Konten dari Pengguna

Benarkah Kita Tidak Paham Matematika?

Achmad Hidayatullah

Achmad Hidayatullah

Mahasiswa dan peneliti university of szeged Bekerja sebagai dosen di universitas muhammadiyah surabaya

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pelajaran matematika Foto: Pixzito
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelajaran matematika Foto: Pixzito

Masih teringat betul bagaimana PISA (The Programme for International Student Assessment) memberikan rangking yang tidak tanggung-tanggung terhadap Indonesia dalam bidang matematika, ya, nomer 7 dari bawah. Rangking yang didasarkan terhadap survey kemampuan matematika siswa di Indonesia.

Tentu rangking tersebut menodai jerih payah guru matematika di Indonesia khususnya yang telah bersusah payah membangun pengetahuan anak. Meskipun beberapa anak bangsa berhasil menjuarai olimpiade matematika international.

Kalau dilihat dari skripsi-skripsi yang ditulis oleh mahasiswa ataupun beberapa jurnal matematika, maka akan sering dijumpai latar belakang alasan terhadap pengambilan topic penelitian tersebut, siswa merasa bosan dengan matematika, siswa merasa kesulitan dalam matematika, matematika masih menjadi momok, matematika bla-bla….

Intinya prestasi harus diubah dan ditingkatkan kualitasnya. Apa benar matematika memang sangat sulit? Jika memang sulit, bagaimana matematika digunakan dalam masyarakat?

Matematika Hidup di Pikiran Masyarakat

Survey yang dilakukan oleh PISA dilakukan dalam rangka melihat kemajuan sebuah negara melalui matematika yang menggunakan skill HOTS atau Higher Ordered Thinking Skill ( skill berpikir tingkat tinggi). Tetapi faktanya matematika menjadi bagian dari sebuah kehidupan masyarakat di mana mereka berada, yang tentunya menjadi lebih substantive untuk kehidupan dari pada berpikir tingkat tinggi.

Menurut John Fauvel dan Jan Van Maanen dalam bukunya yang berjudul History In Mathematics Education disebutkan bahwa matematika bukan hanya teks, tetapi ia hidup dalam pikiran masyarakat, dan pada batas tertentu ia digunakan untuk menafsirkan artefak yang ada.

Ketika masayarakat tradisional melakukan transaksi matematika, sebenarnya mereka telah melakukan proses abstraksi sederhana atau real dalam kehidupan. Menurut penelitian Gellert dari abstraksi nyata ini bisa berlanjut terhadap abstraksi normal.

Contoh lainnya adalah ketika melihat kalender, melihat waktu tempuh dari stasiun, jadwal keberangkatan kereta, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membayar. Menimbang berat badan dengan benar, melihat curah hujan dalam aplikasi hp dll. Oleh karena itu tidak ada yang benar-benar sulit untuk memahami matematika.

OECD meyakini bahwa ada hubungan yang sederhana antara kemampuan matematika dengan pribadi, sosial dan ekonomi. Tetapi pada kenyataannya tidak ada yang menjamin bahwa kemampuan matematika mampu menyelesaikan masalah ekonomi, ideologis, dan politik. Karena masalah ekonomi bergantung terhadap situasi dan kepemimpinan.

Literasi matematika berkaitan dengan bagaimana belajar berpikir bukan belajar apa yang harus dipikirkan. Belajar logika matematika berarti belajar berpikir dengan logis, tetapi tidak mesti orang yang kuliah di jurusan matematika selalu berpikir logis. Dalam faktanya banyak orang berpikir logis tanpa harus belajar matematika.

Masyarakat telah belajar berpikir logis tanpa disadari mereka telah mempelajari matematika. Meskipun mereka tidak mempelajari secara langsung teori logika Aristoteles atau matematika. Toh kenyataannya ilmu logika hadir tidak lepas dari cara masyarakat, bukan sebaliknya ilmu logika dulu baru masyarakat berpikir logis.

Adakah yang benar-benar Illiterasi Matematika?

Jika literasi matematika dikaitkan dengan kemampuan membaca, menulis dan menggunakan matematika, maka setidaknya ada tiga kelompok masyarakat ditinjau dari literasi matematika.

Pertama, kelompok masyarakat yang bisa menggunakan matematika tetapi tidak bisa menuliskannya dalam bentuk simbolik. Hal ini bisa dilihat terhadap interaksi masyarakat tradisional yang melibatkan matematika dalam aktivitas mereka. Karena keterbatasan dalam penulisan simbolik bukan berarti mereka tidak paham matematika.

Misal mereka yang tinggal di daerah pedalaman, di mana mereka tidak mengenal atau tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia, bukan berarti mereka buta terhadap matematika. Karena bagi mereka matematika merupakan alat untuk kebutuhan praktis.

Bahkan mereka tidak memerlukan buku dan pulpen untuk menuliskan simbol, alat mereka hanya cangkul, pacul dan capil, dan pemikiran abstrak matematis mereka seketika berjalan ketika harus memprediksi berapa bibit tembakau yang diperlukan untuk memenuhi sawah yang sedang digarap.

Kedua, mereka yang memahami dan mampu menuliskannya dalam bentuk simbol. Kelompok ini memiliki pengalaman belajar matematika sebagai disiplin ilmu, baik dalam pendidikan formal ataupun informal.

Tetapi tidak mesti mereka yang mempelajari matematika sebagai disiplin ilmu, kemudian menggunakannya saat mereka bekerja. Hal ini tergantung dengan situasi dan kondisi kerja yang dilakukan.

Kelompok ketiga, mereka yang bisa memahami matematika dan mampu menggunakannya melebih sekadar kebutuhan hidup, tetapi sebagai alat kritik terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Misal kemampuan dalam membaca klaim statistik penurunan angka kemiskinan dengan realitas sebenarnya. Perbandingan jumlah sumber daya alam negara dengan pendapatan negara. Literasi matematika kritis seperti ini tentu hadir dan tumbuh di tengah realitas yang dihadapi oleh masyarakat.

Kelompok keempat, adalah mereka yang tidak bisa menggunakan matematika dalam kehidupan tetapi dan juga tidak bisa menuliskannya. Dalam bahasa ilmiah disebut sebagai illiterasi.

Tetapi adakah dalam kehidupan masayarakat orang yang benar-benar illiterasi dalam matematika? Nampaknya akan sulit menemukannya kecuali dibatasi terhadap mereka yang memiliki kelainan.

Jadi sebenarnya kita tidak benar-benar bodoh dalam matematika, di balik ketakutan sebagian orang atau kebosanan dalam mempelajari matematika sebenarnya diam-diam mereka menggunakannya sebagai alat kebutuhan praktis dalam kehidupan.

Matematika tidak bisa dipisahkan dari praktik sosial dan kebudayaan masyarakat. Atau dengan bahasa lain matematika tidak disukai oleh sebagian orang sebagai disiplin ilmu tetapi digunakan dalam kehidupan nyata. Karena manusia tidak bisa lepas dari pelibatan matematika dalam aktivitasnya.