SiKIA: Inovasi Layanan Kesehatan Ibu dan Balita

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Maju
Konten dari Pengguna
6 Agustus 2022 11:41
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Al Farel Dimas Wibisono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay.com
ADVERTISEMENT
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu kota yang Angka Kematian Ibunya masih tergolong tinggi yaitu sebesar 36 kasus pada tahun 2018 dan Kabupaten Bantul adalah desa yang tertinggi terkait insiden kematian ibu. Tidak hanya kematian ibu yang tinggi, Kabupaten Bantul juga menjadi yang tertinggi pada Angka Kematian Bayi yaitu sebesar 108 kasus dalam satu tahun dan Berat Bayi Lahir Rendah menjadi penyebab kematian tertinggi.
ADVERTISEMENT
Puskesmas Pandak 2 yang berlokasi di Kabupaten Bantul pada 2018 menyumbang kasus kematian ibu sebanyak 2 kasus. Memasuki pandemi Covid-19 pada tahun 2020, pelayanan pemantauan kesehatan ibu hamil dan balita oleh kader menjadi tidak optimal. Padahal layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Puskesmas Pandak 2 yang bekerja sama dengan kader di wilayah desa binaan mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak.
Puskesmas Pandak 2 memiliki sebuah desa binaan yaitu Desa Triharjo yang memiliki jumlah ibu hamil risiko tinggi terbanyak dibandingkan dengan desa lain. Mulai bulan April sampai September tahun 2020 pelayanan posyandu ibu hamil dan balita di Desa Triharjo terhenti dan kegiatan pendokumentasian posyandu tidak berjalan dengan optimal karena masih dengan cara manual.
ADVERTISEMENT
Ibu hamil dan balita cenderung menetap di rumah dan menunda pemeriksaan kehamilan dikarenakan termasuk populasi berisiko terpapar Covid-19. Petugas kesehatan tidak bisa melakukan dokumentasi perkembangan kesehatan ibu hamil dan balita ketika ibu tidak melakukan kunjungan antenatal dikarenakan metode pendokumentasian dilakukan secara manual menggunakan buku KIA. Selain itu, ibu hamil dan kader kesehatan di wilayah binaan khususnya Desa Triharjo masih kurang memahami pemanfaatan buku KIA. Hal ini dibuktikan dari hasil wawancara kepada ibu hamil di Desa Triharjo yaitu hanya sebesar 32% yang memanfaatkan buku KIA dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, proses pendokumentasian idealnya bisa didukung dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memantau pertumbuhan balita dan kesehatan ibu hamil. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan pengguna smartphone yaitu 150 juta pengguna pada tahun 2018. Sebelumnya sudah terdapat beberapa aplikasi posyandu melalui smartphone, tetapi belum ditemukan aplikasi yang mengintegrasikan pemantauan kesehatan dengan pelayanan posyandu ibu hamil dan balita.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan permasalahan diatas maka diciptakannya sebuah aplikasi dalam smartphone yang dapat menunjang kegiatan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita dan pendokumentasian secara praktis yang terintegrasi dalam SiKIA (Aplikasi Kesehatan Ibu dan Anak). Aplikasi ini memiliki fitur yang dapat menyinergikan peran kader ibu hamil dan balita, koordinator kader kesehatan, dan Puskesmas dalam menyajikan upaya promotif dan preventif. Aplikasi ini juga dapat membantu kader posyandu ketika melaporkan perubahan data seputar penatalaksanaan dan permasalahan tumbuh kembang balita. Data yang terdapat di aplikasi bisa diunduh oleh petugas Puskesmas dan kader untuk dijadikan data rekapitulasi pendokumentasian pertumbuhan dan perkembangan balita secara praktis sehingga tidak adanya data yang hilang dalam proses memantau kondisi balita melalui aplikasi.
Petugas Puskesmas dapat memanfaatkan SiKIA untuk mengidentifikasi adanya balita yang mengalami permasalahan kesehatan, contohnya stunting. Adanya aplikasi ini sangat memudahkan bidan desa melakukan identifikasi ibu hamil yang berisiko di daerah wilayah binaan. Fitur lainnya dalam SiKIA ialah layanan data dasar ibu hamil seperti data demografi, tingkat pendidikan, sosial ekonomi, riwayat kesehatan kehamilan ibu, dan jenis asuransi. Selain itu data monitoring kesehatan ibu yang terdapat dalam SiKIA dapat dengan mudah dipantau oleh kader dan sudah terintegrasi dalam layanan di Puskesmas Pandak 2.
ADVERTISEMENT
Dalam implementasi SiKIA masih terdapat kendala seperti kader yang membutuhkan waktu lebih untuk pelatihan intens dalam penggunaan aplikasi hal ini dikarenakan proses pendataan kegiatan posyandu menggunakan aplikasi masih terbilang baru.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020