Untitled Image

Akankah Intrik Pemilu AS 2020 Mengakhiri Abad Amerika?

Jurnalis Liputan Khusus kumparan
11 November 2020 12:11
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Akankah Intrik Pemilu AS 2020 Mengakhiri Abad Amerika? (308648)
searchPerbesar
Presiden AS Donald Trump dan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden. Foto: Reuters
Dalam sebuah buku ringkas yang terbit pada 2015 lalu, pakar politik internasional Joseph Nye berusaha menggarap introspeksi atas bangsa besar nan powerful bernama Amerika Serikat (AS).
ADVERTISEMENT
Judul buku yang ditulis Nye itu berbentuk pertanyaan yakni Apakah Abad Amerika Telah Berakhir? (Is The American Century Over). Dalam bukunya, ia mempertanyakan kepemimpinan AS dalam kancah politik global.
Buku itu berangkat dari tesis kemungkinan terjadi pergeseran kekuatan (power shifts) dunia. AS diduga mengalami kemunduran (relative decline) dengan bangkitnya kekuatan China berdasarkan persepsi publik dalam survei Pew Research Center 2014.
Mengangkat asumsi bahwa kekuatan (power) merupakan kemampuan negara untuk memengaruhi negara lain agar sesuai dengan keinginan negara tersebut, Nye melihat bahwa kemampuan China belum sepenuhnya menggeser AS.
Menurut Nye, China belum sepenuhnya mengungguli AS dalam 3 dimensi kekuatan yakni militer, ekonomi, dan soft power (pengaruh nilai-nilai politik, kultural, dan kebijakan luar negeri). Basis itu dijadikan klaim AS masih memegang peran sentral dalam perimbangan kekuatan global.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, Nye tidak memungkiri adanya ancaman kemunduran absolut (absolute decline) AS dengan merebaknya masalah domestik yang tak kunjung usai. Salah satunya ialah ketidakpastian dalam aspek sistem dan institusi politik.
Para pengamat disebut meyakini adanya kemacetan dalam sistem politik AS. Hal ini berdampak pada tersendatnya konversi sumber daya politik domestik menjadi power outcome yang membuat AS memiliki pengaruh di kancah global.

"Masyarakat Amerika tidak sedang mengalami kemunduran karena situasi perekonomian secara keseluruhan relatif kuat, tetapi sistem politik telah menjadi sasaran kerusakan yang cukup besar."

