9 April 2019 13:29

Melihat Proses Ritual Kololi Kie di Ternate

Konten ini diproduksi oleh Cermat
Persiapan jelang pelaksanaan ritual Kololi Kie Mote Ngolo atau mengelilingi gunung/kampung melalui jalur laut. (Foto: Olis/cermat)

Tidak seperti pada akhir pekan biasanya. Pagi itu, Minggu pekan kemarin, kawasan Sunyie Lamo nampak lengang. Tak ada riuh suara pejalan kaki. Hanya beberapa pasangan muda-mudi yang hilir mudik di kawasan itu.

ADVERTISEMENT

Lokasi yang kerap dimanfaatkan untuk Car Free Day itu, kini dipenuhi deretan lapak pedagang dalam event Legu Gam atau pesta rakyat, untuk memperingati hari lahir mendiang Almarhum Mudaffar Sjah II, Sultan Ternate yang ke-48.

Setelah menyantap sepiring nasi kuning yang terkenal lezat di sekitar situ, saya berjalan santai menuju Bolulu Madehe. Dalam bahasa lokal, Bolulu berarti bulat atau lingkaran. Sedangkan Madehe berarti ujung atau tanjung.

Dua perangkat adat Kesultanan Ternate membawa alat musik tradisional yang akan digunakan di atas kapal. (Foto: Rizal Syam/cermat)

Pemerhati sejarah dan budaya Ternate, Busranto Abdullatif Doa, dalam salah satu esainya di Harian Malut Post, menjelaskan bahwa dulunya, kawasan Bolulu Madehe ini sangat vital bagi Kesultanan Ternate. Sebab di sinilah gerbang utama kesultanan terletak.

"Hampir semua kontak perhubungan kesultanan dengan wilayah seberang menggunakan dermaga ini," tulis Busranto. Di lokasi ini pula, rombongan Kesultanan Tidore kerap singgah ketika menggelar ritual adat Lufu Kie yang konsepnya nyaris sama dengan ritual Kololi Kie Mote Ngolo di Ternate.

ADVERTISEMENT

Di arah timur, matahari sudah mulai tinggi. Kilaunya berpantul pada permukaan laut, menghasilkan kerlip cahaya bergelombang. Di ujung Dodoku Mari (jembatan batu), tampak dua kapal sedang bersandar. Lengkap dengan umbul-umbul yang terpasang di setiap sisinya.

Umbul-umbul yang terdiri dari bendera kesultanan dan daun kelapa yang masih muda menghisasi kapal peserta ritual Kololi Kie Mote Ngolo atau mengelilingi gunung/kampung melalui jalur laut. (Foto: Olis/cermat)

Saya mempercepat langkah. Namun ketika sampai di dermaga tersebut, langkah saya melambat. Konstruksi dermaga itu memaksa orang harus berhati-hati. Salah menginjak bisa berakibat fatal.

Seperti biasanya, dalam setiap gelaran Legu Gam, Kesultanan Ternate melaksanakan salah satu ritual bernama Kololi Kie Mote Ngolo, yang secara harfiah berarti mengelilingi gunung lewat laut. Tak jelas sejak kapan ritual Kololi Kie ini mulai dilakukan.

Menurut Busranto, Kololi Kie Mote Ngolo adalah bentuk napak tilas terhadap kedatangan Maulana Sayyidinaa Syekh Djaffar Shaddiq, sosok mashyur dalam legenda awal-mula Ternate.

Kondisi papan dermaga Dodoku Mari yang mulai rusak. (Foto: Rizal Syam/cermat)

Konon, ketika hendak menginjakkan kaki di pesisir Gamalama, Djaffar Shaddiq mengelilingi pulau tersebut untuk memastikan situasi dan juga mencari tempat untuk berlabuh.

ADVERTISEMENT

Sekitar setengah jam kemudian, para bala kusu se kano-kano (perangkat adat Kesultanan Ternate) sibuk mempersiapkan segala sesuatu.

