Konten dari Pengguna
Sejarah Tidak Harus Ditulis Sejarawan
12 Agustus 2025 12:11 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Tidak Harus Ditulis Sejarawan
Dalam diskusi draf penulisan buku sejarah Indonesia, Fadli Zon mengatakan sejarah harus ditulis sejarawan. Padahal kenyataannya terdapat orang non sejarawan yang menulis karya-karya sejarah Adiel Afliarso
Tulisan dari Adiel Afliarso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Saat ini, proyek penulisan sejarah ulang Indonesia yang dibiayai oleh pemerintah telah mencapai progres 80 hingga 90 persen, di mana sudah mencapai proses editing, menurut Fadli Zon. Proyek ini melibatkan sekitar 100 sejarawan dari 34 perguruan tinggi, mulai dari doktor, profesor, dan guru besar. Proyek ini dijalankan karena banyak penemuan-penemuan baru yang akan merevisi buku sejarah nasional sebelumnya.
ADVERTISEMENT
Pemerintah telah melaksanakan diskusi publik draf penulisan sejarah ulang di berbagai PTN Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Universitas Negeri Padang, Universitas Lambung Mangkurat, dan Univesitas Negeri Makassar. Ketika diskusi publik dilakukan di Universitas Indonesia pada tanggal 25 Juli 2025, Fadli Zon memberikan sambutan sebagai Menteri Kebudayaan, yang mana salah satunya Ia mengatakan bahwa Sejarah itu ditulis oleh sejarawan, bukan oleh insinyur, politisi, dan aktivis.
“Kalau bukan sejarwan yang menulis, siapa? Masa yang mau menulis ahli matematika atau ahli furniture atau siapa? Kan tidak mungkin. Sejarah ditulis oleh para sejarawan, bukan politis. Bukan oleh aktivis.” Ujarnya.
Fadli juga menambahkan, para sejarawan tentu lebih dapat dipercaya karena mereka memiliki kompetensi sesuai bidangnya. Ia menilai, sejarawan tak hanya sekedar menulis ulang sejarah masa lalu, tetapi juga melakukan kajian penelitian mendalam. Ia juga menambahkan, menulis sejarah itu tidak boleh sembarangan. Sejarah sudah pasti mempunyai kepentingan jika ditulis oleh politisi. Oleh karena itu, menurut Fadli Zon, penulisan sejarah ulang tidak bisa diserahkan kepada yang bukan ahlinya.
ADVERTISEMENT
“Kami tidak bisa menyerahkan bidang-bidang tertentu kepada orang yang bukan ahlinya. Jadi menulis sejarah itu adalah sejarawan,” tambahnya.
Sebenarnya, kita bisa melihat pemikiran Kuntowijoyo bahwa sejarah tidak harus ditulis oleh sejarawan. Hal ini menurutnya karena sejarah merupakan ilmu yang dinamis dan terbuka. Selain itu, sejarah tidak memerlukan bahasa atau istilah khusus yang hanya dipahami sejararawan, tetapi menggunakan bahasa sehari-hari sehingga dapat dipahami khalayak umum. Ketika seseorang menulis sejarah yang paling diutamakan adalah bagaimana sejarah dapat tersampaikan kepada orang banyak. Oleh karena itu, sejarah dapat ditulis dengan nalar umum sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja.
Bahkan, banyak tokoh yang menulis sejarah pada dasarnya adalah bukan “orang sejarah”. Salah satunya adalah Ing Wardiman Djojonegero. Ia merupakan seorang engineer dan guru besar FMIPA Universitas Padjajaran. Karya sejarah yang ia tulis adalah “Trilogi Kartini” yang berisi tentang kehidupan dan pemikiran dari seorang kartini.
ADVERTISEMENT
Walaupun Demikian, sejarah harus dibuktikan secara ilmiah sehingga memerlukan penelititan yang mendalam. Seseorang yang menulis sejarah harus mengetahui mengenai topik apa yang akan ditulis, sumber apa saja yang akan digunakan, kritik apa saja yang terdapat dalam sumbernya, dan interpretasi apa yang didapat dalam sumbernya. Dalam menulis sejarah, tidaklah cukup dengan dengan nalar umum dan harus mengetahui langkah-langkah atau metodenya. Sehingga, hal ini penting bagi seseorang yang akan menulis sejarah.

