Perkembangan Industri Film Indonesia dalam Konsep Industri Budaya

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan
Konten dari Pengguna
15 Januari 2022 12:49
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Trizki Amalia Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dewasa ini perkembangan film di Indonesia terbilang berkembang dengan signifikan. Dalam kurung waktu 5 tahun terakhir perkembangan film di Indonesia cukup beragam dan variatif. Dengan menggunakan konsep teori Industri Budaya dapat ditelaah perkembangan industri perfilman dari masa ke masa.
Perkembangan Industri Film Indonesia dalam Konsep Industri Budaya (205356)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Behinde The Scene produksi film/lisanto/https://unsplash.com/photos/ENUTLSZGVhY
Melihat perkembangan film di Indonesia tentu tak luput dari sejarah film itu sendiri. Sejarah perkembangan film di Indonesia, pada tahun 1950 an sampai tahun 1956 kondisi perfilman Indonesia jatuh terpuruk akibat banjirnya film-film impor. Pada tahun-tahun tersebut bioskop di Indonesia didominasi oleh film Amerika, juga film Malaysia dan India juga menjadi pesaing film Indonesia. Di Indonesia kebijakan perfilman terbilang masih sangat minim karena itu industri perfilman pada waktu itu mengalami pasang surut.
ADVERTISEMENT
Setelah kemerdekaan, pada tahun 1956 dikeluarkan kebijakan baru oleh Wali kota Jakarta, Soediro, bahwa diwajibkan putar film Indonesia pada bioskop kelas satu. Kebijakan tersebut dikeluarkan akibat terjadi penurunan produksi film Indonesia karena didominasi oleh film impor. Bioskop kelas satu didominasi oleh film Amerika, dan film Malaysia dan India menjadi pesaing film Indonesia pada bioskop kelas dua.
Perkembangan kebijakan perfilman di Indonesia merupakan substansi yang tak boleh luput diperhatikan, salah satunya adalah Perkembangan kebijakan sensor film. Pada awalnya Komisi Sensor Film didirikan pertama kali di empat kota yaitu Batavia (Jakarta), Semarang, Surabaya dan Medan tepat pada tahun 1916. Akan tetapi karena seringkali terjadi perbedaan pendapat saat proses sensor maka dipusatkan pengawasan menjadi satu tempat di Batavia.
ADVERTISEMENT
Dalam prospek industri budaya salah satu konsep yang digunakan adalah komodifikasi. Dilihat dari sejarah perkembangan film, pada tahun 1924 adalah kali pertama film Cina di Indonesia diputar. JB, Kristanti dalam artikelnya yang berjudul Nonton Film Nonton Indonesia yang dimuat di Jurnal Perfilman Indonesia vol. 22 No. 2 juni 2017 menuliskan bahwa “ Film di Indonesia awalnya dibangun oleh para pedagang Cina yang pada 1930 an merupakan pemilik bioskop, pemodal, dan penonton film dan. Kemunculan film di Indonesia merupakan suatu komoditas karena itu dapat dimengerti bila sekarang film-film nasional cenderung mengejar sisi komersial dan mengabaikan segi kesenian. Sekadar meniru film yang sedang laris, tanpa perlu bersusah payah memikirkan bagaimana estetikanya.“
Dalam 10 tahun terakhir perfilman di Indonesia mengalami perubahan yang terbilang signifikan. Buku-buku yang memiliki nilai historis seperti film biografi tokoh K.H Ahmad Dahlan diadaptasi menjadi film. tak terkecuali film Laskar Pelangi, menjadi salah satu film yang dikomodifikasi menjadi komoditas film dari buku Andrea Hirata, termasuk film yang terlaris pada tahun 2012.
ADVERTISEMENT
Dyna Herlina S (2014) dalam artikel yang berjudul komodifikasi Histori dalam Sinema Indonesia mengemukakan catatan-catatan film terlaris sejak tahun 2008-2012 berturut-turut adalah Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, Sang Pencerah, Surat Kecil Untuk Tuhan, Habibie & Ainun. Buku-buku yang komodifikasi menjadi sebuah film mendatangkan keuntungan komersial. Tercatat data penonton pada tahun 2012 film Habibie & Ainun menjadi film peringkat teratas dengan sebanyak 4.601.249 penonton (film Indonesia.or.id). Pada tahun 2018 film Dilan 1990 menjadi film yang memiliki banyak peminat dengan total jumlah penonton mencapai 6.315.664 penonton dan setahun setelahnya film Dilan 1991 menjadi film peringkat teratas dengan jumlah penonton 5.253.411. Imperfect menjadi film Indonesia peringkat teratas setelah Dilan 1991 dengan jumlah penonton mencapai 2.662.356 (film Indonesia.or.id).
ADVERTISEMENT
Komodifikasi film memang menjadi bisnis yang bernilai karena mendatangkan keuntungan. Hingga saat ini film Indonesia saat ini terbilang beragam. Dari tahun ke tahun genre film yang ditayangkan sangat variatif, mulai dari genre komedi, romance, remaja, sampai pendidikan. Pada tahun 2020-2022 pemutaran film di Indonesia terbatas, namun demikian masih mencapai angka jutaan pada awal tahun 2020
Trizki Amalia Putri, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020