Tepat pukul 08.00, kapal yang saya tumpangi menjauh dari bibir dermaga, berlabuh di lepas pantai, sembari menunggu para petinggi kesultanan menaiki Oti Juanga; sebutan untuk kapal utama dalam Kololi Kie Mote Ngolo.

Sejumlah perangkat adat dan para imam Kesultanan Ternate di atas Oti Juanga atau kapal utama dalam ritual Kololi Kie Mote Ngolo. (Foto: Olis/cermat)

Kololi Kie Mote Ngolo dibuka dengan pembacaan doa di tepi dermaga. Dalam ritual kali ini, pihak kesultanan menggunakan 3 kapal penangkap ikan cakalang serta 4 kapal berjenis long-boat.

Sebelum mengelilingi Pulau Ternate, seluruh kapal melakukan tiga putaran di lepas pantai dermaga. Dalam artikel berjudul Ritual Kololi Kie di Ternate, Busranto mengemukakan, dalam setiap putaran tersebut dilakukan pembacaan doa.

ADVERTISEMENT

Setelah itu, rombongan kapal kemudian mulai menyusuri pesisir Ternate, membelah ombak ke arah utara. Riuh tetabuhan mulai terdengar di atas geladak. Nyanyian meluncur indah dari mulut para tetua. Eeee….. Kololi Kieeee…. Mote Ngolo eeee…

Seorang wanita paruh baya tiba-tiba bangkit dari duduknya. Entah karena hendak menghilangkan mabuk laut, atau tak tahan mendengar ritme musik. Tubuhnya lantas bergoyang kesana-kemari, kakinya menghentak-hentak lantai kapal. Nyanyian, hentakan, dan suara gemuruh mesin bersatu-padu. Terik matahari kian terasa. Keringat mulai bercucuran.

Di atas geladak kapal, para perangkat adat Kesultanan Ternate melakukan nyanyian tradisional. (Foto: Rizal Syam)

Beruntung, hari itu angin begitu bersahabat. Tak terlalu kencang, namun tak lantas padam. "Kami kuwatir angin terlalu kencang, tapi Alhamdulillah semua lancar," ucap Panglima Armada Laut atau disebut Kapita Lao Kesultanan Ternate, Ayhar Dano Basir.

ADVERTISEMENT

Di lepas pantai Dufa-dufa, nakhoda mengendurkan gas. Nyanyian berhenti, juga tabuhan tifa. Di atas kapal utama dilakukan pembacaan doa serta penaburan irisan daun pondak (pandan) ke laut. Persis seperti proses ziarah makam.

Salah satu tujuan dalam ritual Kololi Kie Mote Ngolo ini adalah menziarahi makam, atau oleh penduduk lokal di Ternate, disebut jere. Makam atau jere ini sangat dikeramatkan. Keberadaannya terletak di beberapa titik di Pulau Ternate. "Sebenarnya jumlah keramat itu banyak sekali di pulau ini, cuma kami tak singgahi semua," kata Ayhar.

Dalam ritual kali ini, setidaknya ada 12 titik pemberhentian. "Doa-doa yang dibacakan pada tiap pos tempat keramat adalah doa ‘Akrim naa’ yang disambung dengan lafadz Allahummaj al naa yaa maulaana alaika dzaa kiriin. Kemudian dilanjutkan dengan doa tolak bala," tulis Busranto.

ADVERTISEMENT

Setelah beberapa kali pemberhentian, armada kapal berhenti di pesisir pantai Kelurahan Rua. Masyarakat Ternate mengenal kawasan itu dengan sebutan Ake Rica. Ada sebuah sumber air yang letaknya tak jauh dari bibir pantai. Di lokasi inilah konon Djaffar Shaddiq memilih untuk menepi.

