News
30 Mei 2017 8:59

Bagaimana Petir Terbentuk?

Petir di langit Jakarta (Foto: Muhammad Adimaja/Antara)

Petir merupakan kilatan cahaya di langit kemudian disusul oleh suara menggelegar yang disebut guruh (gemuruh). Perbedaan waktu kemunculan ini disebabkan adanya perbedaan antara kecepatan suara dan kecepatan cahaya.

Bagaimana petir terbentuk? Mari kita buat analogi sederhana soal petir tersebut.

Petir merupakan gejala alam yang bisa kita analogikan sebagai sebuah kondensator raksasa. Kondensator adalah alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik.

Petir yang kita ibaratkan kondensator itu memiliki dua lempeng. Lempeng pertama adalah awan (bisa lempeng negatif atau lempeng positif) dan lempeng kedua adalah bumi (kita anggap bersifat netral).

Selain itu, petir juga dapat terjadi dari awan ke awan (intercloud), di mana salah satu awan bermuatan negatif dan awan lainnya bermuatan positif.

Baca juga: Mencari Petir Terbesar Sedunia di Pondok Petir Depok

Dari sini petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya.

Proses terjadinya muatan pada awan karena dia bergerak terus menerus secara teratur, dan selama pergerakannya dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi (atas atau bawah), sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya.

Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi.

Pada proses pembuangan muatan ini, media yang dilalui elektron adalah udara. Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah terjadi ledakkan suara.

Dalam proses pembuangan ini, udara merupakan media yang akan dilalui elektron. Apabila pada saat muatan elektron dapat menembus batas isolasi udara inilah menjadikan suara ledakan atau guntur.

Ilustrasi petir di gunung (Foto: Pixabay)

Menurut Kepala Subbidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Kukuh, terdapat dua teori yang bisa menjelaskan bagaimana petir terbentuk.

Pertama adalah terjadinya penguapan yang sangat cepat karena radiasi matahari yang sangat tinggi pada permukaan bumi yang terdapat banyak air.

“Saat menguap tersebut, butiran air mengalami pergesekan antara uap air yang menyebabkan terjadinya beda potensial antara uap air tersebut sehingga terjadi petir,” kata Kukuh saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Selasa (30/5).

Kedua, penguapan air tersebut akan menyebabkan awan cumulonimbus yang mampu menembus ketinggian hingga 11-22 kilometer. Sedangkan di ketinggian 5 kilometer saja suhu udara hanya 0 derajat. Semakin tinggi maka semakin dingin.

“Kondisi tersebut menyebabkan kandungan ion negatif di awan akan menetralkan kondisi dengan cara mengarahkannya ke bumi (tempat yang netral),” ungkap dia.

Kemudian,pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa petir lebih sering terjadi di musim transisi?

Menurut Kukuh, hal itu karena saat musim transisi dari hujan ke kemarau atau sebaliknya terdapat awan cumulonimbus yang dapat menghasilkan petir lebih sering muncul.

“Dari segi meteorologinya petir muncul sebagai alarm atau tanda bahwa telah masuk musim transisi,” katanya.

Ilustrasi petir menyambar pesawat (Foto: Pixabay)

Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan