kumparan
11 Sep 2019 22:06 WIB

Ledakan Fitoplankton di Teluk Ambon Berkurang Akibat Cuaca Panas

Bagan budidaya ikan di Desa Latta, Kecamatan Baguala yang merupakan salah satu lokasi ledakan fitoplankton, Kamis (10/1). Jarak bagan dengan area fitoplankton sekitar 50 meter (Foto:Doc.ambonnesia)
Ambonnesia.com-Ambon,-Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, memastikan ledakan populasi fitoplankton (Blooming) di Teluk Ambon masih dalam kondisi aman. Hal ini disebabkan oleh perubahan musim yang menyebabkan berkurangnya jumlah fitoplankton.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Kota Ambon dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) maupun Dinas Kelautan dan Perikanan telah mengantisipasi dampak buruk ledakan fitoplankton tersebut. Hal ini dengan melakukan penelitian terkait penyebarannya di sekitar perairan Teluk Ambon.
"Hasilnya penelitiannya positif, tidak ada apa-apa. Itu cuma situasinya saja dari iklim," kata Richard di Ambon, Rabu (11/9).
Hasil penelitian yang dikeluarkan tim peneliti dari jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Pattimura Ambon (Unpatti) menjadi rujukan bagi pemerintah kota untuk mengambil langkah-langkah antisipasi. Terutama untuk menjelaskan kepada masyarakat.
"Paling tidak itu menjadi data yang cukup akurat, untuk Pemkot mengambil langka-langkah. Terutama blooming alga tersebut," jelasnya.
Sebelumnya, warga Ambon sempat dihebohkan dengan adanya ledakan fitoplankton pada Kamis, 10 Januari 2019, dengan luasan mencapai 31 hektare di perairan Desa Lateri dan Passo, Kecamatan Baguala hingga kawasan Poka, Kecamatan Teluk Ambon. Tingkat kepadatan ledakan terbilang tinggi, yakni 9×100 ribu sel per liter hingga 2,5×1000 juta sel per liter.
ADVERTISEMENT
Ledakan fitoplankton jenis Dinoflagelata Gonyaulax itu belum menimbulkan kematian ikan. Namun, beredarnya surat himbauan dari Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Persampahan (DLHKP) Ambon membuat sejumlah nelayan panik. Surat itu ditujukan kepada camat se-Kota Ambon, berisi himbauan tidak mengonsumsi ikan dan kerang yang berasal dari dalam teluk.
Kepala Dinas Perikanan, Steven Patty, menambahkan ledakan fitoplankton bergantung pada tingkat kesuburan laut. Ia juga memastikan ledakan tidak menyebabkan ikan atau organisme laut mengalami kematian.
"Untuk sementara tidak ada ikan yang mati, aman saja karena tidak punya tingkat keracunan," katanya.
Peneliti Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (Unpatti), Irman Kesaulya, telah melakukan penelitian pada Rabu, (4/9). Hasil awal menunjukan, fitoplankton jenis Dinoflagelata Gonyaulax itu sama dengan jenis fitoplankton yang muncul pada Januari 2019.
ADVERTISEMENT
Irman mengatakan blooming fitoplankton terjadi hampir di semua bagian perairan Teluk Ambon. Bahkan di beberapa lokasi seperti di perairan pantai Poka dan sekitar tanjung Martha Alfons, proses ledakan terjadi hingga di bibir pantai.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas perairan Teluk Ambon makin menurun sehingga memungkinkan ledakan itu terjadi dua kali dalam setahun.
"Kondisi seperti ini sangat jarang terjadi di perairan lain di dunia karena biasanya proses blooming fitoplankton ini hanya terjadi satu kali dalam setahun pada musim tertentu," katanya.
Dia menambahkan, penting bagi pemerintah dan lembaga penelitian serta pendidikan tinggi untuk berkerja sama mengurangi kerusakan lingkungan laut.
"Untuk menghindari terjadinya proses ledakan yang dapat memberikan dampak negatif yaitu kerugian baik secara ekologi maupun ekonomi," lanjut Irman. (Mona)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·