Mom
·
21 November 2020 8:57

Diksi dan Tagar Tak Ramah Anak Di Hari Anak Sedunia

Konten ini diproduksi oleh A Eddy Adriansyah
Diksi dan Tagar Tak Ramah Anak Di Hari Anak Sedunia (121421)
free-photo @pixabay
Sebagai bagian dari komunitas pegiat pendidikan anak, hari-hari ini berseliweran di grup telegram, whatsapp dan laman facebook yang saya ikuti, ucapan-ucapan Selamat Hari Anak Sedunia 2020.
ADVERTISEMENT
Di situs resmi UNICEF-pun demikian. "It's World Children's Day, friday, 20th november 2020. A day to reimagine a better future for every child." Begitu tema yang diusung UNICEF dalam peringatan Hari Anak Sedunia tahun ini.
Diksi reimagine digunakan UNICEF mengawali serangkaian kata yang menyusun kalimat tema peringatan tahun ini. Makna yang saya tangkap dari diksi itu, betapa seluruh dunia, termasuk kita-kita ini, harus membenahi rencana awal, guna mempersiapkan hari depan yang lebih baik untuk anak-anak.
Tanpa pandemi, anak-anak di berbagai belahan dunia sebetulnya sudah menghadapi krisis besar dan pelik. Baik akibat peperangan, atau dalam lingkup lebih kecil, kekerasan dalam rumahtangga.
Dari mulai perang antar negara, sampai perseteruan antara ayah dan ibunya, sama saja. Korban yang menanggung derita fisik dan mental yang paling pertama dan terkena imbas paling parah adalah anak-anak.
ADVERTISEMENT
Kini pandemi datang dan belum juga pergi. Masa depan yang suram itu kian gelap dipandang, mengingat krisis yang terjadi kian besar merongrong semua sektor yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak, dari mulai pendidikan, kesehatan, hingga keselamatan jiwa.
**
Memandang lingkungan terdekat, saya menyaksikan keponakan-keponakan, baik yang masih balita maupun sudah beranjak remaja, tumbuh dalam suasana stay at home, belajar di rumah saja, yang kian hari makin menjemukan, makin tak alami, atau tak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan mereka.
Keponakan saya yang sedang lucu-lucunya, yang masih balita, misalnya. Semakin besar tampak semakin membutuhkan sosialisasi dengan kawan sebaya.
Hal yang tentu saja riskan di masa-masa pandemi ini, mengingat virus Covid 19 yang tak kasat mata itu masih ada di luar sana. Resiko terpapar begitu besar jika dia dibiarkan berkumpul dan bermain, secara bebas, apalagi jika jauh dari lingkungan rumah.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, keponakan saya ini bermain di rumah saja. Walau terkadang orangtuanya, begitu juga saya, kerap merasa sedih ketika menyaksikan dia menyapa kanak-kanak yang lewat di seberang pagar, dengan lafal bicara yang belum jelas. Tampak betul keinginan untuk membaur dan bermain dari bahasa tubuhnya.
**
Kondisi yang memrihatinkan juga tampak pada keponakan-keponakan saya yang sedang tumbuh remaja. Sekolah yang masih tutup membuat mereka sehari-hari nangkring dan belajar di rumah. Mengingatkan saya pada salah seorang paman, ketika jadi pengangguran bertahun-tahun.
Sehari-hari mereka bergaul dengan gadget dan monitor komputer. Memandangi materi pelajaran daring dan pekerjaan rumah dari sekolah yang tak menarik minat. Sambil sesekali login pada laman games online yang rutin dimainkan.
ADVERTISEMENT
Bukan hanya sekali orangtua-orangtuanya mengeluh pada saya yang sedang tinggal di negeri perantauan, lantaran pekerjaan rumah yang tak hanya menyulitkan anak, namun juga membuat pusing orangtua.
Sesekali, ketika ada waktu luang, saya ikut juga membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tersebut. "Amazing...," gumam saya meniru Thukul Arwana, menyaksikan tugas anak SD jaman pandemi, tugas anak SMP saat 'belajar di rumah saja', yang bobotnya sama dengan soal kuis atau ujian anak-anak STM, ketika saya sekolah dulu.
**
Kondisi yang melanda keponakan-keponakan saya ini tak tampak, atau setidaknya tak kentara tampak ganjilnya, jika saya perhatikan, dalam keseharian anak atau remaja sebaya mereka di negeri perantauan saya, Inggris.
