Konten dari Pengguna
Tradisi Hodo: Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Gempuran Budaya Barat
1 Desember 2025 16:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tradisi Hodo: Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Gempuran Budaya Barat
Di Situbondo, tradisi Hodo tetap hidup. Ritual pemanggil hujan ini memadukan pesucen, semedi, dan doa di Batu Tomang. Bagi warga, inilah cara menjaga harapan dan identitas budaya.alfiyani fadilah
Tulisan dari alfiyani fadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Di tengah derasnya arus budaya populer Barat yang begitu mudah diakses melalui media sosial, menjadikan beberapa budaya di Indonesia sudah lekang oleh waktu. Akan tetapi, terdapat beberapa masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia yang masih menjaga tradisi leluhur sebagai identitas. Salah satunya adalah tradisi Hodo, sebuah sebuah tradisi lokal di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, yang tetap hidup dan dilestarikan secara turun-temurun hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Hodo merupakan sebuah upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Pariopo, Desa Bantal sebagai upacara permohonan pemanggil hujan. Tradisi ini diyakini telah ada sejak abad ke-19 sebagai bentuk pertahanan masyarakat ketika musim kemarau berlangsung panjang dan tanah yang kerap tandus. Ritual ini dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai bentuk syukur dan permohonan pada Sang Pencipta agar turun hujan dan kehidupan masyrarakat kembali menjadi subur. Pelaksanaan upacara biasanya dilakukan pada musimkemarau yaitu sekitar bulan September-Oktober yaitu masa-masa dimana hujan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat.
Menurut penuturan tokoh adat setempat, Hodo telah diwariskan sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal yang menggabungkan unsur kepercayaan leluhur dengan nilai spiritual masyarakat masa kini. Meski zaman telah berubah, makna utamanya tetap sama yaitu memohon hujan dan memohon keberkahan bagi kehidupan warga.
ADVERTISEMENT
Ritual ini juga dianggap sebagai wujud syukur sekaligus pengingat bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Harmoni keduanya harus terus dijaga, dan pelaksanaan Hodo menjadi salah satu bentuk nyata dari prinsip tersebut.
Tradisi Hodo terdiri dari beberapa tahapan yang dilakukan secara bertahap dan penuh makna. Sehari sebelum acara puncak, para pelaksana ritual yang biasanya dipimpin oleh seorang tokoh adat, melakukan pesucen, yaitu mandi suci di sumber mata air. Tujuannya untuk membersihkan diri secara lahir dan batin agar layak memohon kepada Tuhan.
Setelahnya, tokoh adat melakukan tirakat atau semedi di Goa Masali, sebuah tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Tirakat ini dilakukan untuk meminta petunjuk agar ritual berjalan lancar serta memohon izin kepada leluhur.
ADVERTISEMENT
Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul di lokasi yang telah ditentukan, biasanya di sekitar Batu Tomang, tempat keramat yang menjadi pusat ritual. Hewan kurban yang umumnya berupa kambing, dipersembahkan sebagai simbol permohonan. Setelah doa bersama dipanjatkan, warga kemudian menggelar makan bersama sebagai bentuk rasa syukur dan kebersamaan.
Salah satu hal menarik dalam pelaksanaan Hodo beberapa tahun terakhir adalah semakin aktifnya generasi muda dalam mendokumentasikan dan mempromosikan ritual ini ke media sosial. Lewat foto, video, hingga konten edukasi, mereka berupaya mengenalkan Hodo ke publik luas sehingga tradisi ini tidak hanya bertahan, tetapi juga dikenal di luar daerah.
Meski masih bertahan hingga kini, tradisi Hodo tetap menghadapi tantangan. Perubahan gaya hidup, urbanisasi, serta menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap tradisi lokal dikhawatirkan bisa membuat ritual ini perlahan memudar.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, upaya pelestarian yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat setempat, ditambah dukungan dari tokoh adat dan pemerintah desa, cukup memberi harapan bahwa Hodo akan tetap hidup dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman, Hodo menjadi pengingat bahwa akar budaya tak boleh terputus. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol permohonan hujan, tetapi juga lambang kebersamaan, identitas, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

