Pencarian populer

Kisah Para Wartawan hingga Minimnya Ilmuwan

Ilustrasi pers (Foto: Nunki Pangaribuan)

Tujuh wartawan kumparan menceritakan berbagai pengalaman yang mereka rasakan selama menjadi pewarta. Selain itu, ada dua user story lainnya soal Muslim di Papua Nugini, serta kurangnya insinyur di negara kita. Simak selangkapnya.

1. Para Muslim di Negeri Papua Nugini (Hari Yulianto)

Pada tulisan kali ini saya akan menceritakan mengenai para muslim yang ada di Papua Nugini. Negeri yang mayoritasnya penduduknya beragama Kristen dan konstiitusinya mendasarkan pada nilai-nilai Kristen (di samping adat, traditional wisdom, dan leluhur). Ternyata ada penduduknya yang memeluk agama Islam. Yuk kita ikuti kisahnya.

2. Kita Butuh Banyak Insinyur dan Saintis (Ferizal Ramli)

Sesungguhnya, ini bukan masalah Indonesia saja. Ini masalah umum di hampir semua negara, bahkan di negara-negara industri maju sekalipun lulusan sarjana sosial jauh lebih banyak ketimbang Insinyur dan Saintis.

Negara yang berhasil menutup atau memperkecil "gap" atau celah antara lulusan sosial dengan insinyur dan saintis itu akan mudah melakukan inovasi-inovasi teknologi.

3. Menjadi Wartawan Ekonomi dan Kerumitan-kerumitan yang Menyenangkan (Ema Fitriyani)

Suasana perjalanan di Ciloto yang hujan, macet, dan dingin memang pas banget bikin pikiran jauh melayang sambil memandangi kebun teh yang jarang ditemui dari belakang jendela bus mini yang membawa kami ke Jakarta. Alih-alih transkrip rekaman tapi pusing karena jalanan berliku, saya kepikiran sesuatu.

Kebetulan isi lamunan saya sore itu tentang 1 tahun saya di kumparan yang jatuh pada 1 November 2018. Mengingatkan juga kepada teman-teman di sekitar yang resign dari dunia kewartawanan yang mulanya ingin saya jadikan postingan di Instagram karena sudah lama enggak update di akun sendiri.

4. Jadi Wartawan, dari Diancam Ditembak hingga Foto dengan Artis Idola (Aria Pradana)

Kala berupaya memotret dan mengambil video penggeledahan rumah Setya Novanto pada November 2017, aku diadang beberapa orang. Mereka mengancam menembakku jika tak segera menghapus rekaman itu. Itu satu di antara sekian pengalaman selama meliput.

5. Déjà vu (Wisnu Prasetyo)

Aku beralih dari kantor lamaku untuk bergabung dengan orang-orang hebat di kumparan. Bermodal restu orang tua, aku memulai semuanya.

Tugasku di kumparan agak berbeda. Aku harus terus menciptakan ide, membuat konten yang berbeda dan bermanfaat bagi banyak orang. Seakan Déjà vu, tugas pertamaku di kumparan adalah mencari peristiwa atau tokoh sejarah yang menarik diulik--persis tugas saat pertama jadi wartawan dulu.

6. Aku, Wartawan yang Menyunting Berita Politik hingga Selebriti (Nadila E.R)

Cerdasnya kumparan, tidak perlu mengirim wartawan ke daerah, cukup bekerja sama dengan media daerah dan mengajak mereka untuk menulis di kumparan. Media mereka berkembang, kami juga ikut berkembang. Jadi simbiosis mutualisme. Aku ikut bangga karena menjadi bagiannya. Iya, aku bekerja di divisi Kolaborasi, yang khusus menyunting tulisan publisher dan user kumparan.

Nah meskipun aku tidak turun ke lapangan mencari berita, namun aku bekerja di balik laptop untuk mengabarkan berita-berita daerah kepada para pembaca kumparan. Agar para pembaca tidak Jakarta-sentris.

7. Seorang Introvert juga Layak Jadi Wartawan (Kelik Wahyu Nugroho)

Seberapa layak kamu jadi seorang wartawan? Pertanyaan ini cukup punya alasan bagiku. Diriku yang seorang introvert menjadi wartawan? Layak? How can it be?

Kata orang, seorang introvert itu lebih suka menyendiri dan harus mengeluarkan banyak energi saat bersosialisasi. Kadang juga disalahartikan sebagai seorang yang pemalu dan menutup diri dari dunia luar. Sementara, menjadi seorang wartawan harus mampu berelasi dengan banyak orang secara baik. Secara tak langsung, pekerjaan ini sangat cocok bagi mereka yang ekstrovert, yang suka bergaul dan ceplas-ceplos.

8. Wartawan Kemarin Sore yang Bersertifikat 'Halal' (Anggita Aprilyani)

Saat kumparan mengharuskan para wartawannya bersertifikat 'halal' atau dalam artian menyandang sebagai wartawan sah dari dewan pers. Bingung, bakalan lulus atau enggak. Karena kemampuan saya yang belum maksimal. Siapa sangka semua wartawan kumparan lulus 100 persen dalam uji kompetensi wartawan yang diadakan oleh dewan pers.

9. Dari Bercakap sama Pedagang Tempe hingga Naik Pesawat Pribadi Menteri (Abdul Latif)

Alhamdulillah. Setidaknya sudah satu tahun lebih saya bekerja di salah satu media online yang memiliki ambisi layaknya roket. Iya, roket itu bernama kumparan.

Sebagai gambaran saja, jika kalian tidak benar-benar memiliki tekad yang sama, kalian hanya memiliki dua pilihan, terus mengikuti arah roket (bertahan) atau keluar dan melihat roket meluncur dari jauh (meyerah).

____

Ikuti terus Aksara di sini.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32