Pencarian populer

Gajah Mada, Palapa (Ring), dan Diplomasi: Intinya 'Link and Match'

"Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa." (Gajah Mada, Padmapuspita, 1966:38).

Menyimak debat Capres kedua tanggal 17 Februari 2019 dilanjutkan dengan Debat Cawapres ketiga tanggal 17 Maret 2019 lalu sungguh sangat menginspirasi pemikiran dan mengusung harapan para ‘loyalist’ pendukung paslon alias pasangan calon--bahkan mampu ‘menyentuh’ anak-anak muda lintas generasi. Teringat kembali penjelasan Capres Joko Widodo dan Cawapres Ma’ruf Amin mengenai upaya Kabinet-nya yang hampir telah merealisasikan ‘infrastruktur langit’ Palapa Ring di seluruh bagian di Indonesia.

Serta merta terbayang sosok gagah heroik Sang Patih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada, yang berikrar kuat untuk menyatukan Nusantara dan ‘membendung’ pengaruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara. Sistem komunikasi versi ‘cincin Palapa’ yang alokasi anggaran-nya triliunan rupiah ini bertujuan mempersiapkan Indonesia menjalankan Revolusi Industri 4.0 pun tekad Indonesia mencetak 1000 start-up dan membuat unicorns bahkan decacorn baru asli anak negeri. Sungguh suatu keinginan dan rencana yang mulia...

Kembali ke Palapa Ring, proyek fenomenal pembangunan jaringan serat optik nasional ini akan menjangkau 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer, sedangkan kabel di daratan adalah sejauh 21.807 kilometer dan mengitari tujuh pulau, yakni Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, serta delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengelilingi Indonesia baik lewat dasar laut atau pun lewat daratan.

Yakin benar bahwa Pemerintah Indonesia pasti terinspirasi oleh kebesaran sejarah jaman kerajaan Majapahit. Tentu saja dengan analogi yang disesuaikan jaman ‘now’, bahwa tak akan ada lagi daerah perbatasan yang terisolasi, penebalan literasi teknologi informasi dan komunikasi digital, serta pemerataan akses internet di seluruh wilayah Indonesia.

Harapannya, dengan luasnya ‘coverage’ sinyal internet seperti ini akan memudahkan akses informasi, transaksi digital (e-commerce) dan berbagai kemudahan lain pada semua aspek kehidupan masyarakat Indonesia, yang tak hanya akan dinikmati kaum Millenials. Prediksinya bahkan dapat membuka lebih banyak peluang usaha dan bisnis ekonomi skala kecil dan menengah dengan akses ‘fintech’ atau teknologi finansial dalam jaringan (daring).

Program yang mendukung “Indonesia Berdikari Teknologi” ini akan mampu menjangkau wirausaha dan entrepreneur pemula di daerah-daerah yang tadinya belum terjamah teknologi digital dan informasi. Idealnya, Palapa Ring ini juga merupakan usaha Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan potensi Indonesia yang disebut-sebut dapat menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada tahun 2020. Hebatnya Indonesia!

Memaknai Tuah Palapa dan Diplomasi Indonesia

Dari berbagai sumber referensi yang terangkum, memaknai ‘strategi’ Palapa oleh Gajah Mada, seorang Patih yang berpandangan politik sangat luas, dengan program politiknya, berdoktrin cakrawala mandala dwipantara, Kertanagara berhasil menjalin hubungan dengan Malayu lewat ekspedisi Pamalayu, dengan Pahang di Malaysia, Gurun (pulau di wilayah timur Nusantara), Bakulapura atau Tanjungpura di barat daya Kalimantan, dengan Sunda dan Madura yang pada akhirnya menjadikan Pulau Jawa mendapat pengaruh Singasari, bahkan perluasan hubungan dengan Champa untuk menghadapi Tartar (Mongol).

Seperti halnya Palapa Ring dan makna tersirat dari sumpah Gajah Mada, diplomasi Indonesia saat ini merefleksikan keinginan besar Indonesia untuk berperan penting dan ‘leading’ dalam isu-isu strategis global yang akan berdampak masif bagi perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan baik nasional, kawasan (baca: regional), dan internasional.

Mengulang sekaligus menekankan kembali pernyataan politis dan komitmen kuat dari Menteri Luar Negeri RI pada Pernyataan Pers Tahunan awal Januari lalu, yang sejalan dengan pesan moral Presiden Joko Widodo bahwa justru saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan kerja sama karena tantangan global sangatlah besar dan tidak mungkin satu negara dapat hidup sendiri tanpa bekerja sama dengan negara lain. Dari masalah instabilitas di berbagai kawasan, radikalisme, terorisme, migrasi ireguler, melemahnya ekonomi global, dampak perubahan iklim, bencana alam, dan degradasi lingkungan yang berakibat fatal bagi kelangsungan hidup umat manusia dan permasalahan-permasalahan kompleks lainnya yang dapat mencederai pencapaian 17 target Pembangunan Berkelanjutan (baca: Sustainable Development Goals-SDGs).

