kumparan
16 Sep 2019 18:39 WIB

Mengenal Seudati, Tarian Penyemangat Pejuang Aceh Saat Zaman Perang

Penampilan Tari Seudati saat penutupan OS2N 2019 di Banda Aceh. Foto: Suparta/acehkini
Berpakaian serba putih, delapan penari meliuk-liuk maju mundur beriring irama syair yang dilantunkan dua aneuk syahi. Penampilan para penari Seudati mampu memukau ribuan penonton di stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Jumat malam (30/8). Tepuk tangan riuh, memberi penghargaan kepada mereka yang tampil saat penutupan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (OS2N) 2019.
ADVERTISEMENT
Tari Seudati selalu mendapat tempat dalam acara besar, maupun gelar budaya di Aceh. Tari dengan memamerkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang menghentak, membuatnya awet menembus masa. Bahkan Tari Seudati pernah diduetkan dengan tarian Barongsai dalam beberapa kesempatan di Aceh.
Pemerhati sejarah dan budaya Aceh, Iskandar Norman, mengatakan Seudati menonjolkan tepukan dada yang berderap serentak sehingga mengeluarkan suara keras yang membahana, ketip jemari, gerak tangan yang seragam dan lantunan irama yang harmonis. “Ini juga yang membuatnya menjadi tontonan yang heroik, romantis dan indah,” katanya.
Delapan pemain dengan dua pelantun syair. Foto: Suparta/acehkini
Menurutnya, Seudati dulunya dimainkan oleh mereka yang menyebarkan dakwah Islam ke Aceh. Kata seudati sendiri berasal dari bahasa Arab, syahadatain atau syahadati yang berarti kesaksian atau pengakuan. Ada pula yang menafsirkan seudati dari kata seurasi yang bermakna harmonis atau kompak.
ADVERTISEMENT
Dalam masa perang melawan kolonial Belanda, Tari Seudati banyak dimainkan untuk menyemangati prajurit yang hendak bertempur melawan penjajah. Syairnya diciptakan oleh ulama-ulama dan ahli perang.
Seudati mulai dikembangkan sejak agama Islam masuk ke Aceh. Pendakwah Islam memanfaatkan tarian ini sebagai media dakwah. Pada mulanya Seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang artinya menceritakan.
Dalam ratoh diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasihat, sampai kisah-kisah yang membangkitkan semangat. Ulama yang mengembangkan agama Islam di Aceh umumnya berasal dari negeri Arab. Karena itu, istilah-istilah yang dipakai dalam Seudati umumnya berasal dari Bahasa Arab. Di antaranya istilah syeh yang berarti pemimpin, saman yang berarti delapan, dan syair yang berarti nyayian. Selain dimanfaatkan sebagai media dakwah, Tari Seudati juga menjadi pertunjukan hiburan untuk rakyat.
Pakaian penari Seudati dengan ikat kepala. Foto: Suparta/acehkini
Tari ini dimainkan oleh delapan orang laki-laki sebagai penari utama, terdiri dari satu orang pemimpin yang disebut syeh, satu orang pembantu syeh, dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeet wie, satu orang pembantu di belakang yang disebut apeet bak, dan tiga orang pembantu biasa. Selain itu, ada pula dua orang penyanyi sebagai pengiring tari yang disebut aneuk syahi.
ADVERTISEMENT
Jenis tarian ini tak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah, dan petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan. Beberapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat. Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan perut mengesankan kesombongan sekaligus ksatria.
Gerakan menepuk dada dalam Tari Seudati. Foto: Suparta/acehkini
Busana Tari Seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus berbusana seragam.
ADVERTISEMENT
Bagian-bagian terpenting dalam tarian Seudati terdiri dari likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang menceritakan tentang kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.
Tari Seudati yang berasal dari Kabupaten Pidie, Aceh, saat ini berstatus sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, setelah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia, pada November 2015. []
Gerakan dalam Tari Seudati. Foto: Suparta/acehkini
Reporter: Adi W
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan