkapkan, bahwa Dolfijn melakukan satu tembakan yang ditujukan dengan baik ke kapal musuh yang dipimpin Le Louis dan benar-benar menghancurkan sebuah ketel di dek kapal. Kapten Le Louis pun menyerah tanpa perlawanan.
ADVERTISEMENT

Catatan Tambahan:

Bagaimanapun, setelah kemenangan Belanda dalam Perang Ketel yang singkat itu, Kaisar Joseph II geram dan menyatakan perang kepada Belanda dengan mengirim pasukan untuk menduduki Fort Lillo, di sebelah utara Antwerpen. Pasukan kaisar memecahkan beberapa tanggul, menggenangi wilayah yang luas, dan menenggelamkan banyak orang.

Akhirnya, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri konflik dan datang ke meja perundingan. Hasilnya, Belanda tetap memegang kendali atas Scheldt, tetapi harus membayar beberapa juta florin belanda kepada Habsburg sebagai konpensasi. Sungai Scheldt pun tidak ditutup lama. Ketika Belanda kehilangan otoritas atas wilayah mereka di Prancis, sungai dibuka kembali untuk perdagangan pada 1792.

Sumber: amusingplanet.com | museumhack.com | warhistoryonline.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan