Memaafkan Sebagai Bagian dari Kehidupan

Studying Psychology at Yogyakarta State University
Konten dari Pengguna
26 Juni 2022 22:39
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Miftahul Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Dalam kehidupan ini, tentunya kita pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, memaafkan merupakan keterampilan yang perlu dipelajari serta dipraktekkan di keseharian kita. tak jarang individu masih terperangkap di masa lalu karena gagal untuk “move on” sedangkan dunia sekarang ini menuntut kita untuk terus bergerak. Bagi orang yang memiliki kemampuan mudah dalam memaafkan itu bisa menjadi satu langkah baik untuk menjalani kehidupan yang sehat, dengan tingginya kesejahteraan diri.
Credits: Gus Moretta from unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Credits: Gus Moretta from unsplash.com
Menurut Robert Enright memaafkan ialah keinginan untuk menghilangkan dendam dan perilaku yang negatif terhadap orang yang telah menyakiti kita, sambil berusaha untuk memberikan kebaikan kepadanya (Lopez et al., 2017). Dengan kata lain, memaafkan ialah melepaskan emosi negatif kita dan meningkatkan perilaku baik kepada orang yang telah menyakiti kita. Tentunya memaafkan tidak semudah mengatakannya dalam teori, memaafkan perlu ada keberanian diri untuk merelakan serta memaafkan emosi negatif yang ditimbulkan oleh orang lain maupun diri sendiri. Memaafkan merupakan sebuah proses yang perlu dilalui oleh semua orang untuk menjadi individu yang lebih baik. Bahkan dalam Islam dikatakan bahwa seseorang tidak boleh marah kepada orang lain lebih dari 3 hari (HR. Muslim, Hadits No. 2560).
ADVERTISEMENT
Lalu mengapa kita perlu memaafkan? memaafkan terbukti memiliki banyak manfaat kepada kehidupan kita. Dalam beberapa studi memaafkan memiliki dampak dalam meningkatkan kesejahteraan hidup kita sendiri seperti percaya diri, mengurangi stress, dan penerimaan diri (Martha & Kurniati, 2018). Hal ini juga didukung oleh Javed Alam dan Masaud Ansari (2019), yang mengatakan bahwa ketika kita memaafkan, kita dapat meningkatkan kepuasan hidupnya. Siapa yang tidak mau hidupnya bahagia. Oleh karena itu penting untuk kita memaafkan sesuatu dan “move on” untuk terus hidup dengan lebih baik. Memaafkan terdapat 2 bentuk, memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri (Lopez et al., 2017).

Memaafkan orang lain

Memaafkan orang lain tentunya perlu kemauan diri untuk memaafkan, sebelum muncul rasa kemauan tersebut individu tidak akan bisa memaafkan secara tulus kepada orang lain. secara tidak sadar terkadang dalam melakukan pemaafan kepada orang lain kita menggunakan 5 tahapan proses yang biasa disebut metode REACH. Metode REACH ini menjadi landasan supaya pemaafan yang dilakukan bertahan lama, sehingga tidak lagi menimbulkan dendam terhadap orang tersebut atas kejadian yang sudah berlalu. 5 tahapan yang dimaksud ialah:
ADVERTISEMENT
  1. Recall, Mengingat kembali perasaan yang ditimbulkan oleh orang lain
  2. Empathy, Berempati kepada orang lain dan juga diri sendiri
  3. Altruistic, Memaafkan secara altruistic. Yang dimaksud altursim ialah perilaku individu yang bertujuan untuk menguntungkan orang lain.
  4. Commit, Berkomitmen untuk melakukan pemaafan.
  5. Hold, Berpegang teguh kepada komitmen.

Memaafkan diri sendiri

Di kehidupan kita ini pastinya kita sendiri pernah melakukan kesalahan kepada diri sendiri. Jika terus dipendam akan menjadi masalah yang lain seperti tidak percaya diri, menganggap diri sendiri adalah kegagalan. Bahkan dampak dari tidak memaafkan diri sendiri bisa lebih parah daripada tidak memaafkan orang lain (Hall & Fincham, 2005). Perasaan tersebut dapat mengganggu aktivitas kita di masa depan sehingga penting untuk segera memaafkan diri dan menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam memaafkan diri sendiri terdapat tahapan yang perlu dilewati, yaitu (Jacinto & Edwards, 2011):
ADVERTISEMENT

"Sometimes we have to go deep inside ourselves to solve our problem"

  1. Recognition, yaitu mengakui bahwa memaafkan diri bukanlah sebuah kesalahan.
  2. Responsibility, bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuat.
  3. Expression, Mengekspresikan emosi yang sedang dialami seperti menangis sehingga emosi yang kita rasakan dapat dikeluarkan tentunya dengan cara yang tidak merugikan orang lain.
  4. Recreating, menciptakan citra baru yang mengakui kesalahannya dan “move on” melihat ke masa depan.
Referensi
Alam, J., & Ansari, M. (2019). Role of forgiveness on life satisfaction among college students. International Journal of Novel Research in Humanity and Social Scienes, 6(6), 12–22. https://www.noveltyjournals.com/upload/paper/ROLE OF FORGIVENESS ON LIFE SATISFACTION-2104.pdf
Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2005). Self-forgiveness: The stepchild of forgiveness research. Journal of Social and Clinical Psychology, 24, 621–637
ADVERTISEMENT
Jacinto, G. A., & Edwards, B. L. (2011). Therapeutic stages of forgiveness and self-forgiveness. Journal of Human Behavior in the Social Environment, 21, 423–437.
Lopez, S.J., Pedrotti, J.T., Snyder C. (2017). Positive Psychology The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths (3 rd). California: Sage Publications
Martha, K., & Kurniati. (2018). Efektivitas therapy pemaafan dengan model proses dari enright untuk membantu remaja korban perceraian dalam memaafkan orang tua. Jurnal Psikologi, 11(1), 10-24
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020