Tangis Gus Mus yang Dilupakan

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah
Tulisan dari Agus Sukoco tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya masih ingat betul ketika Gus Mus menangis di acara perhelatan akbar NU, muktamar ke-33 di Jombang Jawa Timur. Sebuah tangis yang seharusnya menjadi fokus pembelajaran dan pemantik kewaspadaan kita bersama sebagai nahdliyin dan sebagai bangsa Indonesia.
Apa yang membuat seseorang yang sudah tidak diragukan lagi kematangan ruhani, kadar intelektualitas, muatan cinta kebangsaan, dan reputasi pengabdiannya kepada umat itu menangis. Tangis itu seperti berlalu begitu saja. Kesedihan batin yang sampai meledak menjadi sesenggukan tangis seorang ulama sepuh tersebut seperti tak menjadi getaran apapun di hati masyarakat. Mustahil jika tidak ada hal besar yang memprihatinkan di arena agung muktamar itu.
Waktu berjalan dengan tanpa sedikit pun menyisakan tema tangis beliau. Semua seperti sedang tidak merasa harus mewaspadai ‘paweling’ dari Allah melalui tetes –tetes air mata salah seorang ulama pewaris nabi tersebut. Tangis Gus Mus di muktamar NU jombang sesungguhnya bisa menjadi sumber renungan bagi nahdliyin dan bangsa Indonesia.
Pilar besar kebangsaan, patok nilai nasionalisme, gudang raksasa berisi “harta karun” ajaran kearifan dan penjaga jati diri bangsa bernama NU seperti sedang terancam oleh sesuatu yang dengan jelas terbaca oleh ‘daya makrifati’ Gus Mus.
Ketika bangsa ini hendak mendirikan negara, NU adalah telaga nilai yang dijadikan sumber inspirasi utama oleh para pendiri negara. Di saat negara masih gagap dan tertatih di awal-awal berdirinya, NU setia menjalani tugas kepengasuhannya, dengan tetap berada disamping bayi NKRI, menjaga dari gangguan ‘angin jahat’ sejarah. Demikian takdir keberadaan NU, selalu saja hadir untuk menjadi pengayom bangsa.
NU sukses menjadi orang tua sejarah yang merawat NKRI dengan segala dinamikanya yang riuh dan penuh romantika. Peran kesejarahan NU di dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia hingga mencapai tahap seperti sekarang ini, tak bisa dibantah oleh siapapun. Fakta ini menjadi penting untuk terus dikabarkan kepada anak cucu sejarah, agar kelak generasi berikutnya mengerti bahwa menjaga NU adalah cara menjaga eksistensi Indonesia.
Posisi NU menjadi sedemikian penting di dalam menjaga eksistensi NKRI. NU adalah salah satu warisan ‘pusaka’ paling keramat yang harus terus dirawat tuahnya. Mandat itu terus dijalankan dengan hikmat oleh para ulama dari masa ke masa. Gus Mus adalah salah satu Kyai yang di pundak ke-ulama-annya memanggul amanat sejarah tersebut di era ini. Beliau pasti akan merasa hancur hatinya, gagal hidupnya dan tertekan mentalnya jika tugas tersebut tidak bisa dilaksanakan.
Tangis Gus Mus tentu berasal dari derita batin yang mendalam karena soal yang berkaitan dengan amanat itu. Karena tidak mungkin Kyai dan ulama sekaliber beliau menangisi masalah pribadi dan kepentingan keluarga. Gus Mus bukan kelasnya untuk bersedih hanya karena urusan-urusan duniawi yang remeh temeh. Gus Mus menangis pasti karena ada sesuatu yang membahayakan martabat NU dalam muktamar itu.
Dan kalau sampai Gus Mus menangis hingga sedemikian rupa, itu tentu karena tingkat bahaya dan virus tersebut sudah pada tingkat stadium yang mencemaskan.

Tak ada yang mencoba untuk melacak melalui kesungguhan analisis dan kekhusyukan renungan dengan berangkat dari tangis Gus Mus terhadap kondisi PBNU hasil muktamar Jombang. Tidak ada keberanian untuk menyimpulkan bahwa PBNU periode sekarang lahir dari muktamar yang ditangisi Gus Mus. Memang Gus Mus terlalu halus dan sopan untuk ‘tega’ berterus terang kepada khalayak soal sesuatu yang ditangisinya itu.
Seandainya Gus Dur masih ada, saya yakin beliau tidak sungkan untuk berterus terang. Indonesia memang butuh ‘watak’ Jombang yang terbuka dan berani mengabarkan kebenaran, segetir apapun resiko yang harus ditanggung. Karakter penyeimbang, mental pendobrak dan pribadi pencair kebekuan. Sejak Gus Dur wafat, Indonesia kehilangan sosok ‘bengal’ pengganggu kemapanan sejarah dan pembuat riak yang menyehatkan ikan pada sebuah kolam yang tanpa kecipak.
Tetapi, Tuhan masih menyanyangi NU dan bangsa Indonesia dengan mengetengahkan sosok jombang berikutnya, Emha Ainun Nadjib. Seorang yang dulu juga merupakan teman akrab Gus Dur. Sebenarnya sudah sejak lama beliau mengawal proses pendewasaan bangsa Indonesia. Bahkan ketika Gus Dur masih ada, Cak Nun sering bersama Gus Dur dalam acara-acara penting di NU.
Kiprah dan kontribusi besar Cak Nun di dalam perjalanan sejarah kebudayaan bangsa Indonesia membuat beliau menjadi tokoh yang cukup disegani di tanah air. Bahkan ketika rezim orde baru di ujung nafasnya, Cak Nun termasuk salah satu dari sembilan tokoh penting di negeri ini yang harus ditemui oleh Soeharto. Melalui tulisan, ceramah, seminar dan berbagai keterlibatan social lainnya, Cak Nun memberi kejutan-kejutan alternatif berpikir yang berlian.
Tidak banyak yang tahu, bahwa Cak Nun-lah yang merayu Gus Dur untuk berani tampil menjadi presiden ketika bangsa ini memang membutuhkan beliau untuk hadir meredam bahaya perpecahan bangsa.
Hari ini Cak Nun dipaksa oleh sejarah untuk membangunkan umat agar mengingat kembali tangis Gus Mus di muktamar NU Jombang. Melalui statement Cak Nun, mungkin kita sedang dibantu menerjemahkan makna air mata Gus Mus.
Tulisan ini mungkin terlalu spekulatif. Tetapi, teka-teki tangis seorang ulama besar semacam Gus Mus sudah seharusnya untuk dimaknai. Memang tak sopan secara kebudayaan dan akhlak untuk berprasangka buruk kepada sebuah forum agung sekelas muktamar NU. Namun, melupakan dan menganggap remeh tangis ulama besar seperti Gus Mus adalah juga sebuah sikap yang sembrono.
Rumah megah yang penuh dengan kemewahan nilai historis, kemuliaan pondasi teologis, dan eksotisme tradisi yang menghias dinding-dindingnya, bisa hancur ketika diurus oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Cahaya kesejarahannya akan redup dan hak kedaulatannya akan sirna kalau sertifikatnya digadaikan kepada rentenir kekuasaan politik.