Jelas ‘pesan’ Palapa tersirat dan tersurat untuk upaya diplomasi Indonesia ke depannya. Sumpah yang diikrarkan oleh seorang Gajah Mada selama 21 tahun dari 1258 saka (1336) sampai 1279 saka (1357)--hingga amukti palapa atau sampai tiba masa untuk berhenti dari pekerjaannya. Dunia harus tetap dibangun bersama untuk semua. Sejarah mengajarkan hanya dengan bekerja bersama maka dunia akan menjadi tempat yang baik untuk semua. Dengan jiwa kerja sama itulah, by design, politik luar negeri Indonesia terus bekerja, mulai dari kawasan terdekat Indonesia (baca: Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara-Association of Southeast Asian Nations-ASEAN), Indian Ocean Rim Association-IORA, Gerakan Non-Blok, serta berbagai organisasi regional dan internasional), maka Indonesia, sebagai pemimpin alami kawasan, akan memberikan kontribusi bagi dunia, signifikan!...

(Sumber: https://www.kemlu.go.id/id/berita/PublishingImages/Qomar/MENLU-/PERS%20BRIEFING/5.jpg)

Foreign Policy Begins At Home” dan 4 Prioritas

Tak hanya itu, bila boleh mengutip buku Richard N Hass: “Foreign Policy Begins at Home”, dalam hal ini Indonesia telah mampu membangun ‘trust’ dengan menjadi tuan rumah berbagai konferensi multilateral global dan perhelatan tingkat dunia dalam satu tahun terakhir. Sebut saja: Asian Games dan Asian Para Games, Pertemuan Tahunan International Monetary and Fund (IMF) dan World Bank, ASEAN Leaders Gathering, the 5th Our Ocean Conference, the First World Conference on Creative Economy, Bali Process on People Smuggling, Trafficking in Persons and related Transnational Crime, the First Indonesia-Africa Forum, the First Indonesia-Africa Maritime Dialogue, Trilateral Ulema Conference Afghanistan-Pakistan-Indonesia, dan Bali Democracy Forum serta masih banyak lagi. Berbagai kegiatan internasional tersebut merupakan salah satu wujud keaktifan Indonesia dalam hubungan dan politik luar negeri untuk perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Dengan kepercayaan yang senantiasa ditingkatkan, Diplomasi Indonesia makin jelas memposisikan kepentingan nasional melalui 4 (empat) prioritas utama.

Pertama, Diplomasi Menjaga Kedaulatan NKRI, artinya Indonesia adalah negara yang meyakini kekuatan diplomasi dan negosiasi dalam menyelesaikan batas-batas negara. Melalui perundingan intensif, terdapat lebih dari 120 perundingan perbatasan dilakukan Indonesia dengan India, Malaysia, Viet Nam, Palau, Filipina, Singapura, Thailand dan Timor-Leste. Negosiasi perbatasan tidak pernah mudah, perlu waktu panjang dan kesabaran sembari terus membangun saling percaya. Diplomasi untuk Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan hal yang tidak dapat ditawar, dari Sabang sampai Merauke sebagai satu kesatuan.

Kedua, Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) di Luar Negeri. Yang kita semua pahami bahwa melindungi Warga Negara Indonesia merupakan amanat konstitusi yang harus ditunaikan dengan baik melalui perubahan corporate culture para diplomat Indonesia untuk memberikan perlindungan optimal kepada warganegara Indonesia, terutama untuk kelompok-kelompok rentan, misalnya perempuan para korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Bahkan dengan memanfaatkan inovasi teknologi, pembangunan sistem perlindungan WNI terus dilakukan. Sesuai instruksi Presiden RI, mulai Januari 2019, Portal Peduli WNI diterapkan serentak di seluruh Perwakilan Indonesia sebagai platform tunggal pelayanan dan perlindungan WNI. Bahkan melalui sinergi dan integrasi sistem antar kementerian dan lembaga, Portal Peduli WNI menjadi etalase Indonesia Incorporated dalam perlindungan WNI di luar negeri. Ada juga sistem “Welcoming SMS Blast” (layanan pesan singkat/surat masa singkat-bahasa Inggris: Short Message Service-SMS) yang memberikan informasi nomor telepon Perwakilan RI di luar negeri dimana WNI berada dan Program Safe Travel untuk memastikan perlindungan dalam ‘genggaman’ bagi setiap WNI yang sedang bepergian.

