Bola & Sports
16 September 2020 19:37

Problem & Solusi bagi Timnas U-19 vs Qatar: Dari Duel Udara Hingga Mental

Aksi Timnas U-19 menghadapi Arab Saudi U-19. Foto: Dok. PSSI

Ada banyak pekerjaan rumah yang mesti diperbaiki Timnas U-19 Indonesia. Jelang keikutsertaan di ajang Piala Asia U-19 dan Piala Dunia U-20 2021 mendatang, Shin Tae-yong masih terus mencari formula terbaik.

ADVERTISEMENT

Saat kali pertama menangani Timnas U-19, Shin sudah geleng-geleng kepala melihat kondisi fisik para pemain. Sosok asal Korea Selatan ini tak ragu bilang bahwa fisik para pemain hanya mampu bermain maksimal selama 45 menit.

Pernyataan Shin memang ada benarnya. Saat tim pelatih Timnas U-19 memberikan menu latihan fisik di sesi pemusatan latihan, nyaris seluruh pemain kewalahan. Bahkan dalam sebuah pernyataan via Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, pemain sampai pingsan.

Di sesi latihan, Shin memang menitikberatkan pada latihan fisik. Pelatih 50 tahun itu bilang, fisik yang prima akan membantu pemain mengaplikasikan taktik dengan baik.

Sejauh ini, Shin memang belum memberikan menu latihan taktik. Dia bilang, akan bertahap. Dan itu sudah diaplikasikan di Friendly Tournament Kroasia saat jumpa Bulgaria, tuan rumah Kroasia, dan Arab Saudi.

ADVERTISEMENT

Hasilnya memang sudah ditebak. Pemain masih berkutat di masalah fisik. Pada laga kontra Bulgaria, contohnya.

Potret Timnas U-19 menghadapi Bulgaria U-19. Foto: Dok. PSSI

Di laga yang berkesudahan tiga gol tanpa balas tersebut, Timnas U-19 mesti bertempur dengan dua persoalan: Fisik plus tekanan hebat para pemain Bulgaria.

Ketahanan fisik pemain di 45 menit awal memang cukup menjanjikan. Sebab, tak ada gol yang tercipta dan para pemain mampu tak menahan gempuran-gempuran fisik pemain lawan yang di atas rata-rata.

Namun, menginjak menit ke-60, fisik pemain Timnas U-19 mulai kedodoran. Imbasnya, konsentrasi menurun, kesalahan elementer seperti salah umpan dan terlalu cepat hilang bola, jadi pemandangan yang masif terlihat dan dalam 15 menit tiga gol tercipta.

Potret Timnas U-19 menghadapi Bulgaria U-19. Foto: Dok. PSSI

Shin sebetulnya tak mempermasalahkan soal menang-kalah di laga tersebut. Satu yang disorotnya lagi-lagi adalah masalah fisik.

ADVERTISEMENT

''Kami tak masalah soal hasilnya. Pemain setidaknya sudah menunjukkan kerja keras mereka di pertandingan ini. Semuanya butuh proses dan di latihan juga biasakan pemain dengan intensitas tinggi,'' kata Shin selepas laga kontra Bulgaria.

Nah, pada laga melawan Qatar, kumparan coba kembali menganalisis secara sederhana persoalan Timnas U-19. Memang tak jauh dari persoalan fisik.

Kendati demikian, kami tak hanya mengkritik, melainkan juga melampirkan solusi. Silakan disimak.

Kalah Telak Antisipasi Bola Udara

Pada laga kedua kontra Kroasia, Timnas U-19 kembali tampil menjanjikan di awal-awal babak. Dua peluang tercipta lewat kombinasi umpan-umpan tepi sayap dan menyudahinya dengan eksekusi cut-in side.

Namun demikian, sistem serangan Timnas U-19 tidak mendapat dukungan dari lini kedua. Sebab, saat peluang mentah olah bek lawan, tak ada tekanan lanjutan yang diberikan.

