kumparan
1 Okt 2018 6:06 WIB

Kaki-kaki Peraih Mimpi

Atlet Asian Para Games 2018, Leani Ratri Oktila. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
Keterbatasan bukanlah penghalang dalam menggapai cita-cita. Hal itulah yang ditunjukkan oleh atlet yang akan berlaga di Asian Para Games 2018. Tak hanya membanggakan Indonesia, mereka juga menjadi motivasi bagi kita semua. Lewat tulisan di kumparan, mereka berbagi kisah tentang kekurangan yang tak menjadi hambatan.
ADVERTISEMENT
Selain tulisan dari 3 atlet Para Games, ada juga story Alfons Tanujaya dalam edisi ini. Simak ulasannya.
1. Penipuan WhatsApp Mengancam TKI (Alfons Tanujaya)
Perlindungan terhadap pengguna Whatsapp Indonesia cukup baik karena situs penipu cepat di blok. Tetapi yang menjadi masalah justru masyarakat Indonesia yang ada di luar negeri, salah satunya TKI yang secara tingkat pendidikan rendah, lugu dan memiliki penghasilan yang meskipun sedikit tetapi tetap diincar oleh criminal scam yang kerap tidak mengalami tumpul hati nurani dalam menjalankan aksinya.
2. Kakiku Sayang, Membantuku Jadi Pemenang (Leani Ratri Oktilla)
Saya berhasil membuat papa meneteskan air mata bahagia, ketika dia melihat medali pertama di Paralympic yang saya dapatkan. Musibah yang menimpa saya, justru membawa berkah. Ya, bersyukur aja.
ADVERTISEMENT
Setelah kecelakaan, kaki saya memiliki selisih panjang satu sama lain. Awalnya hanya 7 cm, semakin lama karena latihan juga semakin berat, selisih di kaki jadi 11 cm. Cara mengakalinya ya sepatu sebelah kiri saya beri tambahan sol, supaya enggak terlalu timpang.
3. Kaki Tak Sempurna Mengantar Saya untuk Jadi Juara (Karisma Evi Tiarani)
Saya memang berbeda dari kebanyakan orang: secara fisik, demikian dengan cara berjalan. Sehari-hari saya berjalan dengan tertatih sebab kondisi kedua kaki saya panjang sebelah.
Selama 17 tahun, tak sekali dua kali saya dipandang rendah. Terutama semasa kecil, saya kerap dilihat teman-teman dengan pandangan tak biasa, sehingga membuat saya minder.
4. Satu Kaki Layu Saya Pacu Berlari Mengejar Mimpi (Sapto Yogo Purnomo)
ADVERTISEMENT
Kaki dan tangan kanan saya menderita layu. Lari sejauh 30 meter saja, saya akan mulai hilang keseimbangan. Namun hal itu tak menahan saya untuk memilih jalan hidup sebagai atlet lari, cabang olahraga yang mengandalkan kekuatan kaki.
Prestasi yang saya raih perlahan lewat ikut berbagai ajang paralympic lantas membangkitkan rasa percaya diri. Bahkan sudah tak ada lagi teman-teman yang mengejek seperti dulu.
Simak terus Aksara edisi lainnya di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan