Konten dari Pengguna
Interseksionalitas dalam Feminisme Kontemporer
25 November 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Interseksionalitas dalam Feminisme Kontemporer
Interseksionalitas dalam feminisme menunjukkan bahwa pengalaman perempuan tidak sama. Identitas seperti kelas sosial, agama, etnis, orientasi seksual, dan latar budaya membentuk hambatan yang berbeda.Ahmad Zakaria
Tulisan dari Ahmad Zakaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Pembahasan tentang feminisme sering berhenti pada anggapan bahwa semua perempuan memiliki pengalaman yang sama. Pendekatan seperti ini sudah tidak cukup. Interseksionalitas menawarkan cara melihat ketidakadilan gender dengan lebih lengkap. Pendekatan ini menjelaskan bahwa pengalaman perempuan dipengaruhi juga oleh kelas sosial, agama, etnis, orientasi seksual, dan kondisi budaya. Akibatnya, ketidakadilan yang mereka hadapi tidak pernah berdiri sendiri (Jannah & Mauliya, 2025).
ADVERTISEMENT
Pendekatan interseksional juga penting untuk melihat keragaman kondisi perempuan di Indonesia. Perempuan di kota besar memiliki hambatan yang berbeda dari perempuan di daerah terpencil. Ada pula perempuan dari kelompok minoritas yang menghadapi tekanan berlapis. Interseksionalitas membantu kita membaca perbedaan ini dengan lebih tepat (Jannah & Mauliya, 2025).
Interseksionalitas menjadi penting karena kebijakan publik sering menyederhanakan persoalan perempuan. Kebijakan yang tidak mempertimbangkan keragaman identitas sering gagal menjangkau kelompok yang paling rentan. Misalnya, program pemberdayaan ekonomi dapat bermanfaat bagi perempuan berpendidikan, tetapi tidak menjangkau perempuan yang bekerja di sektor informal tanpa perlindungan. Penguatan hukum terkait kekerasan berbasis gender dapat berjalan baik di kota besar, tetapi masih sulit diterapkan di wilayah yang memiliki norma sosial kaku.
ADVERTISEMENT
Feminisme kontemporer memanfaatkan interseksionalitas untuk menciptakan solusi yang lebih inklusif. Pendekatan ini mendorong pembuat kebijakan memperluas akses, partisipasi, dan kesempatan bagi perempuan. Intervensi harus berbeda sesuai kebutuhan kelompok yang berbeda. Perempuan harus dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Bukan sebagai objek budaya, tetapi sebagai aktor sosial (Kiranantika, 2022).
Interseksionalitas memberi kita alat untuk memperbarui nilai dan norma sosial. Proses ini penting di masyarakat multikultur seperti Indonesia. Kesetaraan gender tidak cukup dicapai melalui aturan formal. Perlu perubahan cara berpikir, pengakuan terhadap pengalaman perempuan yang beragam, keberanian menolak privilese patriarki yang selama ini dianggap biasa (Kiranantika, 2022).
Feminisme yang bekerja dengan cara pandang interseksional lebih dekat dengan realitas sehari-hari. Pendekatan ini membantu kita melihat siapa yang mendapatkan manfaat dan siapa yang tertinggal. Indonesia membutuhkan cara berpikir seperti ini agar kebijakan dan praktik sosial menjadi lebih adil bagi semua perempuan, tanpa terkecuali.
ADVERTISEMENT
Interseksionalitas bukan sekadar teori. Pendekatan ini memberi cara pandang yang lebih jujur terhadap keragaman pengalaman perempuan. Masyarakat dapat memahami bahwa kesetaraan tidak tercapai hanya dengan satu perubahan. Dibutuhkan kebijakan yang peka terhadap konteks, data yang akurat, serta pengakuan atas identitas perempuan yang beragam. Dengan cara pandang ini, gerakan feminisme dapat bergerak lebih inklusif dan menghasilkan keadilan yang lebih nyata bagi perempuan di Indonesia.

