• 31

USER STORY

Memburu Jazz di Tanah Eropa

Memburu Jazz di Tanah Eropa



Mark Shim

Mark Shim di International Jazz Festival of Punta del Este (Foto: Jimmy Baikovicius)

Setelah sekian lama tidak bepergian jauh, akhirnya beberapa minggu lalu saya mendapat kesempatan kembali ke luar negeri. Terakhir saya keluar dari Indonesia adalah ke New York, Amerika Serikat. Di kota itu, jazz terhitung populer. New York bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu pusat jazz dunia.
I thought to myself, I’ve been there (also lived there), why not try explore other places?
Lalu saya membuat keputusan liburan kali ini ke Eropa, tepatnya Perancis, dengan singgah di kota Paris terlebih dahulu. Sebelumnya saya juga sempat tinggal di Paris, agak ironis memang. Akan tetapi, kala itu ketertarikan saya dengan musik Perancis di era jazz belumlah setinggi sekarang. Belakangan sebelum berangkat ke Paris, saya lagi sering-seringnya mendengarkan Yves Montand, Charles Trenet, Sidney Bechet dan Edith Piaf.
Saya pun berimajinasi kalau dalam “trip to Paris” bisa merasakan "kehadiran" mereka. Meet them in spirit.

Aimee Saras

Aimee Saras ketika di Père Lachaise Cemetery, lokasi kuburan Edith Piaf. (Foto: Aimee Saras)
Itinerary adalah sebuah kewajiban dan saya pun membuat daftar tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Kendati begitu, tak semua rencana bisa berjalan lancar.
Suatu ketika, saya punya keinginan kuat untuk menonton live performance Avalon Jazz Band di sebuah jazz café. Berbicara soal jazz memang akan terasa hambar jika kamu tidak menonton secara live. Akan tetapi, waktu yang terbatas kala itu membuat keinginan saya belum tercapai.
Apa boleh buat, mencari jazz memang tidak bisa dipaksakan. Semesta seringkali turun tangan.
But I learned on this past vacation that, sometimes, you need to learn how to let things go out of plan and let the universe take over. So I didn’t look for jazz anymore; but somehow jazz found me.
Ketika mmemasuki hari keempat di Paris, saya pergi ke Montmartre. Kata seorang teman lokal Perancis, daerah tersebut “saya” banget. That I will love it. Vintage, classic and full of history. (It’s true because I have been here before but didn’t completely explore). Rencana utama ke daerah ini adalah untuk “vintage shop hunting”. Namun, karena hari itu Minggu, banyak toko-toko yang tidak buka. Pas de problem!
Opsi lain tentunya ke pusat turis di Montmartre yaitu Sacre Coeur, gereja yang terletak di atas bukit dan bisa melihat kota cantik Paris dari ketinggian. Setelah itu berlanjut mengelilingi area Montmartre. Duh, bahkan melihat rumah-rumah yang menjelajahi jalanan saja terasa menyenangkan.
Ketika saya mengelilingi Montmartre tanpa rencana apapun melalui jalan penuh tanjakan dan turunan sampai menelusuri “alley”, terdengar dari kejauhan bunyi yang sangat familiar.
It was a swingin’ jazz sound!

Aimee SARAS

Di Montmartre, di dekat Rue de Abbesses yang terdengar swing jazz band. (Foto: Aimee Saras)
Di tengah keramaian Rue de Abbesses, terlihat jazz quartet yang terdiri dari pemain saxophone, double bass, trombone, dan banjo. Sudah cukup jarang saya melihat format yang sangat klasik ini. Tidak ada perkusi tetapi terdengar padat dan meriah. Suara yang terdengar bagaikan Django Reinhardt memainkan lagu tapi petikan gitarnya diganti dengan banjo. Terutama ketika mereka memainkan lagu popular swing di tahun 1940an yang berjudul When You’re Smiling (The Whole World Smiles With You).
Bisa bayangkan semua ini terjadi di jalanan Montmartre, di mana area ini dahulunya memang “tongkrongannya” musisi-musisi jazz! I was definitely smiling with them.
00:00:00/00:00:00

Jazz di Montmartre
Pada hari ke-9 dan ke-10, saya hijrah ke kota lainnya di Eropa. Pilihannya adalah Barcelona, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Awalnya saya agak ragu dengan Barcelona. Beberapa sejawat mengatakan kota itu biasa saja, kurang bersih atau terlalu tua. “Daripada Barcelona kenapa tidak Roma?” kata salah seorang karib.
Tapi, saya kira, jika kota tersebut dapat menginspirasi musisi jazz legendaris Indonesia, Fariz RM, untuk dijadikan judul lagu, pasti ada sesuatu yang sangat berkesan, bukan?
Pada kenyataannya, Barcelona memang meninggalkan banyak kesan dan makna. Saya benar-benar dibuat jatuh cinta dengan Barcelona. Yes, I would say it is an Old City (maka dari itu ada distrik La Ciutat Vella) but beautiful even with a touch of modern architecture.
Saya memang tidak menemukan live jazz performance seperti di Montmartre. Tetapi, ketika saya “vintage shop hunting” (as always in my agenda), saya "bertemu" dengan beberapa musisi seperti Artie Shaw, Louis Armstrong, King Oliver Big Band secara tidak sengaja. Bahkan Edith Piaf bisa ditemukan di sini…
Setidaknya, di dalam imajinasi, saya bisa "bersalaman" dan "berbincang" dengan mereka sewaktu menelusuri deretan vinyl yang tersembunyi di dalam rak yang sulit ditemukan sehingga harus jeli mencarinya. Dalam momen itu, jazz seakan-akan hidup (live).

Salah satu toko vinyl di Barcelona

Daily Record, salah satu toko vinyl di Barcelona yang banyak mengoleksi piringan hitam jazz legendaris (Foto: Aimee Saras)
Semua “vintage shop” ini saya telusuri dengan kaki tanpa tranportasi publik. Dari area Gothic Quarter/El Gotic (yang umum), El Born (area hip tapi tetap vintage), El Raval (yang katanya cukup rawan tetapi banyak "treasure"), hingga Sant Pere (yang tidak banyak turis tahu). Tentunya saya sudah terlebih dahulu melakukan riset, kendati tidak berekspektasi sama sekali.
Sejauh yang saya tahu, Barcelona memang tidak identik dengan jazz dibandingkan Paris. Namun, dari sebuah film dokumenter yang saya tonton di AirBnB tempat saya tinggal, Barcelona ternyata memiliki swing big band yang bernama Sant Andreu--Youth Jazz Band. Sebuah band jazz yang berisikan generasi muda dan hampir semua memainkan instrumen sekaligus bernyanyi.
Sayang sekali, informasi ini saya dapatkan di hari hari terakhir perjalanan saya di Eropa. Mungkin suatu hari nanti, saya bisa nonton mereka.
00:00:00/00:00:00

Sant Andreu
Total 12 hari yang intensif saya berada di Eropa. Saya berharap bisa lebih lama lagi mengeksplorasi Paris dan Barcelona. Saya tidak memaksakan untuk mencari jazz di Eropa. Namun, seperti yang dijelaskan, saya bisa temukan jazz dalam berbagai media dan kesempatan. Through vinyls and streets, I found jazz in Europe.
Saya merasakan kehadiran Charles Trenet ketika melewati Boulevard de Menilmontant atau Edith Piaf ketika saya berkunjung ke Pere La Chaise Cemetery. Dari perjalanan ini saya tahu, tidak ada cara khusus untuk menemukan jazz di Eropa.
You don’t look for jazz; jazz will find you.

Hiburan

500

Baca Lainnya