News
·
15 September 2021 12:52
·
waktu baca 5 menit

Menghindarkan Anak dari Risiko Tindak Pidana di Masa Pandemi COVID-19

Konten ini diproduksi oleh Ade Yulfianto
Menghindarkan Anak dari Risiko Tindak Pidana di Masa Pandemi COVID-19 (14844)
searchPerbesar
Menghindarkan Anak dari Tindak Pidana | Sumber Gambar : Pixabay
Pandemi COVID-19 telah berlangsung hampir dua tahun. Berbagai kegiatan harus beradaptasi dengan new normal dan menyesuaikan dengan kondisi pagebluk ini. Kegiatan belajar mengajar pun kini
ADVERTISEMENT
harus dilakukan secara virtual atau daring melalui berbagai platform yang tersedia seperti zoom atau google meet.
Sebelumnya, banyak orang tua berupaya menghindarkan anak dari penggunaan gadget yang terlampau sering. Ada semacam anggapan umum bahwa gadget dan hal-hal di dalamnya seperti sosial media maupun game online, adalah penyebab berbagai masalah yang dialami oleh anak (Anak dalam hal ini adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun).
Dari kurangnya waktu belajar, membolos sekolah, sikap anti-sosial, hingga kebiasaan bermain game sampai larut malam. Hal ini kerap membuat para orang tua menjadi emosional dalam menghadapi perilaku anak. Namun, kini mau tidak mau, proses belajar mengajar dan sosialisasi harus banyak dilakukan melalui gadget, yang dalam hal ini adalah handphone. Situasi Pandemi COVID-19 memaksa anak-anak untuk tidak saling bertemu, bertatap muka, bersosialisasi, dan berkerumun. Praktis, situasi ini membuat anak-anak terperangkap ke dalam tiga irisan keadaan, yakni; waktu luang, gadget, dan dunia virtual.
ADVERTISEMENT
Pandemi COVID-19 sejatinya mampu mengubah lanskap sosial anak-anak dalam menjalani kegiatan sehari-hari. Ruang-ruang sosial anak kini terminimalisir di dalam gadget-nya. Dulu, anak-anak dapat menghabiskan waktu di sekolah untuk belajar, bersosialisasi, hingga bermain dengan rekan-rekan sebayanya. Kini keadaan berubah, anak-anak dihadapkan pada keadaan new normal sehingga ia lebih banyak beraktivitas di rumah. Hal ini menempatkan anak-anak dalam situasi yang rentan, sebab dunia virtual ibarat hutan rimba yang menyimpan segala hal. Dari hal positif sampai negatif semuanya tersedia tanpa sekat. Kerentanan ini beralasan sebab anak belum terlalu mampu memilah dan memilih konten apa saja yang sebaiknya ia konsumsi. Kerentanan inilah yang berpotensi mendorong seorang anak untuk tersangkut dalam suatu tindak pidana, baik yang bersifat kesengajaan maupun kelalaian. Oleh sebab itu, kesadaran akan kerentanan ini perlu dikampanyekan kepada para orang tua agar lebih mawas diri.
ADVERTISEMENT
Risiko Tindak Pidana dalam Dunia Virtual
Dunia virtual laksana pedang bermata dua. Di satu sisi membawa dampak positif, di lain sisi membawa risiko negatif. Berbagai informasi, pengetahuan, dan tutorial tersedia di dunia maya dengan sekali klik. Sisi positifnya sangat banyak, seorang anak kini mampu menajamkan kreativitasnya dengan berkarya maupun belajar melalui gadget-nya. Dari mulai menjadi Youtuber yang menghasilkan pundi-pundi rupiah atau mempelajari berbagai keilmuan melalui tutorial di Youtube. Di samping itu, sisi negatifnya juga tak kalah banyak. Dari mulai akses pornografi, kekerasan verbal dan tekstual yang memicu pencemaran nama baik ataupun penganiayaan, hingga potensi tindak pidana pencurian yang paling sering dilakukan oleh seorang anak karena keinginannya pada apa yang ia konsumsi secara visual.
ADVERTISEMENT
Pornografi dapat menyebabkan seorang anak tersangkut Undang-Undang Perlindungan Anak (UU Nomor 35 Tahun 2014) saat anak tersebut tergerak untuk melakukan aksi persetubuhan terhadap anak di bawah umur karena ia terbiasa membuka konten pornografi. Atau bisa jadi seorang anak terjerat Undang-Undang ITE (UU Nomor 11 Tahun 2008) karena pencemaran nama baik yang ia lakukan di kolom komentar seseorang setelah menghina atau mem-bully orang tersebut. Bahkan, saat seorang anak sedang asyik bermain game online bersama dengan teman-temannya, karena tidak terima kalah dalam suatu permainan, anak tersebut melakukan pemukulan terhadap teman lainnya dan terjerat Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. Tak jarang juga karena seorang anak sering menonton konten-konten yang memamerkan harta kekayaan atau asetnya, ia terdorong untuk melakukan pencurian seperti mencuri handphone atau mengambil sepeda motor milik tetangganya dan tersangkut Pasal 362 atau 363 KUHP tentang Pencurian. Semua kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah pintu yang membuat seorang anak dapat terjerat dalam suatu tindak pidana. Risiko-risiko ini tidak perlu kita takuti selama prinsip kehati-hatian dan pengawasan selalu ditekankan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.
ADVERTISEMENT
Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pencegahan
Menghindarkan anak-anak kita dari risiko melakukan tindak pidana di masa Pandemi COVID-19 adalah angle yang jarang diperhatikan dan dikampanyekan ke ruang publik. Langkah ini merupakan ikhtiar bersama agar permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh setiap keluarga tidak semakin berat di tengah upaya bertahan di kala pandemi ini belum usai. Tidak ada yang mampu menghindarkan anak-anak dari risiko tindak pidana selain orang tua itu sendiri. Saat ini, beban Pandemi COVID-19 mau tidak mau terpusat di bahu para orang tua. Selain harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para orang tua juga dituntut untuk menemani dan membimbing anak-anak belajar dan berkegiatan di rumah saja. Tak ayal, pengawasan terhadap perilaku dan kegiatan anak di dunia virtual maupun lingkungan bermainnya seringkali tidak terpantau dengan maksimal karena terbaginya fokus antara bekerja dan mengurus aktivitas rumah. Tidak ada yang salah dengan new normal, selama anak-anak mampu menggunakan gadget-nya dengan baik dan aman. Oleh sebab itu, para orang tua harus mampu meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anaknya, baik pengawasan pada gadget-nya maupun pada lingkungan sosialnya. Caranya dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi yang intens dengan anak, sampaikan dampak positif dan negatif dari dunia virtual yang diakses oleh si anak agar anak tahu risiko yang dihadapinya saat berseluncur di internet. Selain itu, para orang tua juga dapat mengontrol pemakaian gadget anak dengan mengaktifkan fitur kontrol orang tua di handphone anak atau membatasi penggunaannya pada kegiatan belajar mengajar dan hal-hal positif. Hal ini setidaknya akan menjadi pendekatan terbaik untuk menekan titik-titik risiko seorang anak terjerat tindak pidana selama pandemi COVID-19 ini.
ADVERTISEMENT
Ade Yulfianto, S.Sos.
Penulis merupakan Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Pertama pada Balai Pemasyarakatan Kelas I Palangka Raya Kementerian Hukum dan HAM Kalimantan Tengah.
Alumnus Departemen Sosiologi FISIPOL UGM
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020