kumplus- Opini Ario Tamat

Slebew!

Esais. Penekun bacaan anak. Emerging writer di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2021.
24 Agustus 2022 16:02
·
waktu baca 5 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
“Bar shooting Angling Darma, lanjut karnaval di Citayam Fashion Week… Slebeew,” begitu bunyi takarir status WA kenalan saya pada akhir Juli lalu. Kalimat itu menggenapi foto dirinya dalam balutan beskap merah muda, blangkon, dan celana panjang hitam. Tentu, kenalan yang mengabdi di salah satu lembaga pemerintah di sebuah kota di Jawa Tengah ini tidak sungguhan terlibat penggarapan sinetron kolosal atau menyeberang penuh gaya di CFW. Dalam lintas usia, kota, pergaulan, dan pasti selera berbusana, ia adalah salah satu warga negara Indonesia yang dipersatukan oleh euforia satu kata: slebew.
Jika Anda mengetikkan kata “slebew” di Google, langsung tampak beban moral arti yang harus ditanggung kata ini alih-alih pencetus atau penuturnya. Situs-situs dewasa misalnya, semula memanfaatkan kata “slebew” untuk menyamarkan konten. Berita-berita di portal daring tampil dengan judul dramatis untuk meyakinan bahwa “slebew” mengandung konotasi buruk yang mengarah ke pornografi; “Arti Kata Slebew yang Dipopulerkan Jeje, Gak Boleh Asal Sebut!”; “Duh! Ternyata Ini Arti Kata Slebew yang Biasa Diucapkan Jeje”; “Jangan Sembarangan Ucapkan Kata Slebew, Ini Makna yang Membuatnya Diblokir Kominfo”; “Ternyata Ini Arti Kata Slebew ‘Jeje’, Bukan untuk Anak-anak!”; dan “Ucapkan Slebew Sembarangan Bisa Berujung Kena Blokir Kominfo, Alasannya?”
Namun, beban moral bahasa nyatanya tidak meredupkan nasib sebuah kata. Nasib baik terkadang justru berpihak pada kata berkonotasi ataupun berdenotasi buruk. Di Instagram, sampai 13 Agustus 2022, ada sekitar 35,1 ribu postingan menggunakan #slebew—dari konten video lucu, unggahan foto yang sama sekali tidak terkait CFW atau Jeje, sampai iklan jualan. Slebew menjadi kata yang sering dipakai.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanPLUS
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanPLUS
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
check
Bebas akses di web dan aplikasi
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanPLUS
Dari Ganefo buat ganti Negara Dunia Ketiga, sampai perdebatan piscok/piskat untuk menyingkat pisang cokelat. Indonesia ini kok kebanyakan singkatan ya? Kolom Setyaningsih di @kumparanplus.
4 Konten
KONTEN SELANJUTNYA
Sold!
Setyaningsih
SEDANG DIBACA
Slebew!
Setyaningsih
Lihat Lainnya
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten