Publisher

Antisipasi Cacar Monyet, Dinkes Batam Siapkan Alat Pemindai Suhu Tubuh

Antisipasi Cacar Monyet, Dinkes Batam Siapkan Alat Pemindai Suhu Tubuh

BATAMNEWS

12 Mei 2019 16:17

  

Ilustrasi cacar. Foto: Shutter Stock

Batam - Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, mengantisipasi penularan virus cacar monyet atau monkey pox, setelah Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan penemuan penderita penyakit tersebut di negaranya.

Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusumarjadi, menuturkan akan menyiapkan sebuah alat sebagai langkah antisipasi agar penyebaran virus tak sampai ke Indonesia.

"Saya sudah berbincang dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), untuk menyiagakan alat pendeteksi panas tubuh, sebagai langkah antisipasi," kata Didi seperti yang dikutip dari Antara, Minggu (12/5).

Ia menyatakan dengan alat itu, maka suhu tubuh setiap warga negara Indonesia dan asing yang baru memasuki wilayah Batam akan dipindai.

Bila diketahui suhunya tinggi, atau melebihi batas normal, maka akan langsung dievakuasi untuk penanganan lebih lanjut.

Dan bila diduga yang bersangkutan positif menderita cacar monyet, maka akan langsung dibawa ke ruang isolasi di RS Badan Pengusahaan Batam atau RS Umum Daerah Embung Fatimah.

"Untuk kewaspadaan umum setiap RS yang curiga ada gejala cacar, ambil darah. Di BPLTKS bisa," kata dia.

Tidak hanya itu, bila seorang penumpang kapal dicurigai mengidap cacar Singapura, maka seluruh penumpang kapal harus ikut dikarantina.

"Karena penularannya melalui kontak langsung. Masa inkubasi 5-7 hari baru terlihat gejalanya," kata dia.

Gejala cacar monyet sama dengan cacar lainnya, antara lain demam dan gangguan pernapasan. Menurutnya yang membuat penyakit itu berbahaya adalah radang pernapasan. "Cacarnya sama, virusnya sama," kata dia.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan warga Batam untuk menghindari bepergian ke Singapura, agar terhindar dari penularan virus itu.

Cacar monyet adalah infeksi virus langka yang sebenarnya tidak dapat menyebar dengan mudah antarmanusia.

Penularan utama dari hewan ke manusia terjadi lewat kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau kulit hewan yang terinfeksi. Memakan daging yang tidak dimasak dengan baik dari hewan yang terinfeksi juga mungkin menjadi salah satu cara penularan.

Sementara, penularan sekunder dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak tatap muka dalam waktu yang lama dengan orang yang terinfeksi, lesi kulit atau benda yang terkontaminasi cairan pasien.

Saat sudah terinfeksi, cacar monyet ini mengalami masa inkubasi selama 5 hingga 21 hari sampai munculnya gejala. Pada periode 0-5 hari ditandai dengan muncul demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kurang bertenaga.

Virus ini mirip dengan cacar (variola atau small pox, bukan cacar air) meskipun lebih ringan. Tak ada pengobatan khusus atau vaksin yang tersedia untuk menangkal cacar monyet. Tapi, WHO menyatakan vaksin cacar 85 persen efektif mencegah cacar monyet.

(*)

*Baca berita lainnya di Batamnews.co.id

Berita ini pertama kali terbit di Batamnews.co.id

Baca Lainnya

Ruangan Khusus Bayi di Pelabuhan Tanjunguban Dihantam Angin Ribut

BATAMNEWS

2 Desa Terdampak Kekeringan di Temanggung Dapat Distribusi Air Bersih

Tugu Jogja

Makanan Khas Temanggung Warnai Porsema Jateng

Tugu Jogja

Pemerintah Aceh Bantu Korban Puting Beliung di Bireueun

ACEHKINI

Tips Lengkap Mendaki Gunung Tambora Bagi Pemula

Info Dompu

Kapolda Kalbar Apresiasi Aksi Heroik Bripka Ahmad Adrian

Hi!Pontianak

Eks Deputi Penindakan KPK Irjen Firli Dilantik Jadi Kapolda Sumsel

kumparanNEWS

Orang Tua Siswa soal Sistem Zonasi Sekolah: yang Rugi adalah Anak Kami

Manado Bacirita

Keluh Pedagang Koran di Banjarmasin, Makin Hari Makin Sepi Pelanggan

banjarhits.id

Curi Motor di Halaman Masjid, Oknum PNS di Lumajang Diciduk Polisi

kumparanNEWS
Kembali ke Awal