Pencarian populer
PUBLISHER STORY
27 Maret 2019 17:41 WIB
0
1

Hamdanil, Caleg Tunanetra Pertama di Aceh

Hamdanil, Caleg tunanetra pertama di Aceh dengan laptopnya. Dia tidak bisa melihat, tapi mendengar. Foto: Suparta/acehkini

Jari telunjuk tangan kiri pria 48 tahun itu menyentuh layar telepon yang digenggam erat di tangan kanan. Ia meletakkan posisi telepon agak dekat dengan telinga. Bukan melihat layar, dia hanya mendengar suara perintah dari telepon.

Namanya Hamdanil. Seorang penyandang disabilitas tunanetra. Selain jago memainkan telepon pintar, dia juga bisa menggunakan laptop. Dia tidak bisa melihat ketika berusia 15 tahun. Awalnya, dia merasa rabun pada senja, kemudian seiring waktu penyakit rabun semakin parah. Dokter saat itu menyebut Hamdanil mengalami pengeringan saraf.

Meski kedua bola matanya terbuka, hingga kini Hamdanil kesulitan melihat. "Kelihatan, tapi sangat samar-samar," kata Hamdanil kala berbincang dengan Acehkini yang menyambangi rumahnya di Desa Lamlagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Aceh, Kamis (28/3).

Meski punya keterbatasan, tak menyurutkan semangat Hamdanil untuk ikut pada kontestasi pemilihan umum (Pemilu) 2019. Dia maju sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh dari Partai Bulan Bintang (PBB). Menyandang nomor pemilihan 2, Hamdanil bertarung di daerah pemilihan (Dapil) 4 Kecamatan Banda Raya dan Jaya Baru.

Hamdanil merupakan caleg tunanetra pertama di Aceh. Dia bukan kader partai PBB. Jalan hidupnya menjadi caleg bermula ketika mendapat panggilan telepon dari pengurus pusat Partai Bulan Bintang. Panggilan itu sekaligus pinangan untuk Hamdanil dari partai yang dipimpin Yusril Ihza Mahendra itu.

Saat itu, Hamdanil diminta menjadi perwakilan disabilitas dan menjadi caleg PBB tingkat Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) ke Senayan, Jakarta. "Mereka inginnya bukan di lokal," kata dia.

Spanduk Hamdanil di rumahnya, membuka klinik pijat. Foto: Suparta/acehkini

Hamdanil menyambut baik pinangan itu. Dia akhirnya mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran. Setelah berkas dikirim, dia kembali berkonsultasi dengan keluarga dan teman-temannya di Banda Aceh.

Keluarga dan teman-temannya merasa sangat berat untuk memenangkan Hamdanil ke Senayan. Mereka juga mengeluh tidak mampu menjangkau semua wilayah yang termasuk dalam daerah pemilihan.

Maka Hamdanil disarankan agar maju di tingkat lokal saja. "Jangan DPR RI, itu sangat berat dan tidak terjangkau. Saya takut enggak lolos juga," kata Hamdanil. Masukan itu didengarnya, hingga akhirnya menarik berkas pendaftaran DPR RI, lalu mencalonkan di tingkat DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota).

Selain PBB, Hamdanil ternyata juga sempat dipinang oleh dua partai nasional lainnya. Tapi ditolaknya, dengan alasan tidak memperoleh persetujuan dari keluarga.

Motivasi utama Hamdanil ingin menjadi legislatif, ingin memperjuangkan nasib penyandang disabilitas. Misalnya di bidang kesejahteraan, pendidikan, akomodasi, dan hak-hak disabilitas yang menurutnya selama ini masih didiskriminasi. "Karena kita disabilitas, maka hak-hak disabilitas itu harus kita angkat," tutur Hamdanil.

Hamdanil ingin memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di parlemen Kota Banda Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Aktivis Disabilitas

Pemilu 2019 merupakan pengalaman perdana Hamdanil bertarung dalam kontestasi politik. Tapi, dia sudah banyak pengalaman dalam beragam organisasi disabilitas. Bahkan ia pernah ikut membentuk partai.