Di Inggris sekolah adalah yang pertama dibuka ketika national lockdown I berakhir. Sekolah dari tingkat dasar hingga college tak ikut ditutup, ketika ternyata Inggris memberlakukan national lockdown II, yang jatuh pada 5 November lalu.
ADVERTISEMENT
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dalam siaran pers untuk konteks pembukaan sekolah yang saya tangkap menegaskan, "Tidak baik jika sekolah ditutup terlalu lama. Tidak baik untuk perkembangan mental, fisik dan intelektual anak-anak kita ke depan."
Sekolah dan college di Inggris kemudian tetap dibuka, setelah pernyataan kepala pemerintahan yang sempat terpapar Covid 19 ini. Tentunya, dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat-sangat ketat.
Sebetulnya pendirian atau pandangan serupa pemerintah Inggris ini dimiliki juga oleh para pegiat pendidikan, orangtua murid, atau pengelola sekolah yang saya kenal di tanah air.
Mereka tak ingin sekolah tutup terlalu lama. Contohnya salah seorang pengelola sekolah kenalan saya, yang menawarkan fasilitasi pada peserta didiknya untuk hadir sesekali, dalam rangka penyegaran dan ice breaking, sekaligus melatih mereka belajar dengan prosedur kelaziman baru yang ketat di lingkungan sekolah.
ADVERTISEMENT
Rencana itu tak terealisasi pada akhirnya. Walaupun disepakati oleh mayoritas orangtua, sang pengelola sekolah malah ditegur oleh pihak berwenang, setelah mendapatkan laporan yang ironisnya didapat dari, pengaduan seseorang yang bukan orangtua atau wali murid, yang jangankan tabayyun, iapun jelas tak ikut hadir dalam musyawarah.
**
Pada hari ini, ketika Hari Anak Sedunia diperingati, isyu-isyu anak sebagaimana saya paparkan sebelumnya, tampaknya tertutupi dengan isyu-isyu lain yang jadi buah bibir karena besarnya sensasi, bukan karena tinggi nilai manfaatnya.
Coba saja cek tagar dan berita-berita yang viral di tanah air belakangan ini. Di Hari Anak Sedunia, baik dalam tagar sosial media, maupun diksi tulis dan lisan, yang berhamburan dari para public figure lalu dimuat media-media, negeri kita justru malah menampilkan wajah yang tak ramah bagi anak.
ADVERTISEMENT
Bahkan seolah-olah, tidak ada yang menyadari, skandal, perseteruan, hingga kata-kata bermakna buruk yang sengaja disampaikan dan disajikan lewat media dan melibatkan para public figure itu, pada akhirnya akan sampai pada anak-anak kita, yang sehari-hari hidup di alam virtual dan tergantung pada gadget dan internet.
Saya pesimis para public figure bisa mengendalikan diri untuk tak terus-menerus memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anak kita, melalui perilaku dan tutur bahasanya.
Saya juga pesimis 'orang-orang yang di atas' punya waktu, concern atau konsistensi, untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk peristiwa sosial atau pemberitaan tanpa filter di media-media, setiap peristiwa-peristiwa semacam ini terjadi.
Para public figure dan 'orang-orang di atas' itu sudah terlalu kompleks keinginan dan kebutuhannya, untuk kita harapkan punya waktu memikirkan orang-orang biasa seperti saya, atau kita-kita ini.
ADVERTISEMENT
Semuanya kini tergantung pada peran masing-masing orangtua. Minimal, jika orangtua menahan diri, tidak ikut masuk ke arena pertarungan para netizen dengan menjaga tutur bahasa atau bijak berselancar di dunia maya, ini sudah sebuah langkah besar yang akan menjadi contoh baik bagi anak-anak.
Itulah langkah yang saya pikir paling realistis di masyarakat kita, dalam rangka reimagine, sebagaimana dimaksudkan oleh UNICEF melalui pencanangan tema Hari Anak Sedunia tahun ini.
Langkah paling mudah dan ringan yang setidaknya melindungi psikis, atau bahasa kerennya, wellbeing, pada anak-anak yang akan menjadi tumpuan ketika kita menua, dan ingin hidup di negeri yang ramah bagi semua kalangan masyarakat.
Itulah langkah paling mudah dan sederhana, dalam serba keterbatasan ekspresi karena gejolak sosial politik dan kejadian pandemi, yang merupakan kebutuhan utama bagi anak-anak dalam tumbuh kembangnya.
ADVERTISEMENT
Semoga saya, anda, kita semua sebagai orangtua punya waktu dan kesadaran, untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi anak, sesuai kapasitas yang kita miliki sekarang ini, di masa yang sulit ini.