- Joseph Nye (2015) mengutip Francis Fukuyama

Nye berpendapat bahwa, dibandingkan dengan masa lalu, politik partai menjadi lebih terpolarisasi, tetapi politik yang buruk kembali ke masa lalu para pendiri bangsa. Pertanyaannya seberapa burukkah keadaan politik bangsa adidaya itu kini dibanding yang lampau?
Akankah Intrik Pemilu AS 2020 Mengakhiri Abad Amerika? (308649)
searchPerbesar
Seorang demonstran angkat tangan di depan polisi saat protes sehari setelah Hari Pemilihan di Portland, Oregon. Foto: Goran Tomasevic/Reuters
Kiranya, kita bisa menilai dari pemilu AS 2020 yang mengusung kandidat capres Donald Trump melawan Joe Biden saat ini. Gelombang demonstrasi dan kerusuhan merebak di sejumlah wilayah, bentrok masyarakat-aparat pun tak terelakkan merespons hasil pemilu yang tak memuaskan salah satu atau masing-masing kandidat presiden.
ADVERTISEMENT
Memang demonstrasi dan bentrok semacam itu bukan yang pertama terjadi. Preseden memperlihatkan sengketa pascapemilu berujung kerusuhan pernah ada pada 2000, saat Bush vs Al Gore memperebutkan suara di Florida. Bahkan, kemenangan Abraham Lincoln pada 1860 membuat AS di ambang perang saudara setelah 7 negara bagian memisahkan diri.
Meski demikian, boleh dikata jika pemilu AS saat ini bisa lebih buruk dibanding masa-masa tersebut. Sebab apa yang terjadi pada sistem politik demokrasi AS ini sudah menjadi percontohan bagi negara-negara lain.
Komunitas internasional kadung beranggapan bahwa negeri Paman Sam memiliki kedewasaan dalam berpolitik. Ia bahkan berani mendikte negara-negara lain agar memiliki sistem politik serupa. Keyakinan semacam ini sudah termaktub sejak abad 19 saat kemunculan frasa Manifest Destiny.
ADVERTISEMENT
Amerika selalu mempromosikan demokrasi (demokratisasi) ke negara-negara lain sebagai sistem politik yang 'menjanjikan'. Meskipun, dalam perjalanannya hal itu dilakukan dengan jalan kekerasan dan memaksa.
Karin von Hippel menggambarkan dengan baik hal tersebut dalam Democracy by Force (1999). Hippel melihat AS menggunakan intervensi militer sebagai instrumen melakukan demokratisasi di berbagai negara seperti Vietnam, Panama, Somalia, Haiti, and Bosnia hingga negara-negara di Amerika Tengah.
Jika kemudian demokrasi yang diperjuangkan AS di negara-negara lain ternyata tak terealisasi secara apik di negara sendiri, hal itu bak menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.
Proses politik AS tengah menjadi sorotan komunitas internasional saat ini. Terutama saat ada upaya Trump mengeklaim kemenangan hingga menuduh terjadinya kecurangan saat pemilu.
ADVERTISEMENT
Oleh misi observasi dari OSCE Office for Democratic Institutions and Human Rights (ODIHR) and the OSCE Parliamentary Assembly (OSCE PA), upaya tersebut disebut merusak kepercayaan atas demokrasi.
"Tuduhan tak berdasar atas defisiensi sistematik, terutama oleh calon petahana, termasuk pada malam pemilihan, merusak kepercayaan publik pada lembaga demokrasi," catat Michael Georg Link, pemimpin misi observasi OSCE.
Komentar semacam ini tentu saja bisa menurunkan derajat AS di mata komunitas internasional. Nilai-nilai demokrasi yang selama ini dianggap menjadi sumber soft power AS justru rusak saat berhadapan dengan sistem politik AS itu sendiri.
Akankah Intrik Pemilu AS 2020 Mengakhiri Abad Amerika? (308650)
searchPerbesar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Rabu (4/11). Foto: Carlos Barria/REUTERS
Hingga kini, Trump belum mengakui kemenangan Biden sepenuhnya. Apabila ada skenario transisi kekuasaan berjalan tak mulus, tentu ini bisa jadi bumerang bagi AS sendiri.
ADVERTISEMENT
Ide dasar Abad Amerika (American Century) yang dikemukakan Nye ialah Amerika tetap menjadi kekuatan yang memimpin dalam perimbangan kekuatan global. Menjadi leading power berarti sikap dan tindak-tanduknya akan diikuti atau jadi patokan bagi negara-negara lain.
Lantas, apakah sengketa pemilu AS 2020 dan intrik yang diakibatkannya mampu mengakhiri Abad Amerika? Jawabannya belum tentu.
Kondisi politik dalam negeri AS adalah 1 dari 3 dimensi power Nye, yakni soft power. Dua dimensi power lainnya yaitu kemampuan militer dan ekonomi AS mungkin masih bisa menopang keteguhan Abad Amerika.
Namun, pastinya intrik dalam pemilu berpotensi merusak kredibilitas AS menjadi leading power dan teladan demokrasi. Ini berpotensi menjadi tantangan bagi presiden pemenang pemilu Joe Biden meyakinkan AS akan tetap menjadi mercusuar bagi dunia.
ADVERTISEMENT
"Malam ini seluruh dunia menyaksikan AS, dan saya percaya bahwa yang terbaik, AS adalah mercusuar bagi dunia. Kami akan memimpin tidak hanya dengan contoh kekuatan kami, tetapi dengan kekuatan teladan kami," kata Biden di Chase Center, Wilmington, Delaware, Sabtu (7/11), dilansir Fox News.
Bagaimana mungkin AS ke depan akan menjadi kekuatan teladan negara lain sedang di negaranya sendiri mengalami kekusutan proses berdemokrasi? Dunia akan menilai.