Tahun 2000, Hamdanil mendapat tawaran membangun Partai Pro Republik. Dia ditunjuk menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh. Namun saat verifikasi, partai itu tidak lolos untuk ikut Pemilu.

Setelah gagal mendirikan partai, Hamdanil semakin aktif dalam berorganisasi. Bahkan, dia mengaku sering mondar-mandir ke Jakarta mengikuti kegiatan organisasi. Awalnya tahun 1999, Hamdanil bergabung dalam Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Lima tahun di sana, dia bergabung ke Persatuan Tuna Netra Ahli Pijat Indonesia (Pertapi). Hamdanil aktif membuka praktik pijat di rumahnya.

Selepas itu, ia turut aktif dalam organisasi olahraga khusus penyandang disabilitas, Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (KPNI). "Ketika masa saya, atletnya bahkan dikirim ke Myanmar," tutur dia.

Selepas dari sana, Hamdanil kemudian berlabuh ke Persatuan Penyandang Disabiltas Indonesia (PPDI) Provinsi Aceh. Pada November 2018, dia dilantik sebagai Ketua PPDI Aceh periode 2018-2023. Dari organisasi ini pula, semakin kuat dorongan bagi Hamdanil agar maju sebagai caleg.

"Anggota PPDI sangat senang sekali saya maju sebagai disabilitas untuk memperjuangkan hak-hak mereka," kata dia.

Jangan Pandang Kami Sebelah Mata

Di daerah pemilihan 4 Kecamatan Banda Raya dan Jaya Baru, Kota Banda Aceh, hanya sekitar 20 orang pemilih dari kalangan disabilitas. Hamdanil berharap perolehan suara untuknya bukan hanya dari kalangan disabilitas, tapi juga masyarakat. "Karena kalau sudah terpilih kan tugas saya bukan hanya untuk kalangan disabilitas," ujarnya.

Memasuki kampanye, Hamdanil semakin sering menyambangi rumah-rumah warga. Metode kampanyenya door-to-door atau rumah ke rumah dengan membagikan kartu nama. Dia agak pesimis untuk melakukan kampanye terbuka. "Kayaknya untuk kampanye terbuka belum ada bayangan," kata dia.

Salah satu alat peraga kampanye milik Hamdanil di Banda Aceh. Foto: Suparta/acehkini

Meski menyambangi rumah ke rumah terlihat sederhana, namun Hamdanil masih banyak mengalami hambatan. Bukan karena kekurangan penglihatannya. Kendala yang selama ini dia alami justru ketika menyampaikan pesan kampanye kepada orang lain malah diragukan. "Misalnya saya bilang, tolong bantu saya, saya naik caleg. Kemudian dijawab, memang bisa menjadi caleg," ujar Hamdanil.

Untuk kampanye menggunakan baliho dan spanduk saja, Hamdanil masih kekurangan dana. Dia berharap ada caleg tingkat DPR RI yang separtai dengannya agar mau berkampanye bersama. "Misalnya untuk DPR RI pilih dia, untuk DPRK pilih saya," katanya.

Meski punya kekurangan penglihatan, Hamdani berharap masyarakat jangan sebelah mata memandang dia dan meragukannya seandainya terpilih. "Kalau ada yang bilang tanda tangan saya mudah dimanipulasi karena saya tidak bisa melihat, itu salah. Saya kan butuh staf khusus," katanya.

Hamdanil menyebut orang normal yang menjadi anggota dewan saja, punya asisten. "Masa saya tidak ada," lanjutnya.

Di akhir perbincangan, dia menyebut akan membuat program yang membantu masyarakat kalangan bawah dan penyandang disabilitas. "Kalau saya duduk di suatu tempat, saya tidak mau makan gaji buta," kata dia.

Video

Reporter: Habil Razali

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.36