Rombongan armada melakukan putaran kecil di lepas pantai Ake Rica, Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate. (Foto: Rizal Syam/cermat)

Bahkan, di sini pula kisah tentang pertemuan antara Djaffar Shaddiq dengan Nur Sifa, satu dari tujuh bidadari bermula. Pada ritual Kololi Kie Mote Ngolo sebelumnya, tiap kali sampai di lokasi ini, armada kapal akan berlabuh. Sultan dan para pembesar akan turun ke pantai, untuk menggelar upacara adat Joko Kaha (injak tanah).

Saat itu, Sultan dan segenap peserta ritual akan disuguhi sejumlah makanan adat. Prosesi menyantap makanan ini diiringi musik tradisional. Namun, prosesi tersebut tak dilakukan pada ritual kali ini. Armada hanya melakukan putaran sebanyak tiga kali, lalu melanjutkan perjalanan.

ADVERTISEMENT

Hyang Surya berada sejajar di atas kepala tatkala rombongan kapal mulai memasuki pesisir pantai Kastela. Seperti biasa, doa dipanjatkan. Di sini setidaknya terdapat dua alasan, kenapa rombongan berhenti.

Pertama; karena tak jauh dari bibir pantai terdapat sebuah benteng bernama Gam Lamo. Dulu, di benteng inilah Sultan Khairun menemukan ajalnya setelah ditusuk oleh Antonio Pimental atas perintah Gubernur de Mesquita.

Kedua; di bagian atas Kastela, tepatnya di punggung bukit Gunung Gamalama, terletak sebuah kampung tua bernama Foramadiahi. Di situ terdapat sebuah makam dari sosok mashyur kesultanan, anak dari Khairun Jamil. Babullah Datu Sjah namanya.

Selepas dari situ, rombongan kemudian menyusuri selat antara Ternate dan Tidore. Dulunya, selat ini menjadi lokasi pertempuran kedua kesultanan yang masing-masing dibekingi Spanyol dan Portugis.

Kepala Soa. Di setiap kapal dipimpin oleh seorang Kepala Soa. Keberadaannya harus berada di haluan kapal. (Foto: Rizal Syam/cermat)

Pemberhentian terakhir berada di lepas pantai Kelurahan Bastiong. Di situ ada sebuah jere bernama Talangame. Sekitar pukul 13.00 WIT, armada kapal sampai di titik awal keberangkatan. Total mengelilingi Pulau Ternate dalam ritual ini, membutuhkan waktu sekitar 5 jam.

ADVERTISEMENT

Dalam khazanah kepercayaan lokal, gunung seringkali tak sekadar bagian dari permukaan bumi yang menonjol atau berbentuk meruncing. Jauh dari itu, gunung adalah lambang dari sebuah kekuatan.

Di beberapa kelompok masyarakat, gunung dipandang sebagai sesuatu yang begitu sakral, penuh dengan mitos. Tak terkecuali dengan masyarakat Ternate. Ritual seperti ini bukan hanya terjadi di Ternate saja, tapi juga terdapat di Kesultanan Tidore dengan sebutan Lufu Kie.

Perangkat adat Kesultanan Ternate dalam ritual Kololi Kie Mote Ngolo. (Foto: Rizal Syam/cermat)

Ayhar bilang, ritual Kololi Kie Mote Ngolo ini merupakan sebuah bentuk penghormatan terhadap alam. "Ini sebenarnya kerja alam. Bahwa dengan Kololi Kie ini, kita mendoakan negeri. Agar Maluku Utara bisa terhindar dari marabahaya," jelasnya.

Satu hal yang menarik dituturkan Ayhar, bahwa pada tahun 2006 silam, sebelum bencana tsunami menghantam bumi Aceh pagi itu, mendiang Sultan Mudaffar Sjah II tiba-tiba memerintahkan para perangkat adat untuk melakukan Kololi Kie. "Saat kami lapor bahwa sudah melakukan perintahnya, ternyata kami tahu bencana terjadi di Aceh," tutupnya.

ADVERTISEMENT

---

Rizal Syam

Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan