• 1

Kisah Emoji di Balik Hubungan Panas Donald Trump dan Twitter

Kisah Emoji di Balik Hubungan Panas Donald Trump dan Twitter


Twitter merupakan salah satu media sosial yang dimanfaatkan Donald Trump dalam kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini. Trump juga tercatat sebagai pengguna aktif Twitter. Tetapi sekarang baru ketahuan bahwa hubungan keduanya tidak sebaik yang dibayangkan.

Dalam sebuah pertemuan para pemimpin industri teknologi yang diselenggarakan presiden terpilih itu di Trump Tower New York, Rabu (14/12), diketahui bahwa Twitter tidak masuk dalam daftar undangan.

"Mereka tidak diundang karena tidak terlalu besar," ujar seorang juru bicara tim transisi Trump kepada Reuters.

Presiden Terpilih AS Donald Trump

Donald Trump (Foto: Shannon Stapleton)

Penyebab tidak diundangnya Twitter dalam rapat kemudian menjadi tanda tanya besar. Seorang sumber terpercaya mengatakan kepada Politico, bahwa penyebab utamanya adalah karena Twitter menolak dua emoji yang diajukan tim kampanye Trump pada masa pemilihan presiden Amerika Serikat.

Sebelumnya, pengelola anggaran tim kampanye Trump, Gary Coby, berkata pihaknya siap memanfaatkan dana 5 juta dollar AS pada Agustus lalu untuk iklan dan aktivitas online. Salah satu yang direncanakan adalah meluncurkan sebuah emoji di Twitter untuk menyerang lawan, Hillary Clinton. Emoji itu rencananya akan muncul dari tagar #CrookedHillary.

Twitter menolak permintaan tersebut karena perusahaan pimpinan Jack Dorsey ini punya sikap untuk tidak memuat iklan-iklan politis di dalam kontennya.

"Kami telah menjalani diskusi dengan beberapa organisasi politik, termasuk tim kampanye Trump, terkait emoji yang akan dijadikan bahan iklan kampanye di Twitter. Kami meyakini bahwa iklan politik yang mengandung wacana, serta emoji politis, tidaklah sesuai. Oleh karena itu, kami memutuskan tidak mengizinkan format seperti ini untuk iklan politik apapun," ujar Twitter.

Akan tetapi, salah seorang penasihat Trump, Sean Spicer, menyangkal laporan tersebut kepada MSNBC. Dalam rapat ini pihaknya sengaja hanya mengundang sedikit perusahaan.

"Ada banyak sekali perusahaan (teknologi) dan jika Anda melihat daftar perusahaan teknologi papan atas, saya jamin Anda akan menemukan banyak orang tak ada di daftar (undangan) itu," kata Spicer seperti dikutip dari Politico.

Di sisi lain, sumber yang dikutip oleh Politico itu menyatakan, bahwa Spicer adalah orang yang memutuskan untuk tidak mengundang perwakilan Twitter dalam rapat Rabu lalu.

Twitter

Tampilan aplikasi Twitter di perangkat tablet. (Foto: WD Net Studio)

Rapat ini menjadi sorotan media massa karena sebelumnya Trump banyak mengkritik kebijakan perusahaan teknologi dan Internet, terutama untuk urusan privasi terkait keamanan negara.

Rapat tersebut dihadiri oleh CEO dari berbagai perusahaan besar, yaitu CEO Apple Tim Cook, CEO Alphabet Larry Page, CEO Amazon Jeff Bezos, COO Facebook Sheryl Sandberg, CEO Microsoft Satya Nadella, CEO IBM Ginni Rometti, Eric Schmidt dari Alphabet, co-CEO Oracle Safra Catz, CEO Intel Brian Krzanich, dan CEO Cisco Chuck Robbins.

Apple merupakan salah satu perusahaan yang dikritik Trump karena kebijakan enkripsi dan proses manufaktur di luar negeri. Trump mengatakan para pemimpin perusahaan teknologi itu dapat menghubunginya jika ada masalah apapun, dan mendorong mereka untuk terus berinovasi.

Donald TrumpTeknologiTwitter Internet

500

Baca Lainnya