Ketiga, Diplomasi Ekonomi Indonesia. Perlu penguatan diplomasi ekonomi untuk mengantisipasi situasi ekonomi global saat ini yang mengalami banyak tekanan, perubahan, dan tantangan termasuk kecenderungan proteksionisme dan dilemahkannya sistem perdagangan multilateral dan WTO, perang dagang antara kekuatan ekonomi besar dunia--yang jelas akan berpengaruh terhadap ekonomi lainnya.

Seperti Gajah Mada, Indonesia terus memperkuat kerjasama ekonomi dengan pasar-pasar baru, memperkuat ikatan ekonomi Indonesia dengan negara-negara Afrika lebih dekat dan dengan pasar potensial di kawasan lain seperti Asia Selatan dan Tengah dan beberapa negara di Amerika Latin, juga dengan melibatkan BUMN, perbankan dan juga swasta. Hal penting lainnya, Indonesia terus memperkuat infrastruktur kerja sama ekonomi secara bilateral guna meningkatkan daya saing produk Indonesia melalui negosiasi baru dan penyelesaian berbagai negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif dengan negara-negara mitra (Comprehensive Economic Partnership Agreement-CEPA), Asosiasi Perdagangan Bebas (Free Trade Association-FTA), dan negosiasi Preferential Trade Agreement (PTA) dengan negara Afrika (Mozambique dan Tunisia), Maroko, Bangladesh, Sri Lanka dan berbagai organisasi kawasan seperti Southern African Customs Union (SACU) dengan anggota lainnya yaitu Botswana, Lesotho, Namibia, dan Swaziland, Economic Community of West African States (ECOWAS) yang merupakan kelompok kawasan lima belas negara (Benin, Burkina Faso, Cape Verde, Pantai Gading, Gambia, Ghana, Guinea, Guinea-Bissau, Liberia, Mali, Niger, Nigeria, Senegal, Sierra Leone, Togo) dan Euroasian Economic Union (EAEU).

Makin jelas bahwa “semangat” Gajah Mada telah diterapkan Pemerintah Indonesia melalui strategi mempertahankan dan meningkatkan akses pasar tradisional sembari memperluas akses ke pasar non-tradisional guna mengembangkan perdagangan internasional, sekaligus ekspansi penjualan produk industri strategis Indonesia dan mendorong berbagai investasi dan proyek infrastruktur Indonesia di luar negeri.

Keempat, Peran Indonesia di kawasan dan global. Ini adalah gambaran visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Kita disadarkan kembali bahwa Indonesia adalah bangsa maritim, dan penguatan diplomasi maritim menjadi penting. Terdapat inisiasi Indonesia yang telah memberikan landasan kuat bagi penguatan kerja sama maritim di kawasan, termasuk komitmen perlindungan kawasan laut dan kerja sama pengelolaan perikanan yang berkesinambungan, penanganan sampah plastik laut, dan keamanan maritim. Semua itu menunjukkan leadership Indonesia dalam mengarus-utamakan isu maritim dan kelautan untuk memperkokoh posisi Indonesia sebagai Global Maritime Fulcrum. Dahsyat!

Reinkarnasi Gajah Mada dan Palapa: Ini Diplomasi!

Bercermin dari ‘determined’ tekad Gajah Mada yang tanpa pamrih mentranslasikan ‘tuah dan kekuatan sakti’ dari kerajaan-kerajaan yang mendahului Majapahit, Gajah Mada terbaca jelas hendak meneguhkan Majapahit sebagai pewaris dari ‘kebesaran’ kerajaan-kerajaan di Nusantara. Refleksinya, Indonesia harus terus pro-aktif menyikapi perkembangan dan perubahan strategis di kawasan. Indonesia harus selalu menjadi penggerak perubahan di kawasan dan sama-sama pastikan agar Samudera Hindia dan Pasifik tidak dijadikan ajang perebutan sumber daya alam, pertikaian wilayah dan supremasi maritim. Keamanan Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya merupakan kepentingan Indonesia.

Sekarang setelah makin paham akan sikap dan karakter Gajah Mada dengan sumpah Palapanya, saatnya diplomasi Indonesia bergerak maju lebih luas. Dunia memerlukan collective leadership, kepemimpinan bersama untuk membawa dunia menjadi lebih baik. Untuk itu semangat kerja sama dan kolaborasi versi “sumpah Palapa” harus ditegakkan. Spirit multilateralisme harus dikedepankan. Collective Global Leadership mengharuskan semua negara bergandeng tangan untuk menyelesaikan masalah dunia dan menjadi bagian dari solusi. Dan sangat yakin bahwa Indonesia dapat menjadi ‘pemimpin’ di masanya dengan ‘me-reinkarnasi-kan’ Gajah Mada dan Palapa untuk Diplomasi Indonesia. Ini Diplomasi!

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: