KONTEN PUBLISHER
News

Beragam Aliran Islam di Jerman, dari yang Keras hingga Liberal

Ilustrasi Masjid (Foto: Pixabay)

BANDUNG, bandungkiwari - Jerman dikenal negara maju yang paling toleran terhadap keberagaman. Mereka terbuka pada imigran berikut agama-agama yang mereka bawa. Tak terkecuali imigran muslim yang sudah mendapatkan naungan sejak akhir Perang Dunia II. Jumlah komunitas muslim di Jerman terus bertumbuh, diperkirakan mencapai 4,7 juta jiwa.

Para imigran muslim bisa melakukan kegiatan keagamaan di masjid-masjid dengan leluasa. Tidak sedikit masjid yang didirikan. Di Berlin saja saat ini tercatat ada lebih dari 100 masjid, kata Yul Rachmawati, peneliti dari Universitas Gadjah Mada yang menjadi peserta program studi Goethe Institut Indonesia bertajuk “Life of Muslims in Germany”.

“Bedanya kalau di kita (Indonesia) bisa dengar adzan di mana-mana, kalau di sana (Jerman) tidak,” tutur Yul Rachmawati, dalam diskusi bertajuk “Life of Muslims in Germany” di Goethe Institut Indonesia - Bandung, baru-baru ini.

Jadi meski di Berlin ada 100 lebih masjid, namun mereka tidak mengumandangkan adzan melalui pengeras suara. Adzan dilakukan hanya di internal masjid saja. Untuk mengetahui waktu salat, Yul mengakalinya dengan bertanya kepada sesama muslim di sana. Agak sulit menentukan waktu salat mengingat ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Jerman.

Meski di Berlin ada 100 lebih masjid, namun mereka tidak mengumandangkan adzan melalui pengeras suara.

- -

Yul merupakan peserta studi yang berangkat ke Jerman Juni 2018 bersama sejumlah intelektual Indonesia lainnya. Kota yang menjadi tujuan dalam studi trip ini ialah Gottingen, Hamburg dan Berlin. Yul melakukan kajian pada masjid-masjid yang didirikan di kota-kota tersebut, salah satunya Masjid At Taqwa yang dibangun komunitas Turki pada 1997.

Masjid At Taqwa memiliki sejumlah keunikan, antara lain sebagai masjid besar yang banyak melahirkan mualaf atau orang yang masuk Islam baik warga Jerman maupun imigran. Masjid ini dipimpin seorang imam yang harus mengantongi sertifikat.

Menurut Yul, menjadi imam salat di masjid Jerman tidaklah mudah. “Kalau di kita kan yang jadi imam salat cukup saling tunjuk, kamu deh, kamu deh, kalau di Jerman enggak,” kata perempuan berkerudung ini.

Sebagai masjid yang didirikan komunitas Islam-Turki, imam Masjid At Taqwa harus menadapat sertifikat dari Turki. Sertifikasi dilalui dengan cara mengikuti ujian seperti ujian sekolah atau uji kompetensi. Salah satu yang diuji ialah bahasa Arab dan kemampuan menguasai ayat Al Quran. Imam salat di masjid Jerman umumnya wajib bisa bahasa Arab dan menguasai Al Quran dan hadis.

Yul Rachmawati, peneliti dari Universitas Gadjah Mada yang menjadi peserta program studi Goethe Institut Indonesia bertajuk “Life of Muslims in Germany” di Goethe Institut Indonesia-Bandung. (Iman Herdiana)

“Kalau tak bisa bahasa Arab, disekolahkan lagi,” tutur Yul. Hal ini pula yang membedakan dengan imam di Indonesia. Mengingat hal itu, Yul merasa malu sendiri.

Bahkan di masjid NBS Moschee & Culturzentrum imamnya adalah seorang pemegang gelar S3 ekonomi, tapi sehari-hari dia mengajar iqra untuk anak-anak, bahasa Arabnya fasih, dan wawasan keislamannya sangat luas. Sebagai pemegang gelar Doctor of Philosophy bidang ekonomi, sang imam bangga menguasai bahasa Arab dan mampu mengajar iqra untuk anak-anak.

Masjid lain yang dikunjungi Yul ialah Şehitlik-Moschee, juga didirikan komunitas Turki di Berlin. Yul berkesempatan bertemu dan berbincang dengan imam masjid yang bernama Levent Yukcu. Masjid ini sebagaimana masjid Turki umumnya memiliki arsitektur gaya Otoman yang indah dan megah. Biaya renovasi masjid didanai dari lembaga keagamaan kenamaan Turki, DITIB.

