Opini & Cerita15 September 2020 20:10

Pembangunan SDM Tanpa Grand Strategi

Konten kiriman user
Pembangunan SDM Tanpa Grand Strategi (1049673)
Foto: Unsplash
Sejak era reformasi, pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia hampir ‎jarang sekali mendapat perhatian serius. Pemerintah baru benar-benar akan serius ‎berfokus pada pembangunan SDM pada periode kedua Presiden Joko Widodo. ‎Keseriusan itu disampaikan dalam pidato kemenangan Jokowi berjudul “Visi Indonesia” ‎bulan Juli 2019. ‎
ADVERTISEMENT
Dalam sambutannya Joko Widodo mengatakan, “Kita akan memberikan prioritas pada ‎pembangunan SDM, ini akan menjadi kunci Indonesia ke depan. Menurut Jokowi, salah ‎satu titik dimulainya pembangunan SDM adalah menjamin kesehatan ibu hamil, ‎kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah, meningkatkan kualitas ‎pendidikan vocasional dan pembangnan Manajemen Talenta Indonesia”.‎
Pidato “Visi Indonesia” itu diperkuat kembali oleh Presiden Joko Widodo pada Sidang ‎Kabinet Paripurna mengenai Ketersediaan Anggaran dan Pagu Indikatif Tahun 2020, 23 ‎April 2019, di Istana Kepresidenan Bogor. “Prioritas utama kita ke depan adalah ‎pembangunan sumber daya manusia yang terkonsolidasi dengan baik, didukung ‎anggaran yang tepat sasaran sehingga terjadi peningkatan produktivitas tenaga ‎kerja melalui peta jalan yang jelas, terukur, dan hasilnya dapat dinikmati oleh ‎masyarakat”‎
ADVERTISEMENT
Namun, proses pembangunan SDM tak semulus jalan tol, aral melintang banyak ‎menghadang. Pandemi Covid-19 menghantam hampir seluruh sektor kehidupan ‎berbangsa dan bernegara, termasuk sektor pendidikan dan kesehatan yang memainkan ‎peran penting dalam pembangunan SDM. ‎
Setidaknya ada tiga darurat yang ditimbulkan pandemic Covid-19, yaitu darurat ‎kesehatan, darurat ekonomi dan darurat pendidikan. Untuk dua darurat yang pertama, ‎pemerintah tampak sigap mengeluarkan kebijakan akrobatik dengan mengerahkan ‎seluruh stakeholder. Namun untuk darurat pendidikan, pemerintah tampak gamang ‎dalam bertindak. Alih-alih membuat lompatan pendidikan, menteri Nadiem Makarim ‎justru terjerambab dalam kubangan masalah receh di internal kementerian. ‎
Dampak darurat pendidikan memang tak serta-merta terlihat kasat mata, namun eksesnya ‎akan sangat fundamen. Para guru, orang tua serta seluruh stakeholder pendidikan tak ‎merasakan langsung, lambat laun generasi muda kita bisa menjadi bahlul. Kondisi ‎demikian tentu tidak boleh terus berlarut, krisis pendidikan akan berdampak pada ‎penurunan kualitas SDM bangsa, tentu ini akan menjadi bom waktu yang mengakibatkan ‎kerusakan akut dan sistemik. ‎
ADVERTISEMENT
Tanpa Grand Strategy ‎
Sejak Presiden Joko Widodo mengumandangkan pembangunan SDM, belum kita temui ‎Grand Strategy pembangunan SDM yang komprehensif dari pemerintah. Niat baik ‎presiden tidak mampu diterjemahkan oleh jajaran menterinya, bahkan kealpaan grand ‎strategy dialami Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pioner utama ‎pembangunan SDM. Padahal, sejak awal muncul Nadiem Makarim sebagai menteri, ‎banyak masyarakat menaruh harapan besar. ‎
Setengah tahun sudah kita mengalami pandemi Covid-19 sejak awal Maret 2020, alih-‎alih membuat strategi induk pembangunan SDM, kebijakan sektor pendidikan saja ‎belum sepenuhnya mampu menyentuh akar persoalan, kebijakan yang muncul selalu ‎bersifat jangka pendek.‎
Karena itu, mutlak perlu menetapkan strategi induk dalam pembangunan SDM. Setiap ‎Negara yang mampu menetapkan dan menerapkan strategi induk dengan baik, tentu akan ‎lebih cepat keluar dari masalah. Sayang sekali, dalam pembangunan SDM, kita belum ‎mempunyai kebijakan yang menjadi kesadaran kolektif pemerintah, masyarakat, ‎akademisi, guru, pengusaha hingga selebritis. ‎
ADVERTISEMENT
Kevakuman dalam membangun Grand Strategy membuat program pembangunan SDM berjalan tanpa arah, padahal sudah banyak siswa terpaksa putus sekolah. Bahkan, angka pernikahan dini hingga eksploitasi perempuan dilaporkan juga meningkat. ‎
Grand strategy pembangunan SDM perlu dimunculkan sebagai penabuh genderang orchestra kebijakan sector lainnya. Dengan demikian, sektor pendidikan akan menemukan irama dalam mengatasi masalah pendidikan dalam menghadapi covid 19. ‎
Masih ada harapan.‎
Dalam kondisi pandemi yang berkepanjangan, kita tidak boleh membiarkan masyarakat dan seluruh elemen bangsa lesu dan membeku. Seluruh pejabat, tokoh masyarakat, akademisi dan lainnya sebagainya harus mempunyai kesadaran bersama membangkitkan gairah bangsa.‎
Pemerintah harus mengeluarkan langkah akrobatik menjadi “dirigen” semua kelompok untuk membangkitkan efikasi diri. Masyarakat perlu dibuat lebih “bersyahwatmelakukan tindakan positif dan memelihara atribusi positif untuk keluar dari kemelut. Tanpa melakukan itu, program pembangunan SDM akan makin carut marut. ‎
ADVERTISEMENT
Rakyat Indonesia mempunyai modal luar biasa, yaitu tingginya kegembiraan yang melahirkan daya tahan (resiliency), inilah yang harus kita jaga bersama. Daya tahan ini akan memberikan waktu lebih panjang kepada pemerintah untuk membangun Grand Strategi pembangunan SDM. Semoga.
--------------------------------------------------------------------
Oleh : Moch. Aly Taufiq
(Dosen MSDM Polteknaker/Mahasiswa Doktoral MSDM UNJ)
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tim Editor
drop-down
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white