ADVERTISEMENT

Sistem serangan tidak sejalan dengan pertahanan. Sebab, pilihan bermain menyerang sekaligus terbuka membikin lini pertahanan meninggalkan lubang.

Aksi Timnas U-19 menghadapi Arab Saudi U-19. Foto: Dok. PSSI

Sistem itu dimanfaatkan oleh para pemain Kroasia. Gol pertama via sundulan Filip Zrilic, misalnya.

Di titik ini, para pemain bek sayap gagal menutup ruang umpan dan memudahkan para pemain sayap Kroasia melepaskan umpan silang. Di saat yang bersamaan, lewat postur yang tinggi, para pemain Kroasia memenangi duel udara dengan barisan pemain Timnas U-19.

Persoalan lain kemudian hadir. Gol kedua via Arijan Brkovic juga memperlihatkan kurangnya koordinasi di lini pertahanan.

Sebab, saat upaya mengantisipasi Brkovic, empat pemain sekaligus mengepung sang pemain. Alih-alih memenangi duel 4 lawan 1, justru Boras sukses melepaskan sepakan tanpa kawalan.

ADVERTISEMENT

Gol ketiga kemudian kembali hadir via sundulan. Sebanyak 9 pemain Timnas U-19 berada di kotak penalti sendiri dan Kroasia hanya menempatkan 6 pemain yang pada akhirnya sukses menceploskan bola via Marco Boras.

Gagal Antisipasi Situasi Open Play

Empat gol yang tercipta oleh Kroasia di babak kedua hadir via situasi open play. Gol kelima via Bruno Zdunic, lahir kerena lowongnya sisi kiri dan memudahkannya mencetak gol, demikian pula dengan gol keenam dan ketujuh.

Aksi Antonio Marin dan Ivan Brnic lahir karena bermula dari salah umpan pemain Timnas U-19 saat membangun serangan dan disudahi dengan serangan balik plus eksekusi penyelesaian yang ciamik.

Aksi Timnas U-19 menghadapi Arab Saudi U-19. Foto: Dok. PSSI

Dari laga kontra Kroasia tergambarkan bahwa sejumlah kesalahan elementer yang dilakukan para pemain, jadi sebab banyaknya gol yang tercipta. Pertama, kualitas umpan yang buruk, jeleknya koordinasi antar lini, dan ketiga tentu saja fisik dan memengaruhi mental.

ADVERTISEMENT

Memasuki babak kedua, ketika memulai laga dengan kondisi tertinggal defisit tiga gol, fisik pemain sudah mulai kedodoran. Itu dibuktikan dengan tak mampunya para pemain mengantisipasi situasi open play lawan.

Mental Menurun saat Kebobolan

Di laga kontra Bulgaria, mental pemain sebetulnya sudah menunjukkan progres positif. Itu dibuktikan dengan apiknya dalam menerima serangan dan terjangan fisik para pemain lawan.

Hanya saja, saat gol tercipta dalam rentang waktu 15 menit, mental pemain menjadi turun. Hal ini sebetulnya juga dipengaruhi oleh stamina yang sudah terkuras.

Namun, jika melihat laga kedua kontra Kroasia, masalah mental sejatinya sudah hadir saat tuan rumah mencetak gol pembuka. Di titik itu, lantaran jeleknya kordinasi lini belakang, membuat para pemain kehilangan konsentrasi yang berujung kepada gelontoran gol Kroasia.

Timnas U-19 hadapi Bulgaria U-19 dalam pertandingan uji coba di Kroasia. Foto: Dok: PSSI

Saat kontra Arab Saudi di laga pemungkas, mental pemain lagi-lagi mengalami penurunan saat gol tercipta. Sebab, dalam dua kesempatan, lini belakang yang dikomandoi Komang Tri menyebabkan dua penalti lantaran handball.