Di masjid-masjid yang didirikan komunitas muslim Turki bisa ditemukan makam-makam orang Turki. Ini mengingatkan akan tradisi di masjid-masjid NU di Indonesia.

Yul menjelaskan, sebutan masjid di Jerman sebenarnya nama tidak resmi, resminya adalah pusat studi dan kebudayaan Islam yang fungsinya sama dengan masjid seperti di Indonesia.

Menurut Yul, penamaan ini sebagai strategi komunitas muslim di Jerman supaya mudah mendirikan rumah ibadah. Yul mendapat informasi adanya protes masyarakat setempat terhadap bangunan yang dinamai masjid. Sehingga nama pusat studi dan kebudayaan jadi pilihan yang aman.

Yul sempat mengonfirmasi masalah penamaan masjid tersebut kepada Kementerian Dalam Negeri Jerman. Pihak kementerian dengan ramah menjelaskan bahwa informasi itu terjadi karena kesalahpahaman. Pada dasarnya untuk mendapatkan izin mendirikan bangunan apa pun di Jerman tidaklah mudah mengingat aturan penggunaan lahan yang sangat ketat.

“Membangun apa pun sulit perizinannya, bukan soal definisi masjidnya. Beda kan dengan di kita, membangun kos-kosan tinggal membangun, di Jerman tidak bisa seenaknya begitu saja,” tutur Yul, menuturkan hasil pembicaraan dengan Kementerian Dalam Negeri Jerman.

Berikutnya masjid Al Falah di Kota Berlin. Masjid ini didominasi orang-orang dari Asia Tenggara seperti Indonesia, Bunai, Malaysia, Ethiopia, dan Arab. Yul mudah menemukan orang Indonesia yang bertutur bahasa Indonesia. Masjid ini cukup unik kerena selain tempat kegiatan keagamaan juga menjadi tempat untuk mencari jodoh, tak sedikit imigran yang mendapat jodoh dengan orang Indonesia.

Masjid Ibn Ruschd-Goethe menjadi tujuan Yul berikutnya. Masjid ini dikenal sebagai wadahnya komunitas Islam yang terbuka untuk segala macam aliran. Seluruh bagian masjid dicat warna putih menunjukkan sebagai warna netral dan tidak condong pada sekte tertentu, bahkan hampir seluruh ornament masjid warna putih.

Bahkan Ibn Ruschd-Goethe cenderung beraliran Islam liberal, karena hanya di masjid ini perempuan boleh salat tanpa mukena. Perempuan dan laki-laki boleh salat dalam satu saf yang sama, tidak terpisah, bahkan perempuan bisa menjadi imam.

Salah satu kegiatan di masjid ini ialah program diskusi rutin yang diikuti berbagai aliran atau mazhab Islam, Sunni sampai Syiah. Diskusi dilakukan secara bebas, pesertanya orang Islam maupun dengan non-muslim, boleh debat, boleh beda keyakinan, tapi ujungnya kembali pada pendirian masing-masing dan harus saling menghormati. Tidak boleh pemaksaan kehendak.

“Masjid Ibn Ruschd memiliki pengaruh yang kuat di Jerman. Fokusnya pada kesetaraan dan hak-hak perempuan,” kata Yul.

Pemerintah Jerman mendukung kegiatan di masjid berkapasitas 30 orang itu. Dini Alamanda, rekan Yul dalam studi trip tersebut, menyebut masjid Ibn Ruschd sebagai masjid abu-abu. “Tidak Sunni banget, tidak Syiah banget. Ibn Ruschd tempat semua aliran. Justru karena itu pemerintah Jerman menyukainya,” ucap dosen ekonomi Universitas Garut ini.

Rekan Yul dan Dini, Muhamad Heychael, menambahkan kebebasan di masjid Ibn Ruschd-Goethe bukannya berjalan tanpa ancaman. Di Jerman juga tumbuh Islam berhaluan keras, antara lain, golongan Salafi jihad yang menghalalkan kekerasan kepada kelompok lain di luar kelompoknya.

Ibn Ruschd-Goethe pun sering menerima ancaman lewat email. Tapi tak ada yang berani menunaikan ancaman tersebut karena takut dengan ketegasan hukum yang ditegakkan pemerintah Jerman.

“Tiap hari Ibnu Ruschd mendapat kawalan dari kepolisian,” kata Muhamad Heychael. “Di sana boleh tidak setuju tetapi tidak ada yang mau melakukan tindakan fisik.”

Peneliti dari Remotv tersebut tidak bisa membayangkan seandainya masjid seperti Ibn Ruschd ada di negeri yang sarat dengan kekerasan atas nama agama, yang mudah membakar atau mengkafirkan kelompok tertentu karena perbedaan. (Iman Herdiana).

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan