Pencarian populer
USER STORY
13 Juli 2018 5:35 WIB
0
0
Soal Menghargai Bangsa hingga Tekstil Lokal di Tengah Perang Dagang
Lalu Muhammad Zohri (tengah) diapit pelari asal Amerika Serikat (Foto: Dok. Kemenpora)
Zohri menang dan kesepian, kira-kira itulah ungkapan yang sedikit tepat menggambarkan kemenangan Lalu Muhammad Zohri di Kota Tempere, Finlandia. Setelah dinobatkan sebagai juara dunia pada final nomor lari 100 meter putra dalam kejuaraan IAAF World Championship U-20, ia terlihat mencari sesuatu, berharap ada yang memberikan selamat, namun tak satupun wakil dari Tanah Air yang menyambutnya.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas oleh Shamsi Ali dalam story-nya yang berjudul 'Menghargai Bangsa Sendiri'. Selain itu, ada dua user story lainnya dalam Aksara edisi kali ini. Berikut ulasan singkatnya.
1. Menghargai Bangsa Sendiri
Saya teringat seorang teman yang meyelesaikan S1, S2, dan S3 di Jepang. Setelah itu menjadi researcher (peneliti) di Universitas Ohio. Saking cintanya kepada bangsa dan tanah airnya dia kembali mengabdikan diri dengan mengembangkan sebuah sistem pengobatan kanker melalui aliran listrik (electrical treatment).
Yang terjadi malah dicurigai dan dipersulit. Bahkan usaha yang dibangun dari nol itu dipaksa ditutup karena dituduh melanggar kode etik (entahlah). Akhirnya dia harus kembali minggat keluar negeri. Terakhir saya dengar dia di Belgia mengembangkan talenta dan keahliannya.
Kapan bangsa kita menghargai bangsanya sendiri? Entahlah....terlalu banyak yang saya ingin goreskan. Takutnya ada jiwa-jiwa yang ikut tergores dan sakit...Hehe.
2. Sangat Bangga terhadap Zohri
Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pelari muda Indonesia yang dijuluki 'Bocah Ajaib', Lalu Muhammad Zohri, yang mengharumkan nama bangsa dan negara, setelah menjadi juara nomor 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Rabu 11 Juli 2018 waktu setempat.
Harapan saya, semoga pencapaian ini dapat memotivasi para atlet nasional lainnya, yang akan berlaga di arena Asian Games di Jakarta dan Palembang, pada pekan kedua Agustus 2018.
3. Pakaian Indonesia di Tengah Perang Dagang
Siang itu saya diprotes. Pasalnya "oleh-oleh khas Amerika" yang saya titipkan untuk seorang kawan, ternyata bukan produk asli buatan Amerika. Baju olahraga seharga 60 dolar yang saya beli di sebuah factory outlet di Washington tersebut bertuliskan label "Made in Indonesia."
Pengikut fesyen dan penggemar produk olahraga pasti tidak asing dengan merek-merek terkenal seperti Nike, Coach, dan Under Armour. Merek asing tersebut adalah produk perusahaan-perusahaan ternama asal Amerika. Di Indonesia, merek ini dijual dengan harga tinggi di pusat-pusat perbelanjaan kelas atas.
Ikuti terus Aksara untuk user story pilihan setiap harinya.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: