kumparan
17 Des 2018 7:11 WIB

Mengagumi Soe Hok Gie hingga Konten Abadi Bernama Value

Soe Hok Gie (Foto: PMTG Adventure)
Korupsi yang menggerogoti negara Indonesia sudah semakin kronis. Penangkapan Bupati Cianjur oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menambah daftar kelam pejabat negara yang terjerat kasus korupsi. Keprihatinan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua DPR, Bambang Soesatyo.
ADVERTISEMENT
Selain story dari Bambang Soesatyo, ada juga story yang ditulis oleh Rachmadin Ismail dan Katondio Bayumitra Wedya. Berikut selengkapnya.
1. Reformasi Birokrasi akan Dinilai Gagal jika Korupsi Tetap Marak
Pimpinan DPR mengajak semua unsur dalam birokrasi pemerintah pusat dan daerah untuk menghayati betul makna dari reaksi warga Cianjur yang mensyukuri penangkapan Bupati Cianjur oleh KPK karena diduga terlibat kasus korupsi.
Reaksi warga Cianjur itu, pada dasarnya, merefleksikan kehendak semua elemen masyarakat Indonesia yang merindukan pemerintahan yang bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
2. Formula Konten yang Abadi itu Bernama Value
Formula itu membosankan.
Sebuah kalimat yang muncul di salah satu adegan di film Bohemian Rhapsody itu masih terngiang di kepala saya. Saat itu para personel Queen sedang sibuk berdiskusi dengan produser label. Mereka membahas soal lagu 'Bohemian Rhapsody' yang durasinya dianggap terlalu panjang yakni 6 menit, tak sesuai dengan formula lagu yang biasa tampil di radio yang hanya maksimal 3 menit.
ADVERTISEMENT
Perdebatan soal formula lagu itu akhirnya deadlock. Personel Queen merasa lagu itu layak tampil dengan 6 menit dan muncul utuh tanpa dipotong. Mereka menolak mentah-mentah konsep formula industri yang disampaikan oleh produser dan radio. Mereka kemudian pergi dan mencari label baru.
3. Mengagumi Soe Hok Gie dengan Cara yang Berbeda
Soe Hok Gie. Seorang aktivis dan demonstran. Seorang pembaca dan juga penulis. Namun yang lebih penting, ia adalah seorang idealis. Lelaki kelahiran 17 Desember 1942 ini dikenal sebagai pribadi yang sudah berani melawan demi sebuah kebenaran sejak usia belia. Sifat yang terus ia bahwa hingga akhir hayatnya.
Sejauh yang saya tahu, salah satu bukti idealismenya adalah ia tidak pernah mau tunduk pada rezim mana pun. Menarik, ia menjadi bagian dari mahasiswa yang turun ke jalan untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno, sang proklamator bangsa. Di sisi lain, ia tak lantas menunduk kepada rezim baru (kepemimpinan Soeharto) setelahnya.
ADVERTISEMENT
------------
Baca juga story yang lainnya di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan