kumparan
17 Februari 2019 16:06

Tradisi Membuat Jiaozi saat Imlek di China

Jiaozi, makanan khas China di musim dingin. Foto: Riski Maulida/acehkini
Tak sulit mencari makanan halal bagi muslim di China, karena umumnya komunitas muslim di sana berbisnis rumah makan. Selain itu, mereka juga membuat kue-kue dan aneka makanan lainnya.
ADVERTISEMENT
Pada momen Tahun Baru Imlek, Selasa (5/2), saya mendapat kesempatan mencoba tradisi menikmati jiaozi, sambil melihat proses pembuatannya di rumah Mr. Shang, warga muslim di kawasan Kaifeng, Provinsi Henan, China.
Banyak mahasiswa muslim dari Henan University yang berlangganan membeli daging ayam halal, yang disembelih secara Islam, kepada Mr. Shang. Perkenalan saya dengannya sudah lama, bahkan saya pernah berutang kepadanya.
Saat itu, uang tunai saya tidak cukup untuk berbelanja ayam, karena sudah terlanjur dibelanjakan bahan lainnya. Ingin membayar melalui aplikasi Wechat dan Alipay juga tidak bisa, handphone tiba-tiba mati.
“Kamu boleh membawa daging ayam ini dan bisa membayar nanti, saat kamu berada di asrama,” kata Mr. Shang saat itu, sambil menuliskan alamat Wechat di lembaran buku tulisnya.
ADVERTISEMENT
Video
“Saya paham dan mengerti, anak perempuan saya juga di perantauan sekolahnya, ia belajar di Turki,” tambahnya. Untuk meyakinkan, Mr. Shang juga meminta putrinya mengirimkan alamat Wechat kepada saya.
Saya kemudian berkenalan dengan putri Mr. Shang, Shang Cong alias Shopia, yang sedang berkuliah di Turki. Hanya melalui aplikasi yang tertanam di handphone saja, kami berdua sudah dapat akrab kendati tak pernah bertemu.
Jelang Tahun Baru Imlek, Shopia tak pulang. Dia menghubungi saya untuk meminta menemani kawannya, Zainab, yang sedang berada di Kaifeng. Zainab berasal dari Aljazair, sedang menikmati liburan musim salju di Henan.
Shopia meminta kami ke tempatnya untuk mencoba berbagai makanan khas Imlek. Kami tiba di sana, disambut oleh Mr. Shang dan anak bungsunya, Shang Yi Wen (Sarah), adiknya Shopia.
Proses pembuatan jiaozi, makanan khas dalam tradisi imlek di China. Foto: Riski Maulida/acehkini
Di dapur kecil mereka yang menyatu dengan ruang makan, saya dan Zainab dikenalkan dengan dumplin atau jiaozi (dalam Bahasa China). Makanan ini terbuat dari tepung terigu dan sedikit campuran air yang sudah digiling, sehingga menjadi lembut dan tipis seperti lembaran. Kulit Jiaozi ini dapat dibeli di pasar, setiap harinya tersedia dengan produksi terbaru.
ADVERTISEMENT
Saya melihat Zainab cukup cekatan mengolahnya dengan menggiling pipih lembaran kulit jiaozi, dan Mr. Shang membungkusnya dengan isian daging. “Wow Zainab kamu mahir sekali,” kata saya.
“Di Aljazair, saya sering membuat piza namun kami menyebutnya lam dah ajim,“ jelasnya.
Isian jiaozi adalah parutan halus wortel, yang dapat dipadu dengan berbagai varian, seperti gilingan daging ayam, daging bebek, daging kambing, daging lembu, dicampur dengan daun bawang, garam, lada, dan bawang putih. Campuran jenis sayuran dapat disesuaikan dengan selera. Di Shanghai dan Hong Kong, jiaozi juga tersedia dengan isian udang atau kepiting, seperti dimsum.
Membuat jiaozi dan makan bersama menjadi tradisi turun-temurun di China. Dosen Bahasa Mandarin di Henan University, Li Laoshi, pernah mengatakan makanan itu enak dimakan saat masih panas.
ADVERTISEMENT
Jiaozi enak dimakan saat hidangan masih panas, apalagi saat musim dingin,” katanya.
Reporter acehkini, Riski Maulida bersama Mr Shang, Sarah (tengah) dan Zainab di Kaifeng, Provinsi Henan, China.
Tiap tahunnya, pihak kampus mengajak seluruh mahasiswa asing untuk belajar membuat jiaozi pada awal musim dingin. Kue ini juga sering meramaikan menu pada hari-hari besar China.
Rebusan jiaozi telah siap, kami duduk bersama di meja, memakannya dengan sumpit. Ini persis tradisi meugang di Aceh, budaya makan daging menjelang Ramadan dan hari raya, di tempat kelahiran saya. []
Reporter: Riski Maulida (China)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan