Pencarian populer

Pengalaman Para Wartawan kumparan

Redaksi kumparan bersama LSPR dan para penguji kompetensi wartawan (Foto: istimewa)

Delapan dari sembilan story yang terpilih masuk Aksara edisi ini menceritakan bagaimana pengalaman menjadi wartawan di kumparan. Dan satunya mengulas tentang rahasia China dalam mendominasi pasar teknologi dunia. Berikut ulasannya.

1. Sebongkah Keberuntungan di Kaki Wartawan

Novel pula yang membuat saya mendapatkan nilai terbaik se-kumparan dalam uji kompetensi wartawan, karena saya menelepon ia saat diuji oleh Teguh Poeradisastra (Redaktur Senior SWA) untuk mendapatkan sertifikasi Wartawan Utama.

Jika ada wartawan yang belum merasa beruntung, berusahalah lebih keras lagi. Berjalan kaki lebih jauh lagi. Karena keberuntungan datang kepada mereka yang bergerak dan melaung.

2. Yang Luput oleh Wartawan: Pujian Itu Melemahkan

Bagiku, sang Redaktur punya cara sendiri sebagai mentor. Justru dengan mengganti judul temanku, dengan kapasitasnya sebagai jurnalis senior yang lebih berpengalaman, itu pun bentuk sebuah penghargaan. Ia tak mau tulisan sang murid dilempar ke publik dalam keadaan yang buruk.

Justru sang murid yang perlu berbenah. Apa tujuannya memilih profesi wartawan? Untuk belajar atau sekedar gengsi? Bagiku yang juga memilih profesi ini, tujuanku tentulah untuk mengasah keterampilan sebagai pewarta--termasuk menulis, bukan memupuk ego.

3. Sertifikat Wartawan, Gaya-gayaan?

Bagi kami, ini lebih kepada sebuah upaya melihat jauh ke depan. Agar bila benar terjadi senjakala media (Tsunami hoaks, gejala ketidakpercayaan) seperti yang ditakutkan Cak Rusdi, ada yang sudah bersiap menangkal.

Soal penilaian, serahkan saja pada khalayak. Akhirnya, kepada pembaca jualah 158 sertifikat dan kartu wartawan yang bakal diterima hari ini, kami peruntukan.

4. Ceritaku di kumparan: Liputan Menantang hingga Sertifikasi Wartawan

Bagiku, mungkin taglinekumparan adalah jawaban” memang ada benarnya. Kini, di sinilah tempat saya bekerja dan belajar dengan menyenangkan di dunia jurnalistik. Masih banyak hari-hari yang akan saya lalui di sini.

Seperti Pakubuwana IV dalam Serat Wulang Reh yang berkata, “Ngelmu iku kalakone kanthi laku.” Artinya, jalan mencari ilmu itu harus dilakukan dengan proses. Bersama kumparan, saya berproses secara personal dan profesional, terutama untuk menjadi jurnalis yang bisa membangun kepercayaan dengan narasumber, menjadi mata dan telinga masyarakat, dan menyampaikan fakta secara kritis serta etis.

5. Jangan Mau Jadi Wartawan

Jadi, bagi saya, wartawan dan sastrawan tak ada bedanya. Toh sama-sama menyuguhkan kebenaran. Saya tak merasa terjerumus di dunia ini. Malah, merasa ini adalah jalan Tuhan dalam menunjukkan makna (coba bedah pakai semiotik).

So, Jangan mau jadi wartawan kalau kamu enggan melihat sisi lain kehidupan. Wartawan itu profesi untuk orang yang memiliki prinsip "Hidup itu sekali, kalau jalan cerita flat-flat saja, bisa mati penasaran nanti.".

6. Menjadi Jurnalis Tidak Dibangun dalam Semalam

Cita-cita saya sejak kecil ini menjadi kenyataan. Bahkan lebih dari kenyataan, sebab kumparan ingin menjunjung tinggi jurnalistik dengan mewajibkan para wartawannya untuk ikut Uji Kompetensi Wartawan. Kami semua lulus ujian.

Setelah saya mengalami berkali-kali penolakan menjadi reporter, dan dianggap tak memenuhi kualifikasi. Kini, saya sudah 100 persen wartawan.

7. Menjadi Wartawan kumparan: Nyaris 'Ditenggelamkan' Bu Susi

Saya rela melakukan liputan ke 1.000 pasar lainnya untuk melihat keluhan-keluhan lain dari warga di pasar. Saya juga ikhlas saat nyaris 'ditenggelamkan' Bu Susi supaya nasib nelayan lebih jelas dan lebih sejahtera lagi.

Karena coba bayangkan, kalau tidak ada pemberitaan soal harga daging ayam yang naik, pemerintah akan tahu dari mana kalau ada masalah harga melambung di pasar? Ujungnya, kalau mereka tidak tahu, mereka tidak akan melakukan apapun untuk para peternak, pedagang, petani, dan nelayan itu, kan?

8. Apa Jadinya bila Wartawan Militan, Kini Kantongi Sertifikat Keahlian?

Mungkin, pengalaman yang saya ceritakan di atas, mayoritas wartawan kumparan lain juga pernah merasakan. Kalau belum, pasti lah mereka pernah militan dengan cara yang berbeda dalam mencari berita.

Melihat kondisi itu, saya yakin berita kumparan yang disajikan ke depan akan tetap cepat karena militansi wartawannya, serta (kemungkinan besar) akan bertambah baik dan akurat karena produsen berita di kumparan lebih memahami kaidah jurnalistik.

9. Rahasia China Kuasai Pasar Teknologi Dunia

Inovasi di bidang retail dan hiburan adalah kuncinya. Market yang sangat kompetitif di China memaksa para perusahaan untuk terus berinovasi atau mati digulingkan pemain baru. Alibaba pernah merasakan itu--meski tidak sampai gulung tikar.

Alibaba pernah mendominasi pasar fintech di China melalui Alipay miliknya. Namun semenjak WeChat (Tencent) punya fitur berbayar, Alibaba harus rela membagi setengah pasarnya ke Tencent.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.33