News
·
10 April 2021 16:03

Nadiem Makarim, KKN, dan IKU

Konten ini diproduksi oleh aidilpananrang
Nadiem Makarim, KKN, dan IKU (557647)
Nadiem Makarim di Kampus Institut Teknologi Kalimantan (Dokumentasi Pribadi)
“Tidak apa gagal, artinya kita sudah berusaha. Kalau tidak pernah gagal jangan-jangan kita belum melakukan apa-apa,”ujar Nadiem Makarim.
ADVERTISEMENT
Sebuah kuotasi yang sangat memotivasi untuk terus berinovasi, meski cocok juga memotivasi para pejuang asmara yang baru ditolak cintanya, waw.
Pekan kemarin ketika berkunjung ke Institut Teknologi Kalimantan (ITK), saya melihat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang akrab disapa Mas Menteri (selanjutnya saya singkat MM, biar gak capek ngetiknya) meresmikan laboratorium ITK. Meski tidak sempat ngajak beliau ngopi, ya semoga pasca membaca tulisan ini saya diajak ngopi.
Sejujurnya, di awal pembentukan kabinet, saya cukup pesimis dan skeptis dengan penunjukan MM sebagai menteri. Ya, semacam ibu-ibu di grup WhatsApp pada umumnya, “Tau apa MM soal pendidikan? Kenapa bukan Aldi Taher saja yang ditunjuk?” Namun, melihat paparan MM di ITK kemarin, sedikit banyak membuka pemikiran saya mengapa MM ditunjuk menjadi Mendikbud.
ADVERTISEMENT
Tetap, tidak ada manusia yang sempurna pasti ada kelebihan dan kekurangan. Begitupun MM yang saya yakini masih punya banyak PR dalam mengentaskan problematika pendidikan di Indonesia, dan apa-apa yang dirasa kurang tepat tentu perlu kita kritisi, namun kalau ada hal yang baik sesekali juga tidak ada salahnya kita apresiasi.
Kali ini, saya ingin sedikit membahas perihal kebijakan MM utamanya mengenai hak belajar tiga semester diluar program studi, dan juga Indikator Kerja Utama (IKU) Universitas.

Merdeka Belajar dengan Tiga Semester Diluar Program Studi.

Ada baiknya kita merefleksikan terlebih dahulu empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu (1) Learning to know (2) Learning to do (3) Learning to be dan (4) Learning to live together.

Kenapa pilarnya cuma empat? Agar sehat, kalau lima jadi sempurna, sedangkan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. (Ini bercanda ya, jangan diaduin ke UNESCO).

ADVERTISEMENT
Poin pertama learning to know menekankan bahwa pendidikan seyogyanya membuat kita bisa menguasai atau mengetahui ilmu pengetahuan, poin kedua menekankan bagaimana kita mampu mengaplikasikan ilmu yang kita ketahui, poin ketiga bagaimana kita dapat menjadi diri sendiri atau pemahaman kita terhadap diri, dan poin keempat adalah bagaimana kita bisa hidup bersama di tengah-tengah masyarakat.
Meski terkesan oversimplifikasi, tapi saya rasa apa yang dilakukan MM dengan berbagai arah kebijakannya dalam peta jalan pembangunan pendidikan Indonesia, termasuk di perguruan tinggi semua bermuara pada pemenuhan empat pilar pendidikan tersebut, semisal program kampus merdeka yang memberikan mahasiswa kesempatan belajar tiga semester diluar program studi, termasuk di dalamnya KKN Tematik.
Saya melihat ini mungkin berangkat dari permasalahan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang pada akhirnya tidak memiliki skill yang dapat menunjang penghidupannya, punya skill namun tidak relevan dengan kebutuhan pasar, tidak memiliki semangat entrepreneur karena mindset kampus sangat rigid dan kaku, ataupun punya skill namun tidak mampu berbaur di tengah-tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
Kesempatan belajar tiga semester diluar program studi agaknya mampu sedikit banyak mengikis persoalan-persoalan tersebut, termasuk KKN Tematik. Mungkin ada yang bilang “KKN Tematik mah sudah ada dari dulu,” namun pembobotan SKS terhadap KKN tematik belum sepadan dan terkesan sebatas formalitas, sedang program kampus merdeka mengarahkan agar kegiatan belajar diluar program studi ini setara dengan 20-40 SKS dalam rentang 6-12 bulan.
Program belajar tiga semester diluar program studi ini juga memungkinkan mahasiswa belajar di program studi lain untuk mengasah keterampilan ataupun memperluas khasanah pengetahuan sesuai dengan minat bakatnya, memperluas circle pergaulan, dan kemampuan beradaptasi dengan bidang keilmuan lainnya. Termasuk di dalamnya juga memungkinkan melakukan KKN di perusahaan-perusahaan untuk mendapatkan real-job experience, sebelumnya juga MM mengajak industri untuk berkolaborasi dengan dunia pendidikan (Selengkapnya baca di sini).
ADVERTISEMENT
Intinya, kebijakan ini (KKN dan Magang) memang telah dilakukan juga sebelum MM menjabat, namun ke depan ingin diperpanjang durasinya, diperluas jangkauannya, dibuat lebih tepat sasaran dan diberi kredit perkuliahan (SKS) yang lebih besar agar sepadan dengan waktu dan tenaga yang diluangkan oleh para mahasiswa.

8 Indikator Kerja Utama (IKU) Universitas

Di ITK, MM juga sempat bercerita tentang delapan indikator IKU (Indikator Kerja Utama, bukan Iku=Itu, dalam bahasa jawa ya). Secara sederhana, kementerian akan memberikan tambahan pendanaan terhadap PTN yang mencapai target IKU nya.
“Nah loh apakah berarti pendanaan terhadap PTN yang sebelum-sebelumnya dikurangi ?” Tentu tidak, ferguso.
Pendanaan PTN saat ini terbagi atas dua alokasi, yaitu alokasi dasar (berdasarkan kinerja penyerapan tahun-tahun sebelumnya) ditambah dengan afirmasi (untuk membantu perguruan tinggi yang tertinggal). Sedangkan pendanaan PTN yang baru terdiri dari tiga alokasi, yaitu alokasi dasar (berdasarkan jumlah mahasiswa, jumlah prodi, dan mutu), afirmasi (membantu perguruan tinggi yang tertinggal dan paling terdampak pandemi), dan insentif (berdasarkan capaian IKU).
ADVERTISEMENT
Kenapa harus ada insentif peningkatan pendanaan berdasarkan capaian IKU? Setidaknya ada tiga tujuan utama dalam peningkatan pendanaan tersebut, pertama agar lulusan agar lebih mudah mendapat pekerjaan dan berpenghasilan lebih layak, kedua agar dosen lebih mengerti kebutuhan masyarakat dan industri, dan ketiga kurikulum lebih mengasah keterampilan kolaborasi dan pemecahan masalah.
Lantas apa delapan IKU Universitas yang perlu jadi perhatian perguruan tinggi untuk mendapatkan peningkatan pendanaan ini?
1. Lulusan mendapat pekerjaan yang layak dengan upah di atas upah minimum regional, menjadi wirausaha, atau melanjutkan studi.
2. Mahasiswa mendapatkan pengalaman di luar kampus melalui magang, proyek desa, mengajar, riset, berwirausaha, serta pertukaran pelajar.
3. Dosen berkegiatan di luar kampus dengan mencari pengalaman industri atau berkegiatan di kampus lain.
ADVERTISEMENT
4. Praktisi mengajar di dalam kampus atau merekrut dosen yang berpengalaman di industri.
5. Hasil kerja dosen (hasil riset dan pengabdian masyarakat) dapat digunakan masyarakat dan mendapatkan rekognisi internasional.
6. Program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia baik itu dalam kurikulum, magang, maupun penyerapan lulusan.
7. Kelas yang kolaboratif dan partisipatif melalui evaluasi berbasis proyek atau metode studi kasus.
8. Program studi berstandar internasional dengan akreditasi atau sertifikasi tingkat internasional.
Nah itu dia. Siapa tau yang baca tulisan ini ada bapak/ibu dosen, atau mahasiswa yang kehabisan bahan obrolan sama dosen pembimbing biar keliatan peduli sama kampus mungkin bolehlah menjadikan delapan IKU ini sebagai topik obrolan. Syukur-syukur skripsinya diterima. Hahaha.
ADVERTISEMENT
Mungkin segitu dulu yang bisa saya ceritakan. Pada intinya, memang tidak ada kebijakan ataupun keputusan yang bisa menyenangkan semua pihak, namun harus ada kebijakan yang diambil sebagai bentuk ikhtiar kita untuk menjadi lebih baik. Belum lagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sangat substantif dalam menentukan kemajuan bangsa ini, tentu amanah berat dan ekspektasi besar ada di pundak MM. Tetap buat teman-teman mahasiswa yang baca ini kita sama-sama terus memantau kinerja MM, kalau ada yang dirasa kurang kita kritisi, namun kalau ada yang baik tidak ada salahnya kita apresiasi.

Semoga ke depan Indonesia selalu dan tetap jadi bangsa yang besar dan maju, dengan masyarakatnya yang tidak pernah bosan untuk terus belajar dimanapun dan kapanpun. Mengutip kata-kata Ki Hadjar Dewantara: “Jadikanlah setiap orang sebagai guru, dan setiap tempat sebagai sekolah”.

ADVERTISEMENT