• 0

USER STORY

Hadiah Imlek.
Pagi-pagi sekali Nyonya terbangun. Perempuan itu memberiku sebuah bingkisan. Ia menyerahkannya padaku dengan senyum gembira.
“Lala, ini untukmu. Bukalah …!”
“Apa ini Nyonya? Toce.” (Terimakasih) kataku sebelum kemudian membukanya.
Sebuah Sweater berwarna pink muda dihadiahkan untukku. Dalam hati berkata, ini pasti mahal. Bahannya sangat halus dan lembut.
“Kamu harus memakainya di hari pertama Imlek ya.”
Aku mengangguk senang.
“Oh ya, ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan pada hari pertama imlek, tolong ambil kertas dan catatlah.”
Perempuan berwajah keibuan di hadapanku selalu mengajarkan untuk selalu mencatat apapun, supaya tidak ada pekerjaan yang terlewatkan. Istilah kerennya adalah sebuah time table.
Aku bergegas ke kamar dan kembali dengan selembar kertas juga bolpoint di tangan.
“Sebelum hari raya, kamu bersihkan seluruh ruangan dan semua perabot rumah menggunakan daun jeruk (lokyau yip) yang akan aku beli. Siapkan pula beberapa kaleng makanan di dapur untuk menjamu keluarga yang akan hadir. Malam hari sebelum kamu tidur buanglah semua sampah terlebih dahulu, sebab di hari pertama Imlek kamu tidak boleh bersih- bersih dan membuang sampah."
“Timkaya?” (Mengapa?) tanyaku.
“Karena jika kamu bersih-bersih dan membuang sampah, dianggap telah membuang rezeki yang ada di rumah.
“Meng Emeng?” (Mengerti tidak?)
“Ngo Mengpak, Dhai-Dhai.” (Saya mengerti Nyonya). Bahasaku sudah mulai lancar.
“Good …!”
“Pagi harinya, kita semua akan pergi sembahyang, lalu kamu siapkan makanan yang ada di lemari Es untuk sarapan, lalu kita pergi ke rumah nenek untuk berhari raya. Di sana nanti, kamu bantu nenek menyiapkan teh untuk tamu dan juga makan malam. Jangan lupa selalu ceria ya.”
Perempuan di hadapanku tersenyum lalu kembali ke kamarnya guna bersiap ke kantor. Sementara aku pergi membangunkan anak-anak untuk persiapan pergi ke sekolah.
ChingChing sudah bangun dan menggosok gigi, sedangkan LingLing, sang kakak masih bersembunyi di balik selimut tebalnya. Memang agak susah membangunkannya.
Tak jarang ia memarahiku saat membangunkan. Aku sudah terbiasa dimarahi. Karena sejak kedatanganku, perempuan yang semula kukira lelaki adalah seorang gadis. Potongan rambut dan wajah serta kelakuannya seperti laki-laki. Aku baru mengetahuinya setelah sekolah sudah aktif dan aku menyetrika seragam sekolahnya.
Waktu menunjuk pukul 06:50 pagi, aku harus segera mengantar mereka turun sebelum terlambat. Tas ransel yang begitu berat harus kubawakan. Namun LingLing tak pernah mau aku bantu. Sejak kedatanganku, putri pertama Mrs. Chan memang tidak menyukaiku, berbeda dengan si kecil, ChingChing. Gadis cantik berusia 6 tahun itu langsung akrab denganku. Bahkan tak mau berpisah dariku.
Sebagai seorang pembantu aku harus sabar dan belajar menerima kenyataan pahit dalam bekerja. Asalkan tidak ada kekerasan.
***
Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Semua orang bersuka cita menyambut hari raya china. Ruangan berhias bunga dan pohon jeruk mini juga hiasan warna merah menambah ceria suasana.
Hal pertama yang harus aku lakukan adalah mengucapkan selamat pagi dan ucapan selamat hari raya china kepada keluarga majikan. Aku membawa catatan bagaimana cara pengucapan selamat tersebut supaya tidak salah. Beberapa hari yang lalu Nyonya sudah mengajariku.
“Kung Hei Fat Choi, adalah ucapan yang sudah kuhafal di luar kepala. Yang artinya adalah semoga anda semakin sukses dan kaya.
“San Dai Kin Hong, semoga anda selalu sehat. Biasanya ditujukan untuk orang yang lebih tua. Seperti kakek dan nenek.
“Hok Yip Jun Po, semoga sekolahnya lancar dan tambah maju. Ditujukan untuk anak-anak yang masih sekolah.
Dan masih banyak lagi. Dengan tatakrama menyatukan dua telapak tangan ke depan dada saat mengucapkannya.
Nyonya memberi dua Amlop berwarna merah kepadaku sambil mengucapkan selamat.
“Lala, ini untukmu. Nanti kamu akan dapat banyak amplop dari keluargaku. Tolong jangan dibuka dulu sebelum hari raya berakhir. Setidaknya 15 hari dari sekarang, karena uang dalam amplop adalah suatu keberkahan.”
“Baik Nyonya, terimakasih.” Aku menerima dengan senang hati.
Usai memberi Ampaw, mereka pergi sembahyang dan aku mempersiapkan sarapan serta melanjutkan silahturahmi ke keluarganya sampai malam hari.
Cukup melelahkan, Namun aku senang karena banyak ampaw yang kukantongi. Saat itu aku belum mengerti tradisi mereka di hari raya imlek. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa.
Libur Imlek
“Apakabar Ra?” Dapat berapa ampaw lebarannya?” Tanya Vero menyelidik.
“Tidak tahu, kan belum aku buka. Nyonya bilang itu adalah amplop keberkahan, jadi dibukanya nanti, nunggu diperbolehkan.” Jawabku jujur.
“Ha-ha-ha.” Vero tertawa liar.
“Emangnya kamu percaya? Itu kan tradisi mereka. Kita tidak perlu menunggu sampai hari itu. Lumayan uangnya bisa dikirim pulang dulu. Nih lihat aku dapat $1500.” Vero menunjukkan uang baru yang di dapatnya di hari raya china.”
“Wah banyak sekali, Ver …!”
‘Iya. Dari majikanku dapat $1000, dan sisanya dari keluarganya, ada yang $10, $20, $50.
Masing-masing keluarga yang sudah bekerja pasti memberi dua amplop. Tapi isinya berbeda-beda.
“Aku mulai goyah, sepulang dari liburan, bergegas ke kamar mengambil ampaw dan membawanya ke toilet. Di sana aku mulai mengintip satu persatu isi dalam Amplop yang rata-rata berisi $20. Aku tersenyum. Inilah rezekiku. Walaupun tak sebanyak rezekinya Vero, Aku sangat senang sekali.
Dua amplop terakhir kubuka, ialah amplop dari Nyonya yang bersi masing-masing $200. Alhamdulillah batinku. Ini berarti majikanku masih menghargai pembantunya. Karena ada temanku yang hanya dikasih $20 oleh majikannya.
Rezeki harus selalu disyukuri, karena seberapa banyak kita berikhtiar, sebanyak itu pula rezeki akan didatangkan oleh Allah. Alhamdulillah.

Uang baru dalam red pocket

BRICeritaDariHongKong

presentation
500

Baca Lainnya