Dukun dan Tenaga Medis, Manakah yang Menjadi Pilihan dalam Mencari Kesembuhan?

Sociology Student at Brawijaya University
Konten dari Pengguna
29 November 2022 18:42
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari AMARELIS DEVITA APRECIA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: https://unsplash.com/photos/3n7DdlkMfEg
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://unsplash.com/photos/3n7DdlkMfEg
ADVERTISEMENT
Analisis Kepercayaan Masyarakat Modern terhadap Praktik Dukun dilihat dari Sudut Pandang Sosiologi.
ADVERTISEMENT
Dukun merupakan salah satu profesi yang eksistensinya masih sangat populer di mata masyarakat. Keterlibatan seorang dukun tidak hanya berpaku pada soal-soal metafisik, tetapi juga dipercaya dapat membantu seseorang dalam menyembuhkan penyakit. Pada dasarnya, penerimaan masyarakat terhadap kehadiran dukun merupakan jalan alternatif dari pengobatan medis modern yang tidak selalu memberikan kesembuhan pada suatu penyakit. Beberapa contoh penyakit yang dipercaya dapat disembuhkan oleh para dukun seperti sakit hasil dari ilmu guna-guna atau santet.
Kepercayaan masyarakat modern kepada dukun menjadi suatu fenomena menarik yang hadir ditengah-tengah hegemoni dunia kesehatan modern. Meskipun kini sudah banyak ditemukan keberadaan lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan, eksistensi praktik pengobatan tradisional melalui dukun ternyata masih sangat subur di Indonesia. Sebelum terjadi peralihan kebudayaan pra-modern, dalam kehidupan manusia primitif mayoritas pengkajian ilmu-ilmu kesehatan selalu dikaitkan dengan dunia non-material yang berhubungan dengan dewa-dewa dan roh leluhurnya. Selama beratus-ratus tahun, masyarakat mengandalkan kehadiran seorang dukun yang menjadikannya kental akan orientasi kearifan lokal.
ADVERTISEMENT
Pada masa itu, penyakit dianggap sebagai suatu musibah atau bencana dalam kehidupan seseorang yang tidak hanya melibatkan tubuhnya saja tetapi juga pikiran, lingkungan fisik, dan sosial. Serta hubungan antara manusia dengan kosmos (alam raya) dan dewa-dewa (Capra, 2004). Untuk bisa mendapatkan kesembuhan, seseorang harus melaksanakan upacara dan ritual adat sebagai bentuk pengorbanan. Kala itu, dasar dari pengendalian rasa takut seorang pasien menjadi komponen penting guna mengembalikan autoimun dalam tubuh seseorang. Ritual yang dilakukan melibatkan relasi yang cukup kuat antara pihak pasien dengan sang dukun dengan metode penyaluran kekuatan spiritual. Secara global, pemahaman tentang konsep penyembuhan yang bersifat supranatural sudah terjadi sekitar 400 tahun sebelum masehi di Yunani.
Pendefinisian kata dukun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah: “Orang yang pekerjaannya menolong orang sakit, mengobati, memberi jampi-jampi dan mantra. Konon, diantaranya melakukan kegiatannya lewat kemampuan tenaga gaib”. Seorang dukun memiliki peranan untuk menyembuhkan pasiennya dengan memberikan jampi-jampi berupa mantra dan guna-guna. Untuk bisa melakukan hal tersebut, seorang dukun harus memiliki pengetahuan akan rahasia-rahasia dari sesuatu yang gaib. Kepercayaan ini, menurut Foster dan Anderson (2008:62) berkaitan erat dengan tingkah laku masyarakat primitif.
ADVERTISEMENT
Saat ini, masyarakat modern telah mengembangkan berbagai unsur dalam kehidupannya dalam suatu sistem yang lebih tertata dan saling berhubungan. Sistem yang sengaja dibentuk untuk mempermudah dalam setiap pemenuhan kebutuhan tiap individu disebut dengan pranata sosial. Termasuk ke dalamnya pranata kesehatan, keterkaitan antara unsur pranata kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan sistem pengobatan secara tradisional. Salah satu tokoh yang mengimplementasikan pengobatan tradisional adalah dukun, ia diakui dan dianggap masyarakat mampu untuk melakukan praktek pengobatan yang berbeda dengan ilmu kedokteran. (Yunus, dkk.1992:3).
Secara umum, para pelaku pengobatan tradisional tidak memiliki pendidikan khusus layaknya tenaga medis profesional, mereka adalah anggota dari masyarakat biasa yang memiliki kemampuan serta keterampilan dalam bidang pengobatan secara konvensional. Pengobatan yang dilakukan terhadap suatu penyakit akan berlaku sesuai dengan bagaimana tata cara atau kepercayaan dalam masyarakat itu sendiri. Keterkaitan antara adat dan budaya dalam sistem pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun, akan terlihat sangat kontras terutama ketika syarat dari kesembuhan baru bisa didapatkan setelah melakukan ritual atau upacara tertentu.
ADVERTISEMENT
Sehubungan dengan hal tersebut, masyarakat mewarisi kepercayaan kepada seorang dukun bukan hanya karena faktor pengalaman tetapi juga sosial budaya serta ekonomi. Ketika manusia menghadapi permasalahan seperti sakit, maka mereka akan berusaha mencari penyembuhnya. Akan tetapi, organisasi sistem pelayanan kesehatan, baik modern maupun tradisional sangat menentukan dan pengaruh terhadap perilaku mencari pengobatan (Rahma Dewi, 2009).
Secara umum Kalangie membagi sistem medis kedalam dua golongan besar, yaitu sistem medis ilmiah yang merupakan hasil perkembangan ilmu pengetahuan (terutama dalam dunia barat) dan sistem non- medis (tradisional) yang berasal dari aneka warna kebudayaan manusia. Pengobatan yang berbasis pada pembuktian ilmiah identik dengan pengobatan kedokteran yang dilakukan oleh para tenaga medis. Berbeda dengan pengobatan tradisional yang berorientasi pada kearifan lokal dan kebudayaan masyarakat yang dilakukan oleh para dukun.
ADVERTISEMENT
Dalam penerapannya seorang dukun seringkali melibatkan kekuatan supranatural. Diagnosa penyakit yang diberikan oleh dukun selalu identik dengan pelibatan kekuatan gaib yang dipadukan dengan batin. Salah satu ciri pengobatan dukun adalah penggunaan doa-doa atau mantra- mantra, air putih yang diisi rapalan doa-doa, dan ramuan dari tumbuh-tumbuhan (Agoes, 1996). Kepercayaan masyarakat terhadap praktik perdukunan memiliki kedudukan sebagai local beliefs. Sosiologi memandang posisi masyarakat modern yang masih mempercayai praktik perdukunan tidak bisa langsung dihakimi dengan sebutan tingkah laku primitif. Hal ini berdasar pada kepercayaan lokal yang tidak cukup hanya dilihat dengan sudut pandang rasionalitas ilmu pengetahuan.
Dimensi penalaran dengan logika yang berada di belakang rasionalitas, digolongkan ke dalam masyarakat tribal atau tradisional yang pergerakannya masih lambat dan terbelakang. Beberapa penelitian yang mendalami tentang pengobatan secara tradisional seperti penelitian yang dilakukan oleh Darojat (2005), "Terapi ruqyah terhadap penyakit fisik, jiwa, dan gangguan jin yang diulas menggunakan perspektif islam". Dalam penelitiannya, Darojat memfokuskan dalil-dalil yang diperoleh dari Al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW sebagai dasar analisisnya. Metode pengobatan tradisional yang diteliti adalah dengan meminumkan segelas air yang sudah didoakan dengan maksud untuk mengusir keberadaan jin dari tubuh sang pasien. Pengobatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk menyehatkan secara fisik, tetapi juga psikis.
ADVERTISEMENT
Status dari dukun atau paranormal dipandang sebagai sebuah kehormatan dan bergengsi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para pasien dari praktik perdukunan tidak hanya berasal dari kaum masyarakat desa dan terbelakang, tetapi juga dari kalangan pejabat hingga pengusaha konglomerat. Jenis dukun di Indonesia pun sangat beragam, di dalam tulisan ini lebih menekankan kepada junis dukun yang mampu mengobati segala macam penyakit dan mampu memberikan kesehatan.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan mayoritas dari masyarakat Indonesia masih sangat mempercayai dukun, menurut Abidin (2010, 99-100) yaitu:
a. Kebudayaan Indonesia yang secara garis besar berakar dari kepercayaan masyarakat nusantara yakni animisme dan dinamisme
b. Akidah agama yang tidak dipegang secara erat, serta jauhnya mereka dari ilmu agama dan para ulama
ADVERTISEMENT
c. Rasa tidak sabar dan keinginan untuk mendapatkan sesuatu secara instan
d. Dianggap sebagai jalan alternatif yang memang menjanjikan kesembuhan
Dalam kacamata Sosiologi, seorang dukun memegang kedudukan yang formal individual terutama ketika peranannya dapat menjadi salah satu unsur penggerak pranata kesehatan. Dari fenomena ini, terdapat sebuah konsep dimana para pelaku praktik perdukunan telah dipolarisasi untuk dikenal dengan sebutan orang pintar. Kepercayaan ini, dalam konsep terminologi Sosiologi dipercaya disebut sebagai trust. Keyakinan masyarakat modern akan keahlian seorang dukun untuk menyembuhkannya merupakan hasil dari harapan yang menguntungkan kedua belah pihak melalui interaksi sosial.
Dapat disimpulkan, kepercayaan masyarakat modern terhadap peran dukun merupakan salah satu cara untuk memperoleh penyembuhan bersifat non-medis berbasis tradisional. Kepercayaan ini tidak semata-mata dapat dihakimi sebagai suatu keterbelakangan. Ada faktor-faktor pendukung lain seperti pengaruh tradisi, kebudayaan, dan ekonomi seseorang. Korelasi antara kepercayaan masyarakat Indonesia dengan eksistensi praktik dukun pada era modern, telah menjadi suatu pemahaman yang terkonstruksi serta diwariskan dari adat dan sistem secara turun temurun dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
editor-avatar-0
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020