Konten dari Pengguna

Mengapa Ada Bayi yang Cepat Akrab, tetapi Ada yang Tidak?

Aminah Shalihah Salwa
Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30 Desember 2025 23:08 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Aminah Shalihah Salwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bayi bertemu orang asing (Sumber: Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi bertemu orang asing (Sumber: Freepik)
ADVERTISEMENT
Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa ada bayi yang mudah akrab saat bertemu orang baru, tetapi ada juga yang justru menangis atau terlihat tidak nyaman? Sebagian orang mungkin berkata, “Itu mah tergantung orangnya. Kalau memang suka anak kecil, bayi jadi merasa nyaman untuk mendekat. Tapi kalau tidak suka anak kecil, bayinya juga jadi takut.”
ADVERTISEMENT
Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Sikap dan ekspresi orang dewasa memang memengaruhi respons bayi. Namun, tahukah kamu bahwa setiap bayi juga memiliki kecenderungan sosial yang berbeda-beda? Yuk, pahami perbedaan cara bayi merespons orang lain berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Krol et al. (2021).
Sejak Kecil, Bayi Sudah Bisa “Menilai” Orang Lain
Faktanya, kemampuan sosial bayi berkembang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Sejak usia 6 bulan, bayi sudah mampu mengevaluasi orang lain dan membentuk kesan sederhana terhadap orang tersebut. Mereka cenderung menyukai sosok yang bersikap membantu dan menghindari sosok yang mengganggu.
Memasuki usia 7 bulan, bayi mulai mampu mengenali kontak mata serta membedakan ekspresi senyum dan cemberut. Bahkan, pada usia sekitar 11 bulan, bayi sudah dapat menggunakan isyarat wajah tersebut untuk membentuk kesan sosial yang kemudian memengaruhi cara mereka merespons orang lain.
ADVERTISEMENT
Peran Gen CD38 dan Hormon Oksitosin
Salah satu faktor biologis yang memengaruhi respons sosial bayi adalah gen CD38. Gen ini berperan penting dalam mengatur pelepasan hormon oksitosin, yaitu hormon yang membantu manusia mengenali emosi dan mengarahkan perhatian pada wajah orang lain. Kadar oksitosin yang tinggi membuat bayi lebih peka terhadap stimulus sosial yang positif, seperti senyuman, dan tidak terlalu kuat merespons stimulus negatif, seperti wajah cemberut.
Pada gen CD38, terdapat tiga variasi genetik, yaitu AA, CA, dan CC. Dalam penelitian ini, genotipe CC dikaitkan dengan peningkatan risiko ASD (Autism Spectrum Disorder).
Cara Otak Bayi Merespons Senyuman dan Cemberut
Seperti yang sudah kita ketahui, otak manusia terbagi atas dua bagian utama, yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan. Pada bagian depan otak (frontal), kedua hemisfer ini berperan dalam mengatur kecenderungan seseorang untuk mendekat atau menjauh dari suatu stimulus sosial. Secara umum, aktivitas frontal kiri yang lebih dominan berkaitan dengan kecenderungan mendekat, sedangkan aktivitas frontal kanan yang lebih dominan berkaitan dengan kecenderungan menjauh.
ADVERTISEMENT
Pola yang Umum pada Bayi dengan Genotipe CA dan AA
Pada bayi dengan genotipe CA dan AA, ditemukan pola respons yang lebih umum. Ketika mereka menatap wajah orang yang tersenyum secara langsung, aktivitas frontal kiri menjadi lebih dominan. Hal ini membuat bayi cenderung mendekat, sehingga terlihat lebih tertarik dan nyaman dengan orang yang menunjukkan ekspresi ramah.
Sebaliknya, ketika mereka menatap wajah orang yang cemberut secara langsung, aktivitas frontal kanan menjadi lebih dominan. Akibatnya, bayi cenderung menjauh dan sering kali menangis atau rewel saat menatap orang yang raut wajahnya terlihat galak atau tidak ramah.
Pola yang Berbeda pada Bayi dengan Genotipe CC
Menariknya, bayi dengan genotipe CC menunjukkan pola respons yang berbeda. Pada kelompok ini, aktivitas frontal kanan justru lebih dominan saat menatap wajah yang tersenyum, sehingga bayi cenderung menjauhi orang yang raut wajahnya terlihat ramah.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, ketika menatap orang dengan ekspresi cemberut secara langsung, aktivitas frontal kiri menjadi lebih dominan. Pola ini membuat bayi dengan genotipe CC, dalam beberapa situasi, justru terlihat lebih tertarik atau mendekati orang dengan ekspresi tersebut.
Jadi, kalau bayi menangis ketika menatapmu meskipun sudah tersenyum, jangan khawatir, ya! Bisa jadi cara otak bayi tersebut memproses ekspresi wajah memang berbeda. Perbedaan ini merupakan variasi alami dalam perkembangan manusia.