Buzz
·
13 September 2021 18:28
·
waktu baca 4 menit

Salahuddin Pembawa Berkah Kebaikan

Konten ini diproduksi oleh Agus Sarkoro
 Salahuddin Pembawa Berkah Kebaikan (101822)
searchPerbesar
Ilustrasi Orang Mengaji (Sumber: freepik)
Ketika Tuhan sudah menetapkan kehendak untuk memberi kebaikan kepada hamba-Nya, menolak pun kita tak mampu. Dan ketika seseorang telah tertakdir untuk memberi kebaikan kepada sesamanya, ia selalu punya acara untuk menderma kebaikannya itu. Seperti yang saya alami berpuluh tahun yang lalu.
ADVERTISEMENT
Suatu sore, ketika saya naik angkot dalam perjalanan pulang kerja, seorang laki-laki duduk di sebelah saya. Perawakannya lumayan tinggi, kulit putih, mata lebar, hidung mancung, ramah dan santun tutur katanya. Perjalanan yang cukup jauh, dari tempat kerja ke rumah memaksa kami akhirnya bertegur sama untuk mengusir kesepian sepanjang perjalanan. Kebetulan penumpang angkot hanya kami berdua saja.
Dia memperkenalkan dirinya bernama Salahudin, asal Jombang, lulusan ITB, pernah bekerja di PT DIrgantara Indonesia. Dari pakaian yang dikenakan, dan logo perusahaan di sisi depan topi yang di pakai, kelihatan dia bekerja di sebuah perusahaan minyak swasta asing.
Begitu asyiknya kami mengobrol, tanpa terasa perjalanan hampir sampai ke rumah saya. Berdalih ingin melanjutkan obrolan di angkot, dia menawarkan diri untuk ikut turun bareng, dan singgah di rumah kontrakan saya. Sampai dirumah, kami mengobrol sampai malam.
ADVERTISEMENT
Esok harinya, menjelang maghrib, teman baru saya ini datang ke rumah lagi. Kaget juga saya. Dia cerita kalau sedang mencari kontrakan, karena sejak seminggu kedatangannya di kota tempat saya tinggal ia menginap di hotel.
Kebetulan waktu itu hujan sampai malam. Karena sudah larut, saya menawarkan dia menginap di rumah saja. Dirumah saya ada 3 kamar. Satu kamar utama, kamar anak, dan kamar adik saya. Salahuddin saya tawari untuk tidur dengan Agus, adik saya.
Pagi hari, selepas salat subuh, saya ngobrol dengan Salahudiin dan adik saya. Di tengah obrolan itu, Salahudin meminta ijin untuk tinggal dirumah, satu kamar dengan adik saya. Rupanya semalam dia dan adik saya sudah berembug tentang ini. Sebenarnya saya nggak enak, karena rumah yang saya tempati di ujung gang, jauh dari jalan raya, bangunan tua, rumah kontrakan pula. Tetapi karena dia begitu yakin ingin tinggal membuat saya tidak punya pilihan selain menerimanya.
ADVERTISEMENT
***
Begitulah, akhirnya ada tambahan anggota keluarga di rumah saya. Salahuddin ternyata orang yang sangat alim, ilmu agamanya sangat tinggi. Katanya, ia lulusan Pondok Tebu Ireng di Jombang. Ia mengajari saya mengaji. Maklumlah saya waktu itu belum lancar membaca al-Qur’an. Dua anak saya yang berumur 6 dan 4 tahun juga diajari mengaji, rutin setiap hari. Begitu juga adik saya.
Sejak kehadiran tamu yang tak diundang ini, rumah saya berubah layaknya pondok pesantren. Setiap pagi selepas salat subuh, kami mengaji bersama. Bukan hanya mengaji baca Al-Quran saja, tetapi juga tausiyah tentang berbagai ilmu, karena dia bukan hanya pandai ilmu agama, tapi juga ilmu apa saja. Pantaslah, karena dia lulusan ITB.
Bukan hanya mengajar kami mengaji, selama 2 tahun dia tinggal di rumah saya, dia membayarkan biaya kontrak rumah. Meskipun saya sebenarnya nggak enak, tapi dia memaksa dengan membayar langsung ke pemilik rumah tanpa sepengetahuan saya. Untuk ukuran gaji dia yang jauh di atas gaji saya waktu itu, membayar kontrak rumah adalah masalah sepele.
ADVERTISEMENT
Dan selama 2 tahun itu pula, kehidupan kami berubah dibuatnya. Saya jadi lancar membaca Al-Quran, rajin mengaji, dan wawasan ilmu agama saya bertambah bagaikan orang yang mondok di pesantren. Terlebih lagi anak saya. Nilai rapornya bagus-bagus, lancar membaca Al-Quran, juga rajin salat.
Tepat menginjak tahun ketiga, dia pamit pulang ke Jombang. Meskipun saya yakin dia banyak uang, tetapi ia lebih memilih naik kapal daripada naik pesawat. Dan setelah kepergiannya itu, tak pernah ada kabar beritanya lagi sampai hari ini.
Kami sekeluarga dirumah sangat kehilangan dia. Saya sangat bersyukur, Allah telah mendatangkan seseorang, yang telah membimbing saya, anak-anak juga adik saya menjadi orang yang mengerti agama. Ia telah memberikan begitu banyak kebaikan. Saya bahkan sampai berpikir, jangan-jangan, orang yang bernama Salahuddin ini sebenarnya malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami.
ADVERTISEMENT
Saya berusaha mencari informasi tentang Salahudin lewat facebook dan lewat medsos lainnya. Rasanya, orang seukuran dia, untuk masa sekarang pastilah mempunyai akun di media sosial. Tetapi saya tetap tidak menemukannya. Banyak nama salahuddin tetapi itu bukan orang yang saya maksud. Saya ingin mencari alamatnya, tetapi, dulu dia tidak pernah memberi tahu detail alamat rumahnya. Nomor HP juga tidak ada, karena waktu itu belum ada handphone.
Atau mungkin dia telah meninggal, saya tidak tahu juga. Saya selalu mengingatkan anak-anak saya untuk selalu mendoakan dia dalam setiap salatnya. Jika dia sudah tiada, semoga amalnya menjadi jalan menuju surganya, jika dia masih hidup, semoga suatu saat kami bisa bertemu.

Mas Salahuddin, dimanapun njenengan berada, terima kasih atas segala bimbingan dan kebaikanmu. Kami berjanji untuk menyebarkan kebaikan yang pernah diajarkan kepada saya dan keluarga saya kepada siapa pun.

Teruslah berbuat baik, karena kebaikan itu menular
ADVERTISEMENT