Pencarian populer
PUBLISHER STORY
13 Mei 2019 21:55 WIB
2
0

Masjid Tgk Di Anjong, Asal Muasal Aceh Dapat Julukan Serambi Makkah

Masjid Tgk Di Anjong di Gampong Pelanggahan, Banda Aceh. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Masjid ini tampak tak megah dari luar, tapi menyimpan segudang sejarah. Dari sinilah, warga percaya gelar Serambi Mekkah untuk Aceh berawal mula.

Masjid Tgk (Teungku--red) Di Anjong terletak di Gampong Pelanggahan, Banda Aceh. Berbeda dengan kebanyakan masjid umumnya, masjid ini berdiri tanpa kubah.

Yusnan, salah seorang warga Pelanggahan, mengisahkan tentang bangunan Masjid Tgk Di Anjong kepada acehkini, Selasa (14/5). Ia menjelaskan, bangunan Masjid Tgk Di Anjong pernah hancur diterjang tsunami pada 26 Desember 2004. Namun tak lama kemudian, masjid dibangun kembali dengan mengikuti pola lama.

“Tapi tak sepenuhnya sama, dulu bangunannya kayu dan lebih kecil. Bentuk atapnya juga sedikit beda,” kata Yusnan.

Saat ditemui, Yusnan sedang tiduran menunggu waktu zuhur di kompleks makam pendiri masjid, Sayyid Abubakar alias Tgk Di Anjong. Letaknya bersisian.

Bangunan makam Tgk Di Anjong terletak bersisian dengan masjid. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Menurut Yusnan, tak hanya bangunan masjidnya yang direnovasi tapi sebagian bangunan makam juga direhab.

Makam Tgk Di Anjong dulunya hanya bangunan seperti pondok, atapnya tak sebesar sekarang. Saat ini, makam sang ulama dan istrinya telah dibuatkan kamar ukuran 4x4 meter, di luarnya juga ada beberapa makam kerabat dan muridnya, masih seatap. Tak jauh dari sana, terhampar kuburan umum masyarakat Pelanggahan.

“Makam banyak dikunjungi peneliti dan muslim dari luar negeri untuk berziarah, sejak dulu,” tutur Yusnan.

Bangunan makam Tgk Di Anjong. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Pintu masuk makam Tgk Di Anjong telah dibuat seperti kamar. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Salah satu makam kerabat Tgk Di Anjong, di kompleks makam. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Di kompleks masjid, selain makam di sisi kiri, ada sebuah tugu besar yang menarik perhatian. Di halaman depan sebelah kanan, ada sebuah monumen yang berisikan 553 nama warga desa yang menjadi korban tsunami. Nama-nama dipahat keramik dan tersusun berdasarkan dusun tempat tinggal mereka.

Monumen berisikan nama-nama korban tsunami. Foto: Adi Warsidi/acehkini
Nama-nama warga korban tsunami di tugu depan masjid. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Pengurus Masjid Tgk Di Anjong, Bustami, mengisahkan tentang keberadaan Tgk Di Anjong yang bernama asli Sayyid Abubakar. Beliau adalah ulama pengembara dari Hadramaut, Yaman, yang ditugaskan menyebar Islam di Asia Tenggara. Ia kemudian menetap di Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Alaudin Mahmud Syah (1760-1781).

Ulama tasawuf dan ahli fikih itu menetap di Pelanggahan, lalu membangun masjid pada 1769, dengan konstruksi kayu. Dibangun dengan tiga lantai, masjid ini menggambarkan tiga nilai dasar Islam: lantai pertama disebut hakikat, lantai kedua disebut tarekat, dan ketiga disebut makrifat.

Di lantai tiga atau anjungan, Tgk Di Anjong kerap menghabiskan waktu untuk beribadah dan berzikir. Dari sinilah, Sayyid Abubakar dijuluki Tgk di Anjong.

Usai Tsunami menghantam masjid pada 2004 silam, bangunannya hancur dan dibangun kembali dengan konstruksi beton yang hampir mirip. Hanya lantai dasar yang kemudian difungsikan untuk beribadah.

“Kitab-kitab beliau yang tersimpan di lantai atas masjid hilang saat tsunami. Juga benda peninggalan lainnya,” kisah Bustami.

Dulu berkontruksi kayu, sekarang beton. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Makam Tgk Di Anjong dan istrinya juga sempat terendam air. Namun, nisan dan ukiran di atas makamnya masih utuh. Istrinya juga berasal dari Yaman, bernama Syarifah Fathimah binti Sayid Abdurrahman Al Aidid atau Aja Eusturi.

Banyak kisah menukilkan masjid tersebut menjadi cikal bakal Aceh disebut Serambi Makkah. Sebabnya, selain membangun masjid, Tgk Di Anjong juga mendirikan pesantren atau dayah di dekat masjid, menggunakan rumahnya. Santri datang dari seluruh nusantara bahkan dari Malaysia, mereka mondok di sana.

Tugu penanda tsunami pernah terjadi di Gampong Pelanggahan. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Dayah kemudian berkembang menjadi menjadi pusat manasik haji bagi jemaah dari berbagai daerah nusantara. Letak Aceh yang strategis menjadi tempat singgah kapal-kapal pengangkut jemaah haji, sebelum meneruskan perjalanan ke Tanah Suci.

Di Gampong Pelanggahan, calon jemaah haji belajar sebulan dan dibimbing Tgk Di Anjong berserta muridnya. Sebelum ke Makkah, belajar dulu di Serambi, begitulah ibaratnya, hingga julukan Serambi Makkah bertahan di Aceh hingga kini.

Tgk Di Anjong wafat pada 14 Ramadan 1100 Hijriah atau 1782 Masehi. Sepeninggal beliau, aktivitas dayah dan masjid tak berhenti, bahkan terus berkembang diteruskan oleh murid-muridnya. Ketika perang Aceh dengan Belanda terjadi, pesantren menjadi basis pejuang Aceh dalam melawan penjajah. []

Bagian dalam masjid. Foto: Adi Warsidi/acehkini

Reporter: Adi Warsidi

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23