kumparan
17 Apr 2019 21:28 WIB

Uniknya Teknologi Penghangat Udara di Stasiun Stockholm

Foto: commons.wikimedia.org
Stasiun Kereta Api Stockholm, Swedia, merupakan tempat berkumpulnya orang yang terburu-buru. Setiap orang yang berada di Stasiun Stockholm hanya sempat membaca koran sebentar; secangkir kopi pun tidak dapat diseruput hingga habis.
ADVERTISEMENT
Keadaan sibuk tersebut menghasilkan panas tubuh dari setiap orang yang terburu-buru, ditambah pembakaran dapur restoran stasiun membuat stasiun Stockholm memiliki hawa yang hangat. Bahkan di saat musim dingin sekalipun.
Maka dari itu, dimanfaatkanlah panas tubuh alami itu sebagai penghangat sebuah bangunan. Ini bukanlah konsep baru, pusat perbelanjaan dan bioskop (di berbagai tempat) telah menggunakan konsep ini untuk menghemat biaya dalam penggunaan pemanas ruangan.
Fenomena ini kemudian dilihat sebagai peluang oleh Jernhusen, seorang arsitek sekaligus pengusaha real estate di Swedia. Dia memanfaatkan kelebihan energi dari panas tubuh di satu gedung untuk didistribusikan ke beberapa gedung di sekitarnya.
Jernhusen mulai mencobanya di satsiun Stockholm. Cara kerjanya adalah memasang alat penyerap panas yang dipasang di ventilasi stasiun dan alat tersebut akan menyerap panas tubuh kemudian mengalirkannya ke sebuah tangki yang berisi air di bawah tanah. Uap Air mendidih yang dihasilkan lalu akan dialirkan melalui pipa ke gedung kantor Kungbrohuset yang berada sekitar 100 meter dari stasiun Stockholm.
ADVERTISEMENT
Teknologi tersebut merupakan konsep lama yang dipoles dengan cara baru. Perbedaannya hanya mengalihkan hawa panas dan mengirimnya ke gedung di sekitar. Teknologi semacam ini sangat bermanfaat di Swedia, dengan kondisi energi panas yang sulit didapat dan membutuhkan biaya tinggi, sedangkan keadaan cuaca saat musim dingin di Swedia sangatlah ekstrem.
Apa yang diterapkan di stasiun Stockholm banyak diadopsi di beberapa negara di Eropa, terutama negara dengan kondisi yang sama seperti Swedia. Cara manusia dalam bertahan hidup selalu luar biasa dan membuat takjub, hal ini menunjukan bahwa manusia mahluk hidup dengan kekmampuan bertahan hidup tinggi.
Sumber: content.time.com| amusingplanet.com | raileurope-asean.com
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan