Buzz
·
14 April 2021 10:16

Terima Kasih, si Sepatu Putih

Konten ini diproduksi oleh Amanda Fanny
Terima Kasih, si Sepatu Putih (12676)
Ilustrasi Sepatu Putih Foto: Freepikcom
Siang itu, aku memiliki agenda pergi ke bank, untuk mengurus kartuku yang terblokir. Setelah merapikan semuanya, aku bersiap untuk pergi. Ojek online yang kupesan telah tiba di depan rumah. Terik matahari begitu terasa bertepatan dengan hari pertama puasa. Membuat mataku sesekali menyipit.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, aku sampai juga di bank. Aku diminta untuk menunggu di luar selama antrianku belum dipanggil, guna menghindari kerumunan di dalam gedung.
Hingga sampai juga pada nomor antrianku. Aku menuju meja customer service, dan menyampaikan permasalahanku. Tak berselang lama, kartuku sudah dapat digunakan kembali.
Aku kembali memesan ojek online untuk pulang. Setelah pengemudi tiba, aku berjalan menuju pintu ke luar. Namun tanpa disangka, saat aku hendak membuka pintu, seseorang dari luar bersiap untuk masuk dengan tergesa. Hal itu membuat kami berdua bertabrakan, dan aku tidak sengaja menginjak kakinya dengan cukup keras.
Aku langsung melihat ke arah bawah, tampak jelas noda bekas sepatuku di sepatunya yang berwarna putih. Aku panik seketika, dan langsung meminta maaf.
ADVERTISEMENT
"Mas yaampun maaf banget ya, Mas," kataku merasa bersalah.
"Iya, gapapa Mbak, saya juga minta maaf, ya," katanya.
Aku kembali melihat sepatu laki-laki itu. Seolah mengerti maksudku, Ia kembali mengatakan tidak masalah.
"Udah, gapapa Mbak," katanya lagi sambil sedikit tertawa.
Ternyata, belum selesai sampai disitu. Entah mengapa, saat aku bergerak mundur untuk menjaga jarak, aku merasa tubuhku kehilangan keseimbangan. Aku sudah berpikir diriku akan jatuh. Sungguh, aku tidak siap jika aku harus jatuh disaksikan seisi ruangan ini!
Namun, laki-laki bersepatu putih itu menangkap tubuhku. Persis seperti adegan-adegan sinetron yang sering muncul di tv. Jujur, saat itu aku bingung harus senang, sedih, atau malu. Aku tidak menyangka mengalami adegan sinetron di dalam dunia nyata.
ADVERTISEMENT
Di satu sisi, aku senang karena tidak jadi jatuh. Tapi, aku juga sedih karena merasa begitu bodoh. Selain itu, aku juga merasa malu karena jadi tontonan banyak orang.
Tapi tetap saja, di saat yang sama, aku juga merasa sangat beruntung. Mungkin, akan lebih malu rasanya jika aku benar-benar jatuh saat itu. Juga, hal itu bisa berpengaruh pada kondisi kakiku yang baru saja operasi bulan lalu. Karena dokter mengatakan, akan sangat berbahaya jika aku terjatuh walau hanya satu kali. Sekali lagi, terima kasih, si sepatu putih.