ADVERTISEMENT

Selain itu, dua gol situasi open play via umpan silang juga membikin mental bertanding jeblok. Hal itu juga ditengarai dengan kedodorannya stamina pemain dalam mengantisipasi serangan balik.

Serangan Balik yang Kurang Efektif

Bicara soal sistem serangan, kudu diakui jika Shin belum sepenuhnya memberikan sentuhan taktikal. Sebab, di tiga laga yang sudah dilalui, para pemain belum mampu menginisasi serangan dengan terpola rapi.

Satu yang menjadi skema utama adalah dari tepi sayap. Dari titik tersebut, pilihan menyudahi dengan cut-inside atau umpan silang, jadi sarana untuk mencetak gol. Untuk poin ini, amat dimaklumi jika serangan Timnas U-19 tak berjalan efektif.

Potret Timnas U-19 menghadapi Bulgaria U-19. Foto: Dok. PSSI

Nah, jelang pertandingan kontra Qatar yang akan tersaji dalam dua kesempatan uji tanding, kumparan coba memberikan evaluasi dan sumbang saran buat permainan Timnas U-19. Berikut beberapa di antaranya:

ADVERTISEMENT

Duel Bola Udara

Jelang laga menghadapi Qatar, Timnas U-19 diprediksi akan minim mendapat serangan bola udara. Sebab, merujuk skema yang digunakan Felix Sanchez Bas selaku juru taktik tim lawan, Qatar menganut pola serangan permainan bola-bola pendek dan dikombinasikan dengan umpan terobosan.

Mengantisipasi Gol via Situasi Open Play

Ada pekerjaan berat yang menanti Timnas U-19 jelang pertemuan dengan Qatar. Sebab, selain memeragakan umpan-umpan pendek dalam membongkar pertahanan lawan, mereka juga melakukan high pressing ketika lawan memegang kendali bola.

Jika Timnas U-19 bermain menunggu, pilihan yang diambil cukup masuk akal. Menumpuk delapan hingga 10 pemain di daerah sendiri jelas akan membikin sistem serangan penguasaan bola Qatar bisa diantisipasi.

Serangan Balik Jadi Kunci Patahkan Sistem Qatar

Layaknya Arab Saudi, Qatar diprediksi akan banyak mendominasi dalam penguasaan bola. Mereka akan sabar dalam membangun serangan, melempar bola dari satu sisi ke sisi lainnya.

ADVERTISEMENT

Jika Timnas U-19 mampu mengorganisir pola bertahan dengan baik, maka lawan akan sangat kesulitan membongkar lini pertahanan. Di sinilah, cela untuk Timnas U-19 terbuka.

Ketika bola berhasil direbut, maka serangan balik melalui sisi sayap bisa menjadi pilihan. Tak hanya itu, dua striker dengan postur tinggi dan besar juga bisa berfungsi sebagai wall pass. Mereka bisa menahan bola sambil menunggu bala bantuan datang.

Aksi Timnas U-19 menghadapi Arab Saudi U-19. Foto: Dok. PSSI

Namun demikian, Timnas U-19 juga mesti taktis. Sebab, jika serangan balik mereka gagal, justru Qatar yang akan membombardir lini belakang lawan.

Hal itu dipicu dengan sistem 4-3-3 yang diterapkan Qatar. Dua pemain di sisi sayap akan jadi tumpuan dalam mencetak gol.

Fisik Prima Akan Tunjang Mental Timnas U-19

Pilihan Shin menitikberatkan fisik memang tak salah. Sebab, saat fisik prima, taktikal akan dijalankan dengan baik. Mental juga sebetulnya sejalan dengan dukungan fisik.

ADVERTISEMENT

Mengantisipasi serangan Qatar memang butuh fisik yang prima selama 90 menit. Nah, melihat persoalan mental pemain Timnas U-19 yang kerap menurun ketika terjadinya gol, ada baiknya serangan balik yang disebutkan tadi kudu efektif sehingga bisa berujung kepada terkoyaknya jala gawang lawan.

***

Read more!

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona.

Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan