Generasi Emas 2045, Jadikah?

Saat ini sebagai guru di Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya. Penulis buku berjudul Pendidikan Bermakna, pandangan guru sekolah alam tentang pendidikan. Menyukai sesuatu berbasis lingkungan hidup, pendidikan, dan pengasuhan.
Konten dari Pengguna
31 Desember 2021 14:01
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Ahmad Mukhtar Fanani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Peta Indonesia, Foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/perjalanan-pendidikan-globe-peta-4715441/
zoom-in-whitePerbesar
Peta Indonesia, Foto: https://www.pexels.com/id-id/foto/perjalanan-pendidikan-globe-peta-4715441/
ADVERTISEMENT
Bonus demografi Indonesia tahun 2045 disambut dengan rencana pemerintah, menggaungkan “Generasi Emas 2045”. Bonus demografi bangsa Indonesia adalah usia produktif lebih banyak dibanding usia lainnya. Apakah bangsa ini mampu menangkap sebuah peluang besar ini sehingga menjadi bangsa maju?.
ADVERTISEMENT
Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki banyak potensi. Mulai dari potensi sumber daya alam yang beranekaragam, Potensi budaya hingga potensi sumber daya manusianya. Saking besarnya bahkan ada yang mengatakan Indonesia sebagai gambaran surga, negeri gemah ripah loh jinawi. Potensi luar biasa ini menjadi kurang berarti apabila yang mengelola atau sumber daya manusianya tidak berkualitas.
Dimulai dari mana untuk mencapai Indonesia emas 2045? Di tahun tersebut Indonesia memiliki bonus demografi mencapai 65-70 persen penduduk Indonesia adalah usia produktif. Pendidikan adalah faktor kunci, siswa mulai TK sampai SMA sekarang ini adalah yang akan memegang peranan penting bagi bangsa Indonesia ke depan.
Tantangan
Melihat situasi seperti saat ini, perubahan sosial yang luar biasa tengah terjadi, perkembangan media sosial yang membuat kita belum bisa mengontrol diri. seketika itu teringat ungkapan dari seorang Pujangga Jawa, Ronggowarsito “amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi, melu edan ora nahan, yen tan anglakoni, boya kaduman melik” (mengalami hidup di zaman edan, serba sulit menentukan sikap, ikut edan tidak tahan, kalau tidak ikut tidak mendapat bagian)
ADVERTISEMENT
Zaman edan seolah-olah seperti kondisi saat ini. Kondisi saat ini di mana kita sulit membedakan kebenaran dan ketidakbenaran, hoaks di mana-mana, perubahan gaya hidup, unggah-ungguh seakan-akan mengalami pergeseran..
Dalam sudut pandang lain, Prof Rhenald Kasali mengatakan situasi saat ini sebagai era disruption. Era di mana terjadi perubahan besar-besaran, teknologi yang mengarah ke internet adalah segala-galanya. Banyak di antara kita belum siap dan terengah-engah beradaptasi dengan perubahan, dalam buku Prof. Rhenald Kasali menyebut dengan “Terbelenggu dalam pola pikir lama, sehingga sulit menerima fakta fakta dan cara-cara baru”. Ditambah lagi situasi saat ini, terjadi pandemi COVID-19, yang menyebabkan percepatan teknologi tanpa diiringi kesiapan dalam aspek psikologi. Mayoritas kegiatan seperti Pendidikan dilakukan secara daring. Anak lebih banyak memegang gadget, interaksi sosial anak berkurang karena adanya pembatasan sosial.
ADVERTISEMENT
Perubahan kemajuan teknologi dan informasi di era 4.0, era serba cepat, era disrupsi, tidak hanya berpengaruh pada tatanan bisnis, atau pada sisi-sisi ekonomi. Gelombang 4.0 juga berpengaruh pada ruang sosial seperti ruang pendidikan dan pola hubungan keluarga.
Orang Tua dan Guru, Sang Penjaga Gawang
Percepatan teknologi ditambah aspek pandemi COVID-19 menyebabkan perubahan-perubahan sosial. Untuk mengawal tumbuh kembang anak, kita perlu mengawal Indonesia Emas 2045, yang menjadi sebuah pertanyaan, siapa yang mengawal hal tersebut? (punya pengaruh besar).
Dari beberapa teori psikologi, yang sangat mempengaruhi seseorang adalah lingkungan terdekat anak. Teori Ekologi Bronfebrenner (Psikologi Pendidikan;2004) menekankan pada konteks di mana anak tinggal dan orang orang yang mempengaruhi perkembangan anak dan Teori Erikson melengkapi analisis dari bronfenbenner terhadap konteks sosio di mana anak tumbuh dan orang-orang yang penting dalam kehidupan anak (1902-1994). Lingkungan terdekat anak-anak saat ini adalah lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga.
ADVERTISEMENT
Kondisi perubahan sosial yang serba cepat, diperlukan kolaborasi yang apik antara dua lingkungan terdekat anak yakni guru dan orang tua untuk mengawal perkembangan anak.
Menjadi Pendidik Growth Mindset
Generasi Emas 2045, Jadikah? Sebuah pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh kita sebagai bangsa. Pemerintah menggalakkan program pendidikan karakter dan pelajar pancasila, dan lain sebagainya. Dalam bahasa lain pemerintah meyakini karakterlah yang paling utama karena karakterlah kita bisa beradaptasi dengan zaman.
“Karakter” sebuah kata yang mudah diucapkan namun perlu kesadaran semua pihak untuk melaksanakan, perlu orang orang yang growth mindset, sehingga tantangan yang ada menjadi sebuah motivasi diri. Growth mindset, menjadikan kendala sebagai tantangan dan peluang.
Selalu tumbuh, Sumber : Foto oleh Singkham dari Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Selalu tumbuh, Sumber : Foto oleh Singkham dari Pexels
Growth mindset sudah tertanam secara tidak langsung oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara. Seperti apa growth mindset tersebut? Ketika melihat kembali semboyan pendidikan “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” (di depan, (guru) memberi teladan, di tengah (guru) memberi ide, di belakang (guru) memberi dorongan). Melihat semboyan tersebut, kita menjadi berpikir bahwa pola pikir yang ingin dikembangkan adalah pola pikir yang growth mindset. Pola pikir yang selalu membuat siswa selalu berkembang.
ADVERTISEMENT
Segala tantangan yang ada, perlu seorang guru atau orang tua yang mempunyai pola pikir growth mindset, pola pikir yang terbuka, sehingga mampu beradaptasi dengan tantangan yang ada dalam mengawal tumbuh-kembang anak. Guru dan orang tua akan membuat suasana lingkungan anak menjadi positif seperti kutipan syair dari Doronty Law Nolte “Jika anak dibesarkan dengan dorongan/semangat, mereka belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, mereka belajar sabar. Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka belajar menghargai”
Dan untuk membuat anak yang growth mindset harus dimulai guru/orang tua yang growth mindset, yang berpikir solusi, yang menganggap kendala adalah tantangan dan peluang. Indonesia Emas 2045, Bisa!
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020